Rafi, mahasiswa yatim piatu UNJ terpaksa bekerja keras sebagai pengemudi ojek daring. Hal ini ia lakukan demi melunasi UKT yang tak kunjung mendapat keringanan dari pihak kampus.

Jarum jam baru saja menunjuk pukul setengah tiga sore ketika Rafi Rafasyah Rivandi memasuki Kantin Blok M, sebuah sudut ramai di Kampus A UNJ. Tangannya menenteng sebuah jaket oranye khas pengemudi ojek online yang tampak lusuh. 

Mahasiswa semester empat Fakultas Teknik UNJ yang akrab disapa Rafi itu baru saja menuntaskan beberapa order-an. Di tengah ramainya obrolan mahasiswa lain, ia menyempatkan diri untuk duduk sejenak, mengatur napas sebelum harus kembali mengejar jadwal kelasnya pada pukul tiga sore.

Baca jugaSalah Kaprah Etiket dalam Balutan Diksi Etika

Memang, membagi waktu antara bekerja dan berkuliah sudah menjadi rutinitas harian Rafi. Sejak SMA, kedua orang tuanya berpulang dan sejak saat itu juga, ia harus menanggung seluruh beban hidup dan biaya pendidikan seorang diri. 

Rafi menyampaikan bahwa dirinya mesti membagi waktu antara kerasnya jalanan dan bangku kuliah dengan waktu istirahat minim. Rutinitas tersebut kini menjadi konsekuensi yang harus ia jalani demi meraih gelar sarjana.

Iklan

“Orang tua dua-duanya udah gak ada, jadi mau gak mau harus sambil kerja biar bisa makan dan kuliah,” ujar Rafi pada Senin (11/5).

Ia merinci penghasilan sebulannya kerap habis tak bersisa hanya untuk kebutuhan dasar, seperti sewa indekos, makan, dan perawatan rutin motor. Demi bisa menabung untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT), Rafi terpaksa menambah jam operasional kerjanya di jalanan. Ia mengaku harus menghabiskan waktu 10 hingga 12 jam dalam sehari bekerja.

Tak hanya sampai situ, berbagai hambatan dan ketidakadilan sistem juga ia alami sebagai mitra pengemudi. Mulai dari potongan ongkos pengiriman oleh sistem yang dirasa kurang transparan, hingga seringnya menjumpai ketidaksesuaian antara deskripsi barang di aplikasi dengan berat beban fisik yang harus ia angkut. Namun, Rafi tetap menjalaninya hanya karena pertimbangan fleksibilitas waktu kerja. 

“Sebenarnya capek banget. Cuma mau gimana lagi, cuma kerjaan ini doang yang bisa fleksibel,” keluh Rafi.

Semenjak awal masa studi, Rafi mengaku dibebankan nominal UKT yang cukup tinggi. Nominal UKT Golongan III yang ia dapatkan sebesar Rp4,3 juta dirasa melampaui kemampuan finansialnya. 

Rafi mengaku telah berulang kali menempuh seluruh prosedur resmi dalam pengajuan keringanan UKT. Namun, upaya untuk mengajukan keringanan golongan UKT kepada pihak kampus selalu tidak membuahkan hasil. Bagi Rafi, runtutan penolakan ini membuktikan betapa kakunya birokrasi kampus dalam mengakomodasi mahasiswa yang mengalami kondisi darurat ekonomi.

“Kampus kayak tutup mata banget, tiap awal semester selalu ngajuin keringanan UKT tapi gak pernah tembus,” kesahnya.

Kemudahan baru sedikit ia rasakan ketika secara kebetulan ia mendapatkan “operan” dana dari Kartu Indonesia Pintar (KIP) di semester empat. Bantuan ini ia dapatkan berasal dari pengalihan dana pemegang kartu yang secara finansial ternyata mampu. Dana tersebut cukup untuk melunasi biaya semesternya sehingga ia tetap bisa berkuliah.

Namun, di balik rasa syukurnya, Rafi merasa situasi ini janggal. Ia mempertanyakan mekanisme verifikasi KIP saat ini karena bantuan tersebut terbukti salah sasaran. Bagi Rafi, kelangsungan pendidikannya seolah lebih ditentukan oleh keberuntungan semata, bukan karena perlindungan sistematis dari negara.

“Masa harus sampai ketahuan mampu dulu baru KIP-nya dicabut, dari awal memang sistem penentuan penerima KIP tuh gimana sih?” tanyanya.

Iklan

Rafi menyampaikan bahwa kelelahan akibat rutinitas di jalanan berimbas langsung pada kehidupan akademiknya. Ia mengaku sering kehilangan fokus dan sulit menyerap materi saat kelas berlangsung. 

Hal itu mengakibatkan Rafi keteteran saat harus mengerjakan tugas-tugas kuliah. Waktu yang seharusnya ia gunakan untuk membedah jurnal dan menyusun laporan, kini terpaksa dikorbankan demi memenuhi target order-an.

Tak hanya mengorbankan urusan akademik, menurutnya, pola pekerjaan ini seolah merampas ruang aktualisasi diri. Ia mengaku hanya bisa menjadi penonton ketika teman-temannya aktif membangun relasi, berdebat di ruang organisasi, hingga mengurus kepanitiaan. 

Baca jugaAjukan Keringanan UKT Ditolak Berulang, Mahasiswa Kelimpungan Mencari Pendapatan 

Rafi berharap sistem pembiayaan kampus sebaiknya segera dievaluasi agar sesuai dengan kondisi ekonomi mahasiswa. Ia tidak ingin ada lagi mahasiswa lain yang terpaksa mengorbankan waktu, kesehatan, dan fokus akademiknya di jalanan hanya demi melunasi UKT.

“Gua cuma pengen biaya kuliah itu masuk akal. Mahasiswa yang gak mampu (secara finansial) juga berhak mendapat pendidikan layak,” pungkas Rafi.

Reporter/penulis: Fariansyah

Editor: Annisa Inayatullah