“Setelah mengalami penundaan berkali-kali selama 15 tahun terakhir, akhirnya Kiamat akan dilaksanakan pada besok Senin, 13 Juli 2026,” ucap seorang perempuan pembawa acara, menerangkan berita sore itu dalam segmen Breaking News di layar televisi kantor secara mendadak. “Melalui konferensi pers yang diadakan pada Sabtu pagi, 11 Juli,” ia melanjutkan, “Ketua Pelaksana Kiamat Sedunia Ki Ahmad menyatakan, tahap perencanaan Kiamat sudah seratus persen rampung. Persoalan-persoalan yang telah menjadi hambatan pelaksanaan kegiatan ini sebelumnya, seperti masalah kurangnya anggaran, kendala teknis dan logistik seperti alat-alat pemusnah massal yang tidak memadai, sampai masalah perizinan yang berkelok-kelok, akhirnya dapat terselesaikan dan Kiamat tinggal menunggu jam saja.”
Seketika orang-orang di ruangan kantor berhenti dari pekerjaan mereka masing-masing. Seorang perempuan yang bekerja di bagian pemasaran sebelumnya sudah memakai jaketnya, merangkul tas ranselnya, berpamitan dengan teman-temannya, dan siap untuk pulang, namun ia memutuskan berhenti di depan televisi; seorang pramu kantor yang sudah mulai menyapu lantai-lantai kantor karena sudah masuk waktu pulang berhenti sejenak demi menyimak apa yang disampaikan berita; aku yang masih mencoba menyelesaikan tumpukan kerjaan yang dilempar kepadaku lewat surel yang tiada henti juga ikut penasaran apa yang membuat orang seketika diam memandang televisi. Semua mata di kantor menatap ke layar televisi yang terletak di salah satu bagian atas sisi tembok ruang kantor.
Baca juga: Dilema Pedagang Kantin Blok M di tengah Kenaikan Barang Pokok
Layar televisi menayangkan konferensi pers yang disebutkan. Di situ tampil Sang Ketua Pelaksana Kiamat yang berseloroh menjelaskan pelaksanaan Kiamat yang diadakan dua hari lagi. “Akhirnya, saya sebagai Ketua Pelaksana Kiamat bisa memastikan bahwa kita sedunia akhirnya bisa merasakan Kiamat. Saya juga ingin menyampaikan permohonan maaf atas rangkaian pengunduran selama lima belas tahun terakhir ini karena satu dan lain hal. Ya, intinya kami sudah siapkan semuanya. Kita hanya tinggal perlu menunggu. Mohon doanya agar Kiamat ini berjalan dengan lancar,” tutup Ki Ahmad dalam konferensi persnya, yang dilanjutkannya dengan berdiri meninggalkan panggung seraya berbagai pertanyaaan dan sinar kamera wartawan dilontarkan kepadanya sekaligus tak beraturan.
Aku sebelumnya sedang buru-buru menyelesaikan pekerjaanku yang diberikan langsung oleh Si Bos dalam bentuk banyak dokumen berpuluh-puluh halaman yang mesti diselesaikan malam ini. Jika malam ini belum juga beres diselesaikan, katanya dengan penuh makian, aku akan dikenakan penurunan gaji!
Bagaimana utang-utang orang tuaku yang belum juga lunas? Bayar pakai apa adikku untuk berkuliah pada semester depan? Bagaimana tagihan kredit sepeda motorku yang baru kubayar setengah? Pikiran-pikiran itu menghantuiku seraya jari-jariku mengetik papan tik tanpa henti, takut pekerjaan yang diberikan kepadaku belum juga selesai ketika sampai pada tenggat waktu.
Sebetulnya berbagai pikiran itu bukan pertama kalinya menghantui kepalaku. Selama pengalamanku bekerja di sini, kejadian seperti ini acap kali menimpaku. Di ruang kerja ini, sudah menjadi pemandangan umum ketika Si Bos memberikan seabrek pekerjaan kepada pekerja-pekerja dengan tenggat waktu yang tak masuk akal, seraya memaki dan mengancam tentang penurunan gaji jika tidak selesai tepat waktu. Meskipun demikian, tetap saja aku selalu mengalami perasaan takut setiap itu terjadi kepadaku. Mungkin karena aku tidak tahu lagi harus mendapatkan uang dari mana jika bukan di sini. Sudah selayaknya bukan, aku mengerjakan pekerjaanku sebaik mungkin, lalu Si Bos yang membayarku atas imbalan pekerjaanku? Setidaknya cukup untuk mencicil berbagai tagihan dan untuk bertahan hidup sebulan.
