TW // Implied grooming

Ketika Mama menatapku untuk 4383 kalinya setelah aku keluar dari perut Mama, aku menyadari di bagian celana selutut yang kupakai—biru celana yang kupakai menjadi gelap merah.

Perutku sakit, aduh! Apa ini akhir cerita ketika aku mati saja, ya? Kepalaku pening dan seisi kelas saling melempar candaan ke sana kemari dan ke sana dan semuanya jadi kabur. Fakta jadi simpang siur, guru di depan rasanya mau ku bungkam saja mulutnya dengan lakban hitam.

Ketika aku berjalan dari sekolah ke rumah, gelap merah di celana biru yang kupakai tidak nampak—merahnya menempel di rok panjang setumit yang ku kenakan setiap Senin, Selasa, Kamis. Wah … anak-anak dari pendidikan dasar di negara yang tidak berbunga-bunga, mungkin bisa dikatakan demikian.

“Kenapa, ya? Apa karena aku pencet dahimu kemarin jadi itu keluar?” Anak perempuan yang tingginya lebih tinggi dariku sedikit berujar.

Baca jugaPerebutan Ruang Atas Nama Transisi Energi

Iklan

Aku juga mengendik, tanganku memegangi perutku yang rasanya dicabik-cabik. Aduh, aduh!! Ya Tuhan, kalau begini jadi perempuan, seharusnya aku jadi laki-laki saja. Tinggal sunat ujung untuk satu dan selamanya bukannya berulang-ulang nantinya.

Berulang-ulang! Aku akan mengalaminya berulang-ulang!

“Kan aku bilang jangan pencet dahiku!” Aku protes tak karuan. Jadi perempuan itu mengerikan, aku tidak suka rasa pening dan rasa sakitnya.

Orang dewasa akan dengan gampang menyebutkannya reaksi biologis seperti Pak Nano ketika semua murid perempuannya saling menekan dahi hingga ia harus mengotori jok belakang motornya dengan darah-darah kebebasan ketika mengantar pulang-pergi.

Itu reaksi biologis, kalau secara logika, mungkin memang itu ada masanya. Tapi, untuk anak-anak seperti kami yang baru 4000 hari menjejaki bumi, logika itu sesederhana siapa yang hari merah datang duluan—tekan dahi—menstruasi.

“Ah … gak mau, gak mau! Ulangi!! Aku bakal jadi pendosa, aku gak mau berdosa!” Aku meraung-raung, ingat bahwa kata ustad, perempuan akan terus berdosa selama hidupnya.

Aku tidak tahu kapan aku mati, tapi, masa’ aku juga harus disuguhi dengan dosa seumur hidupku?! Aku pun, tidak tahu apakah nantinya aku jadi orang jahat karenanya sebisa mungkin, dosanya tunda dulu sampai rok merah ini jadi biru. Bagus-bagus kalau abu!

Aku memeluk lututku, bayanganku adalah aku dijilat bara api neraka karena aku sudah tidak suci, ada yang keluar dari tubuhku dan aku tidak bisa menyebutkannya dengan sebutan reaksi biologis khas LKS Biologi.

“Tapi, nanti kamu bisa libur sholat dan ngaji,” sahutnya dengan bibir menyeruput es berwarna merah dari sedotan dan plastik yang ia cengkram dengan tangannya. “Bagus, toh, kamu ‘kan emang gak suka mengaji.”

Aku melempar pandangan gusarku padanya. “Tapi, aku suka telur gulungnya.”

Iklan

“Kamu bisa beli telur gulung tanpa harus mengaji,” sahutnya lagi.

“Kamu tuh, betulan gak ngerti ya?”

“Ini hari pertama kamu,” katanya dengan pongah. Diantara yang lain, dia lah pemencet jidat terbaik—korbannya hampir seluruh anak kelas 6 dan aku bagiannya. “Kalau perempuan itu pendosa karena berdarah, ya sudah, jadi janggol1 aja sekalian.”

Alisku bertautan, “Janggol itu apa?” tanyaku.

“Hah? Gak tau.” Dia mengendik. “Tetanggaku bilang karena dia tahu aku menstruasi. Katanya nanti aku main-main sama anak laki-laki bahkan suaminya.”

Aku mengernyit jijik. Sebentar lagi, mungkin jika mereka tahu di balik pakaianku aku berwarna senada rok merahku aku pun pasti disebut sama. Wanita yang berdarah itu berdosa, karena mereka bilang pengampunan Tuhan sudah berhenti dan nantinya, tidak boleh ada kesalahan lagi untuk diampuni.

