Seperti menjadi bunga tak beruntung yang ditanam hanya karena gairah diawal saja. Mulanya, ia diharapkan tumbuh dengan baik, karena itu, ia selalu diperhatikan, agar tumbuh dengan sebaik-baiknya. Namun, ketika pemilik sudah tak tertarik, bunga dilepas begitu saja, tak lagi menjadi fokus utama. Perkembangannya tidak lagi membuat pemilik bersemangat. Jika ia tumbuh bersyukur, jika tidak, yasudah, mungkin memang belum rezekinya. 

Sehingga sang bunga pun kehilangan percaya dirinya. Ia mulai menduga-duga, apakah ia tidak menarik lagi untuk diperhatikan mekarnya? Ia dilepas begitu saja, dan ia menjadi tak bergairah juga untuk tumbuh dalam tempat yang dulu menjadi bangunan ternyamannya. 

Baca jugaMemutus Rantai Ketergantungan Mahasiswa terhadap AI

Lalu sang bunga malah asyik menyalahkan dirinya. Bunga mulai mempertanyakan, mengapa dirinya demikian tidak pernah cukup untuk menjadi seperti yang lainnya?

Pernah sekali bunga berusaha berkembang lagi. Tangkainya yang mulai rapuh itu mau berusaha kembali, tidak sepenuhnya namun. Ia hanya berusaha mengumpulkan sisa-sisa semangatnya yang masih ada, mencoba segala cara agar selesai dulu saja. Agar hasilnya, siapa tahu, bisa memuaskan hatinya yang nyaris kosong itu. 

Sayang, nihil angannya. Bukan semangat untuk tumbuh yang muncul dari jerihnya, alih-alih hanya payah yang keluar dari hasilnya. Ia kira, selama ia bunga, akan selalu datang padanya pujian, sedikitnya satu atau dua kata saja. Namun, hari itu, yang keluar dari banyak penjaga adalah untaian kalimat yang menyalahkan bunga. 

Iklan

“Kamu ini sudah lama kami tanam, mengapa seperti masih benih saja?” ucap salah satu penjaga. 

Bunga yang sudah ringkih tangkainya, kini layu daunnya. Daun itu biasanya terbuka lebar, seperti meminta matahari untuk selalu datang dan menyinarinya, tapi kali ini, ia tertunduk, tertutup, dan takut. Penjaganya tak bangga akan dirinya. 

Sial, sial, dan sial. 

Bunga semakin takut untuk merekah. Dan mungkin memang pada akhirnya ia tidak akan merekah, toh kini tangkai dan daunnya sudah tak berani menatap megah. Mereka menunduk saja, bungkuk seperti sudah usang dan tak bergairah, seperti tertutup beton tebal yang menghalangi kehendak cahaya sebagai penerangnya. 

Tapi tenang saja, masih tersisa kelopaknya disana. Kiranya begitulah bunga. Terlihat begitu indah apa yang harus ditunjukannya. Karena tidak mungkin bukan, di tengah kumpulan tanaman lainnya, mata fokus pada tangkai dan daun yang tertutup terkerumun sejenisnya, yang penting atasnya MEREKAH. Cukup itu saja. 

Lalu, termakan oleh pikirannya, bunga kian enggan untuk tumbuh. Ia mulai bertanya-tanya, apakah ini masih menjadi tempatnya?

Kasihannya bunga, dimanapun ia ditanam, tak pernah ia tumbuh sempurna. Akarnya pun hari ini ikut goyah, sebab terlalu sering ia berpindah-pindah, mencari tempat ternyaman untuk rekahnya. 

Jika bunga harusnya tumbuh menjulang ke atas tanah, ia menentangnya. Sang bunga ingin hanya di dalam tanah saja. Karena baginya, tumbuh selalu menyakitkan, selalu merepotkan orang sekitarnya. Sebab ia tak pernah merekah dengan hebat seperti yang lainnya. Ia hanya bunga biasa yang tak begitu indah untuk dirawat dan dijaga sebegitunya. 

Sampai-sampai bunga merasa ia adalah malapetaka. Sudahi saja tumbuhnya, tak akan menghasilkan apa-apa, bisik bunga pada dirinya. 

Bunga enggan tumbuh, enggan menengadahkan wajahnya pada siapa saja. Bunga berpikir, ia seharusnya tak jadi bunga, melainkan benalu saja. Agar ketika tumbuhnya tidak sesuai dengan harapan yang ada, ia tak perlu merasa bersalah dan kurang sebegininya. 

Iklan

Sekarang, hari-hari bunga dipenuhi dengan merenung. Ia bingung. Apakah dia mampu membayangkan dirinya merekah dengan sempurna? 

Baca jugaEntrok: Benang Merah Sejarah Ketertindasan Perempuan 

Bunga itu mimpinya besar. Ia ingin tumbuh menjulang. Namun, apa daya, ia telah lapuk dimakan sekitarnya. Mungkin yang bisa ia lakukan sekarang hanya bertahan, meski dengan tangkai yang rapuh, daun yang mulai layu, dan akarnya yang sekali guncangan lagi saja akan tercerabut, ia akan mencoba bertahan dulu.

Menurut bunga, selama kelopaknya masih terlihat baik-baik saja, penjaga tak akan mencoba memetiknya. Atau mungkin bunga mati saja, agar ia kembali menetap di dalam tanah, tanpa perlu memikirkan dirinya harus tumbuh seperti apa.

Penulis: Khalda Syifa