Tetapi, sekarang ini, bukannya aku buru-buru melanjutkan pekerjaanku sebelum tenggat waktu, aku malah melamun sendiri menatap kosong ke arah layar komputerku. Kebimbangan yang aneh seketika hinggap di dalam diriku. Ada perasaan yang tak menentu mondar-mandir di kepalaku. Ada semacam ketakutan serta semacam rasa lega merebak dalam diri ini. Aku tak mengerti kenapa. Adapun pertanyaan-pertanyaan yang tiba-tiba muncul: lalu apa yang terjadi selanjutnya? Bagaimana dengan seluruh tagihanku yang belum lunas? Bagaimana dengan biaya kuliah semester adikku yang belum terbayar? Dan bagaimana pula dengan pekerjaanku sekarang ini? Atau bahkan kenapa juga Kiamat ini begitu mendadak? Dasar pemerintah, bahkan mengabarkan Kiamat pun harus mendadak!
Memang selama lima belas tahun terakhir ini—semenjak aku masih remaja—berita penundaan Kiamat sudah menjadi berita rutin tahunan. Tak terduga olehku tahun ini menjadi tahun Kiamat akan terlaksana. Karena saking seringnya mengalami penundaan, pasti semua orang juga mengira tahun ini akan ada pengumuman penundaan Kiamat lagi. Sial, ternyata Kiamat betul-betul terjadi besok senin.
Dari ekspresi orang-orang di kantor, aku tidak bisa menerka apa yang mereka rasakan atas kabar yang muncul secara tiba-tiba itu. Terdengar percakapan antara dua orang rekan kerjaku dari divisi yang berbeda. “Tak terasa, ya, sudah Kiamat saja.”
Rekannya menimpali, “Ya, mungkin memang sudah waktunya. Harusnya kan, memang sudah terjadi sejak lama, bukan?”
Tak ada yang mengajakku berbicara perihal Kiamat yang akan terjadi dua hari lagi. Lagipula, aku tak mengharapkannya.
Di tengah kegelisahan itu, aku menarik napas panjang dan menenangkan diri sejenak. Tak lama berselang, kuputuskan sebaiknya aku selesaikan pekerjaanku ini terlebih dahulu. Segala gundah itu kusuruh untuk menungguku menyelesaikan berbagai ketikan dan juga klak-klik tetikus. Bagaimanapun, aku tak mau menghadapi makian dan ancaman Si Bos.
Dalam perjalanan pulang, di tengah himpitan orang-orang di dalam kereta, aku lanjut memikirkan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Aku mempertanyakan kenapa aku tak pernah memikirkan tentang hari besar ini sejak dulu dengan serius. Aku berpikir, bukankah sepatutnya aku mulai membangun kehidupan yang layak sejak pertama kali Hari Kiamat diumumkan lima belas tahun yang lalu.
Namun, jika dipikirkan lagi, memang tak mungkin hal itu terjadi. Keadaanku begini-begini saja karena memang sedari awal aku diciptakan di keluarga yang akan begini-begini saja. Orang tuaku tak menyanggupi berbagai keperluan rumah tangganya pada saat itu, yang akhirnya membuat mereka terpaksa berutang sana-sini demi menjaga kehidupan sekeluarga. Bahkan untuk biaya perawatan dan pemakaman Ayah, keluargaku masih harus meminjam uang.
Dan sekarang, sejak sekitar sepuluh tahun lalu, aku terpaksa harus meninggalkan kuliahku karena waktu itu ada kerabat yang menawarkan peluang kerja melalui jalur “orang dalam”. Kata Ibuku waktu itu, itu adalah kesempatan yang tak datang dua kali. Ibu bilang, lebih baik diambil tawaran kerjanya lantaran ia sudah tak sanggup lagi membiayai sekolah Adik.
Dan sekarang Kiamat menjelang dua hari lagi. Kegelisahan muncul di benakku pertama kali mendapatkan kabar itu. Aku merasa ada yang aneh, sangat aneh, tiba-tiba bermukim di dalam diriku. Selama ini aku dedikasikan seluruh waktuku hanya untuk pekerjaanku. Namun, sekarang aku seolah tak tahu harus apa. Biasanya sehabis pulang kerja, setelah membersihkan badan, aku akan terlelap selama sekitar enam jam sampai pada saat aku bangun pagi-pagi untuk berangkat kerja lagi dengan kereta. Itu sudah aku lakukan setiap harinya—kecuali hari minggu—dalam kurang lebih sepuluh tahun terakhir ini.