Aduh! Aduh lagi! Kenapa Tuhan menciptakan perempuan jika sebatas itu keinginannya? Maha pengasih apanya! Kalau memang begitu aturannya lebih baik menciptakan laki-laki sebanyak-banyaknya dan suruh mereka berkembang biak sendiri, saling satu menyatu bertumpuk-tumpuk seperti ikan-ikan kemudian bertelur banyak-banyak. Karena meskipun mereka juga merasakan sakit, tapi mereka tidak akan jadi pendosa, bukan?

“Kenapa kamu bilang kata yang kamu gak tau?” Aku mendumal kecil, masih memegangi perutku.

Dia mendengus sebal. “Karena aku dibilang main-main sama suaminya! Aku benci laki-laki!”

“Kalau gak ada laki-laki, kita apa, dong?” tanyaku. “Hawa ‘kan ada karena Adam.”

Dosanya Adam. Aku terdiam untuk beberapa detik seketika lidahku kelu. Ah … ternyata kelahiran perempuan tidak pernah terlepas dari laki-laki. Dosanya laki-laki. Apa itu alasan kenapa jika perempuan kelihatan rambut sehelai Bapaknya masuk neraka? Apa itu alasan ketika besar nanti lebih baik mengeluarkan anak banyak-banyak dibanding memasukkan buku ke otak untuk dilumat? Karena perempuan itu lahir dari dosa, aku pun sudah berdosa dari lahir karena aku adalah Hawa.

Aku benci tubuh ini, aku benci rasanya sesuatu yang meremat-remat yang katanya dinding rahimku dari dalam hingga luruh dan keluar untuk diserap sesuatu yang Mama berikan padaku tadi pagi—Aku baru belajar fungsinya, tipis, empuk, tidak enak—dan aku tidak menyukainya sama sekali. Uang komik seribuanku harus dibelikan pembalut? Ha! Malas! Memangnya tidak boleh ya berkeliaran tanpa itu? Toh, benar kata ‘dia’ mau di manapun tetap pendosa, lahir dari dosa, sekalian menakut-nakuti ustad saja kalau ini lho darah yang ditakuti-takutnya itu.

“Kamu juga nanti berdarah kalau ketemu laki-laki. Kata Mamang2, kalau perempuan suci nanti keluar darahnya,” kata dia lagi.

“Darimana Mamang tau perempuan suci, kan dia bukan perempuan?” tanyaku, jadi sebal. Rasanya mau mencekiknya siapapun mamang yang disebutkan karena sok tahu.

“Lho? Katamu tadi, kalau gak ada laki-laki, kita apa? Ya itu jawabannya, laki-laki yang lebih tahu kita suci atau nggak,” katanya lagi. “Kata Mamang, aku suci soalnya berdarah.”

Aku menghela napas, panjaaaaaaaaang sekali. Ujung-ujungnya pun, hidupku bakal jadi milik laki-laki. Nama pemberian ayahku, nantinya akan berganti jadi “Nyonya (laki-laki)”. Aduh, tidak asyik. Perutku masih bergejolak, kakiku mengayun-ayun di bangku sekolahku, meredakan rasa sakit.

“Tapi selain jadi pendosa, perempuan setelah berdarah bisa jadi ibu,” dia berujar dan kali ini mengunyah Malkist coklatnya. “Nanti ada tumbuh di perutmu tapi bukan cacing pita.”

“Bayi?” Oh, tentu saudara-saudari! Aku kelas 6, mana mungkin aku tidak tahu soal bayi! Meskipun Mama masih bersikeras kalau aku dibuat di oven dari adonan Apa.

Dia menganggukkan kepalanya, aku melihatnya meraba perutnya dan menepuk-nepuk kecil. “Perempuan yang berdarah, itu berarti nantinya bisa tumbuh bayi di dalam sini. Itu penebusan dosa buat sembilan bulan, ‘kan?”

Aku menghela napas. “Apa, ya, kamu tanya itu ke orang yang baru pertama kali,” ujarku setengah sewot.

Dia malah tertawa kecil. “Itu jadi hiburan buat kamu.” Dia mengangkat-angkat rok merahnya. “Kalau berdarah dan udah terlanjur jadi pendosa kayak kata mereka, setidaknya kita punya penebusan.”

“Laki-laki cuma harus sholat Jum’at 40 hari,” ujarku.

