Ketika gilirannya tiba, seorang anggota Komisi Disiplin (Komdis) mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna hitam dari dalam tas Oneng. Botol itu diangkat sebentar ke udara, sebelum diletakkan di atas meja geledah. Sejumlah mahasiswa baru yang sedang mengantre di belakangnya pun ikut menoleh.
“Kamu bawa skincare?”
Oneng langsung mengenali botol tersebut. Itu memang wadah skincare, tetapi isinya bukan lagi cairan perawatan kulit, melainkan sawit jelantah yang diminta panitia untuk penugasan masa orientasi hari itu.
“Siap bukan, Kak. Izin berbicara, itu sebenarnya—”
“Sudah hari ketiga dan kamu masih bawa barang yang nggak sesuai tata tertib. Enggak dibaca ya buku panduannya? ”
Baca juga: Ajukan Keringanan UKT Ditolak Berulang, Mahasiswa Kelimpungan Mencari Pendapatan
Pertanyaan itu seketika membuat jantung Oneng berdegup kencang. Rasa takut langsung menguasai dirinya, padahal ia tahu persis dirinya sedang tidak melakukan kesalahan apa pun. Dengan sekuat tenaga, ia mencoba untuk mengeluarkan suara dari tenggorokannya.
“Itu isinya sawit jelantah, Kak”
Namun, ucapan Oneng kalah cepat dengan gerakan Komdis yang langsung membalikkan badan. Komdis itu segera memindahkan botol tersebut ke tumpukan barang sitaan. Kemudian, dari saku jas hijaunya itu, ia mengeluarkan ponsel lalu mengarahkan kameranya ke dada Oneng. Tanpa sepatah kata, ia memotret nametag Oneng begitu saja.
Tidak ada yang mau membuka tutup botolnya. Tidak ada yang ingin memeriksa isinya. Bahkan, tidak ada tawaran bagi Oneng untuk mengulang penjelasannya. Pemeriksaan berlanjut begitu saja ke peserta berikutnya, seolah hakim telah menjatuhkan vonis tanpa memberi kesempatan bagi terdakwa untuk membela diri.
Dari tempatnya berdiri, Oneng bisa melihat botol hitam itu tergeletak di atas meja. Benda itu tampak asing, menjadi satu-satunya produk skincare di antara tumpukan barang sitaan lainnya. Apa daya, Oneng tidak punya pilihan dan kembali ke barisan untuk melanjutkan kegiatan.
Sepanjang kegiatan orientasi berlangsung, pikirannya terus melayang pada botol tersebut. Bukan karena benda itu sangat berharga bagi dirinya. Hal yang mengganggunya adalah betapa cepat sebuah keputusan dibuat secara sepihak. Tak ada satu pun panitia yang merasa janggal mengapa hanya dirinya yang membawa benda semacam itu.
Beberapa hari berlalu. Awalnya Oneng mengira itu hanyalah salah paham yang kebetulan menimpa dirinya. Namun, berbagai keluhan serupa mulai sampai ke telinganya.
Seorang kawan mengeluh bahwa ia dituduh memanggil MC dengan lancang saat acara sedang berlangsung. Padahal, saat itu suasana sedang ramai karena sesi ice breaking, dan dirinya sebenarnya hanya sedang memanggil temannya sendiri dengan suara yang agak keras.
Sialnya, tindakan itu disalahartikan oleh panitia lain yang mengira ia sedang tidak sopan kepada MC. Meski sudah dijelaskan bahwa panggilan tersebut ditujukan untuk temannya, sang Komdis tetap teguh pada persepsinya dan menolak peduli pada konteks yang sebenarnya.
Ada pula kawan lain yang datang menghampiri Oneng sambil memasang wajah frustasi.
“Eh Neng, kemarin gue dikatain sama Komdis gara-gara telat ngumpulin tugas pas mati lampu. Kata mereka gue-nya aja yang nggak mau usaha dulu,” keluh kawannya itu dengan menggebu-gebu.
“Penjelasan kita nih emang kagak penting, Neng, bagi mereka. Kerjaan mereka tuh cuma bisa ngegampangin masalah. Bukan dia yang ngejalanin, tapi seolah-olah solusi yang mereka pikirkan adalah yang paling tepat. Kagak ada pengertiannya pisan. Yang ada malah tetep dikasih poin pelanggaran,”
Mendengar cerita kawan-kawannya, Oneng melihat ada sebuah pola. Di mana hampir setiap keluhan yang ia dengar memiliki bentuk yang berbeda, tetapi ujungnya selalu sama. Pihak satu ingin menjelaskan. Pihak satunya lagi merasa tidak perlu mendengarkan.
Hari penutupan masa orientasi akhirnya tiba.
Menjelang waktu pulang, suasana yang semula menyenangkan seketika berubah mencekam. Sejumlah Komdis melangkah maju ke depan, membuat hawa ruangan mendadak terasa dingin dan menegangkan. Ketika mereka mulai memanggil nama-nama peserta untuk tetap tinggal, Oneng sudah memiliki firasat buruk.
Benar saja, namanya menggema di ruangan itu.
Pintu ditutup begitu rapat. Tidak ada lagi orang lain di dalam ruangan itu selain anggota Komdis dan para peserta yang tertahan. Saat itu juga, kehampaan dalam ruangan itu langsung runtuh oleh riuh teriakan dan bentakan.
Tepat di hadapan Oneng, berdiri Komdis yang tempo hari menyita barangnya. Kini, Komdis tersebut sedang sibuk meluapkan amarah dengan membentak dan memaksa seorang peserta di sebelah Oneng untuk mengakui kesalahan, tanpa memberi celah sedikitpun bagi anak itu untuk membela diri.
Namun, fokus Oneng seketika perlahan kabur. Suara bentakan di sekitarnya mendadak redup, tergantikan oleh rekaman memori saat barangnya disita yang kembali berputar di kepalanya.
Saat itu, Oneng menyadari sesuatu. Yang paling menakutkan ternyata bukanlah bentakan, hukuman, nilai jelek, ataupun poin pelanggaran. Yang paling menakutkan adalah ketika seseorang merasa dirinya sudah cukup benar sehingga tak lagi merasa perlu mendengarkan suara orang lain.
Pikiran Oneng seketika menyisakan tiga pertanyaan besar yang mengusik kepalanya.
Mengapa ya, ada orang yang bisa begitu yakin bahwa dirinya benar?
Begitu yakin, sampai tidak merasa perlu mendengar pendapat orang lain hingga selesai?
Baca juga: Salah Kaprah Etiket dalam Balutan Diksi Etika
Juga, mengapa ada orang yang begitu terburu-buru dalam menilai, tetapi begitu enggan untuk memahaminya terlebih dahulu?
Kok bisa, ya?
Penulis: Audy Gemaria