Dalam kegelisahan ini, aku tak tahu harus berbuat apa dengan kenyataan tak ada lagi hari kerja. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana menghadapi Hari Kiamat yang kian makin dekat.
Sampai di indekos, membersihkan badan, lalu aku berbaring di kasurku. Meski butuh waktu lama untuk terlelap, akhirnya aku pun tertidur dengan membawa serta kegelisahan itu.
Aku tersadar di pagi menjelang siang hari. Karena aku semalam terlelap membawa pikiran-pikiran yang belum tuntas, pikiran yang pertama hinggap di kepalaku sesaat ku tersadar adalah: “Sial, besok sudah Kiamat.”
Aku membuka ponselku. Notifikasi dari grup keluarga muncul di layar. Ternyata beberapa jam yang lalu Ibu mengirimi aku berita tentang Hari Kiamat. Aku menjawab seadanya.
Pagi itu, masih ada sedikit kegelisahan tersisa di dalam diriku. Namun, selebihnya digantikan oleh semacam perasaan lega yang kian menguasai benakku. Entah apa, aku tak pernah merasakan itu sebelumnya. Dan jika pernah, sudah lama sekali mungkin aku tidak merasakannya.
Hari minggu biasanya aku habiskan untuk beristirahat sejenak dari kesibukanku sehari-hari. Inginnya aku bangun agak siang, pergi ke warteg depan jalan untuk makan, lalu aku pulang untuk melanjutkan tidur kembali sampai sore. Namun, tak jarang waktuku yang sebentar itu diambil paksa oleh Si Bos. Ia sekonyong-konyong memberiku pesan daring agar kerjaan ini-itu segera diselesaikan. Tentu saja, seperti biasa, dengan bumbu umpatan dan makian.
Kini, tak ada lagi teks pesan makian dari Si Bos, tak ada lagi gangguan-gangguan yang biasanya mengusik mingguku. Makin lama aku melamun, muncul sebuah kesadaran pada diriku bahwa tak ada lagi tanggungan yang aku harus aku lunasi seperti sebelumnya. Dunia menjelang usai. Aku sadar, betapa bodoh bagiku jika tetap harus memikirkan berbagai persoalan yang menyusahkanku.
Aku telah menyadari satu hal: tak perlu ada lagi yang perlu ku khawatirkan, tak perlu lagi aku mengecek ponselku tiap lima menit takut jika seketika Si Bos mengirim pesan, tak perlu lagi aku khawatir akan waktuku yang terampas, tak perlu ada lagi aku gundah setiap kali Ibu menanyakan gajiku, tak perlu lagi aku cemas karena senin pagi yang menanti kejam.
Baca juga: Perampasan Ruang Hidup dalam Revitalisasi Rawa Pening
Aku tak tahu apakah ini yang disebut tentang kebebasan, namun aku merasa sangat lega, aku seperti pertama kalinya memiliki diriku sendiri, memiliki kehidupanku sendiri. Aku bisa melakukan apa saja yang aku mau karena tak ada lagi yang perlu aku khawatirkan. Aku bisa membeli hal yang aku inginkan karena sekarang tak ada lagi tagihan yang menagih setiap sisa uangku. Aku mungkin bisa membeli cokelat impor yang selalu diidamkan ku sejak kecil namun belum bisa mencobanya karena terlalu mahal, atau aku bisa mencoba makanan lainnya selain makanan di warteg yang selalu membuatku penasaran dengan rasanya, tapi sekali lagi, aku tak ada uang untuk itu selama ini. Atau entahlah. Aku terlalu malas untuk beranjak. Lagipula, mungkin semua toko tutup. Karena karyawan bodoh mana yang tetap bekerja di satu hari menjelang Kiamat? Memikirkan itu semua membuatku merasa ingin melanjutkan tidur saja, entah sampai kapan, mungkin sampai Kiamat.
Ya, lebih baik aku tidur. Semua ini terlalu repot untuk dipikirkan di beberapa jam sebelum Kiamat. Lagipula, esok segalanya sudah usai.
Keesokan harinya aku tersadar dari tidur panjangku. Sudah pagi saja, pikirku. Aku mengira-ngira sekarang sudah pukul sepuluh. Aku melirik ke jendela, belum juga Kiamat ternyata. Mungkin masih bersiap-siap, aku tak tahu. Aku tak peduli. Lebih baik aku melanjutkan tidurku lagi sampai Kiamat.
Selagi memejamkan mata kembali untuk tidur, aku berpikir, betapa menakjubkan sekarang ini. Akhirnya, senin menjadi milikku. Aku lanjut tidur.
Penulis: Ramadhan Alderisyah

