Entah apakah tulisan ini boleh begitu subjektif, tetapi izinkanlah aku menjadi demikian. Mengingat sempitnya sudut pandangku, pengamatan ini hanya mampu terhenti dari kacamata seorang mahasiswi baru. Aku berasal dari si hijau tosca—tokoh pertama yang viral setiap tahunnya karena pembahasan yang itu-itu saja: gedung mangkrak. Di balik besarnya ketidaktahuanku tentang perkara ini, mari beralih pada apa yang berhasil kulihat dan kurasakan.

Filsuf dalam buku Berani Tidak Disukai mengatakan bahwa semua persoalan adalah tentang hubungan interpersonal. Dan itu benar adanya. Kalau saja kampus lain juga belum memulai ospeknya, atau anggaplah sama terlambatnya dengan kampus hijau kami, mungkin kami tidak terlalu merasa iri. Karena, di kala mereka bersenang-senang di ospeknya, grup kami justru sepi. Tidak ada informasi, oh mungkin belum. Rupanya informasi yang sampai lebih dulu di layar kami justru dapurnya—dapur mengapa informasi belum sampai, dan katanya kami tak seharusnya tahu itu.

Baca jugaUKT Tidak Sesuai, Mahasiswa Keluhkan Sulitnya Penurunan Golongan UKT

“Katanya online ya, Kak? Kok bisa begitu, Kak?”“Belum ya, nanti diinformasikan lagi.” Terlambat. Salah satu SC dari si merah membeberkan semuanya. Kami tahu penyebabnya. Besar kecewa kami, tak sedikit pula iba kami kepada panitia yang jadi kambing hitam dari semua pertanyaan kami. Sebab, hendak menggaungkan protes pada siapa lagi? Kami gaungkan saja pada yang di depan mata. Entah apa yang selanjutnya terjadi pada dapur itu, dikatakan bahwa ada beberapa acara yang akan dilaksanakan secara langsung. Meski semuanya terjadi dengan terburu-buru, terima kasih aku haturkan atas kerja kerasnya yang bahkan tidak kami ketahui.

Poin kedua, tentu saja, gedung mangkrak. Lagi-lagi kukatakan, aku tidak tahu apa penyebabnya. Tapi, kini aku tahu pembelaannya: “Kami tetap menerima kalian karena pemerataan hak kalian untuk menempuh pendidikan, karena jika tidak, maka kami hanya menerima yang jalur SNBP,” begitu kurang lebih kata-katanya. Disambung, ada perkataannya yang intinya merujuk ke pemaknaan bahwa sukses tidak ditandai dari gedung atau fasilitas yang mewah, tapi dari bagaimana kami belajar dengan tekad yang bulat penuh di tengah kekosongan fasilitas yang seharusnya mereka sediakan.

Logikanya seperti dibalik: kita harus sukses, jangan merengek, jangan menuntut yang tidak ada, karena katanya itu di luar kendali kita. Katanya, lakukan saja apa yang bisa kita lakukan. Padahal, menurut kami si hijau tosca, menuntut hak dasar kami adalah salah satu hal yang bisa kami lakukan. Memperjuangkan itu masuk ke dalam kendali kami, Pak.

Iklan

Poin ketiga. Ishoma. Waktu yang seharusnya bisa diluangkan untuk berhenti dari hiruk-pikuk ketidaksempurnaan dunia untuk menghadap Yang Maha Sempurna. Tempat yang kami duduki dengan sepatu bertali dominan hitam, tas, dan totebag tadi rupanya alas yang sama untuk menghadap Tuhan kami. Perempuan yang sedang tak suci menurut aturan Islam untuk beribadah, disuruh memakan bekalnya di ujung kanan. Sedang yang beribadah diarahkan berbaris mensucikan diri. Yang laki-laki pun dibuat baris, ke parkiran katanya. Terlihat masjid yang jaraknya 20 meter dari pintu keluar kala itu. Satu dari mereka membatin, “kenapa enggak sholat disitu?” Entah sungkan, atau tak sempat, ia menutup pertanyaan itu dengan asumsi, “mungkin ini cara panitia agar kami langsung sholat dalam satu waktu.” Kala itu waktu yang disediakan untuk kami berkisar 35 menit, penyesuaian shalat membuat waktunya molor dan ia makan dalam keadaan yang tidak istirahat. Adrenalin dipicu kuat untuk menghabiskan makanan dalam waktu tersisa enam menit. Begitulah ikhwan mengisi waktu ishomanya.

Dan aku, caraku mengisi waktu ishomaku adalah bertanya sesaat setelah mensucikan diriku. Tahu persis bahwa malu bertanya sesat di jalan, kutanya mereka yang kupikir punya jawabannya. “Maaf, Kak, ini tas dan sepatu yang ditinggalkan perlu digeser atau enggak ya?” Sayangnya, wajah mereka sama bingungnya sepertiku. Diantara kebingungan itu, ingin sekali rasanya aku mengucap kalimat andalan mereka, “dipercepat mas/mba.” Lalu jawabannya: “Shalat saja di tempat yang enggak ada tasnya.” Maka, cara kami tetap menunaikan kewajiban itu adalah bersujud dengan diapit kanan dan kiri oleh sepatu teman seangkatan. Untungnya tak ada kaus kaki yang beraroma.

Baca jugaMarkah Parkir Mobil di UNJ Mengganggu Akses Pejalan Kaki

Oh, rupanya begitu? Kusadari bahwa hierarki birokrat itu sungguh nyata. Di kala atasannya blunder menjawab pertanyaan gedung mangkrak, panitia pun bingung gelagapan atas ketidakpastian. Bukan berniat menyalahkan siapa pun, hanya saja semua titik-titik itu mencapai kesimpulan yang sama, membuatku akhirnya berpikir, oh, rupanya begini.

Tak ada satu pun kata dari tulisan ini yang merujuk pada penyentilan ego. Maka dari itu, besar harapku, dampak dari tulisan ini adalah pemahaman yang merujuk ke kritik membangun dan refleksi yang bisa diperbaiki di kemudian hari.

Ditulis oleh Zweens A. Mahasiswa Baru 2026 UNJ

Tulisan ini merupakan karya terpilih dalam undangan menulis “Maba Bersuara” yang dibuka LPM Didaktika hingga 30 Agustus 2026.