Dia mulai merengut sebal, mungkin karena aku selalu membanding-bandingkan seluruh pengalaman dengan laki-laki. Tapi … aku hanya IRI! Tubuhku ini mudah layu, mudah keriput, mudah dibuang sedangkan mereka nantinya akan selalu berjaya untuk melakukan apapun. Tubuhku ini melarangku ini itu, tubuh mereka pasti meneriakkan ‘yes do, yes do’ sebal ….

Aku memeluk perutku gusar lagi, makan permen berulang tidak meredakan sakit perutku malah membuat gigiku pegal mengunyah. Selain darah dan bayi, apa lagi yang akan keluar dari tubuh perempuan—dari tubuhku yang sudah tidak bisa lagi diampuni dosanya ini?
Apapun jawabannya, aku tahu tidak akan membuatku senang. Seluruh logika yang ingin aku dengarkan adalah logika sesederhana semuanya adalah hal yang menyenangkan. Tapi 4383 aku lahir saja, aku sudah menebak semua yang kulakukan tidak akan menyenangkan sama sekali.

“Jangan dekat-dekat Mamang mu lagi,” bisikku kecil padanya. “Dia orang aneh.”

“Dia orang baik,” katanya.

“Kamu benci laki-laki,” sahutku.

Dia tidak menjawab hanya kembali mengambil jatah permenku di atas meja dan meraup ya banyak-banyak dan menelannya sekali teguk seperti dia meneguk obat kecil, kadang, di pikiranku aku ingin dia tersedak karena dia yang mencubit keningku hingga akhirnya aku berdarah di bawah sana.

Aku pendendam.

Aku sangat. Sangat. Sangat pendendam.

“Kamu juga bakal tahu nanti, kalau ini bukan hari pertama kamu lagi,” katanya. “Takdirnya perempuan ya, memberi kehidupan. Gitu kan?”

Aku hanya mendengus padanya, tanganku masih memeluk perutku—atau mungkin sekarang tubuhku senada dengan dia tidak bicara lagi di sebelahku dan aku merasakan aliran darah keluar dari tubuhku sepersekian seken aku duduk di atas bangku ini. Aku memejamkan mata, merapal mantra, mengulangi episode Scan2Go ketika aku melihat Shiro.

Katanya, aku akan tahu ketika ini bukan hari pertamaku dan aku rasanya kesal. Sangat! Kenapa aku harus menunggu bukan hari pertamaku untuk tahu kenapa aku harus berdarah? Apakah aku akan mengeluarkan bayi juga di tempat yang sama? Tidak, itu tidak muat.

Aku hidup dengan minggu- minggu penuh darah ketika rok ku berganti dari merah menjadi biru, aku mendengar banyak kabar katanya tubuh dia mengeluarkan kehidupan yang bentuknya laki-laki di awal seharusnya roknya juga berganti jadi biru. Tapi, aku tidak lagi memprotes, aku tidak lagi mendebatnya akan kenapa dia harus mencubit jidatku. Aku berhenti bicara pada siapapun yang pernah ku percayai dengan banyak logika mistika.

Langkahku cepat-cepat, rok biru setumit ku bergoyang-goyang senada dengan langkahku berjongkok setelah mengunci pintu kamar mandi. Meraih gayung, mengambil air yang ku lihat bukanlah aku bisa melahirkan bayi seperti dia. Tapi, akhirnya aku percaya fakta setiap sendiku adalah kehidupan. Pendosa yang tidak diampuni karena memberi kehidupan.

Baca jugaKetergantungan Pada Tuhan Baru Sekolah

Aku melihat sirip berwarna merah berenang-renang mengikuti alur air sebelum menghilang ke dalam lubang kecil saluran air. Ia berenang leluasa diikuti sirip-sirip merah kecil lainnya yang bentuknya tidak jelas tapi ada di sana. Ah, serpihan rahimku, kehidupan yang katanya bisa menghasilkan manusia lainnya di dalam perutku.

Aku jadi bertanya-tanya kapan dia tahu kalau ini akan terjadi, kalau serpihan yang seharusnya masih ia lihat berubah menjadi manusia kerdil? Di tengah tubuhku yang sering kukeluhkan, aku melihat ikan cupang merah berlomba-lomba menghilang di celah kecil saluran air … aku tidak mau dosaku harus ditebus dengan kehidupan lain. Aku tidak ingin ikan-ikan cupang merahku tidak keluar lagi dan menjadi bayi.

Sampai aku mati.

Penulis: Lovina Dita

1 Pelacur dalam bahasa Sunda

2 Paman dalam bahasa Sunda