Judul : Penghancuran Buku dari Masa ke Masa

Penulis                     : Fernando Báez 

Penerbit                   : Marjin Kiri

Tahun Terbit           : 2013

Jumlah Halaman   : 373

ISBN                       : 978-979-1260-24-4

Iklan

Pada Oktober 2024, buku berjudul Catatan Najwa dibakar oleh seorang influencer TikTok lantaran mengkritisi pemerintahan Joko Widodo. Setahun berselang,  pasca demonstrasi besar Agustus 2025, terdapat kasus penyitaan buku beraliran anarkisme maupun marxisme oleh aparat kepolisian.

Kemudian pada tahun serupa, Menteri Kebudayaan Fadli Zon melakoni proyek penyusunan ulang sejarah Indonesia sebanyak sepuluh jilid. Walaupun bukan praktik penyitaan/pembakaran buku, jamak akademisi mensinyalir proyek ini sebagai bentuk manipulasi fakta sejarah. Sebabnya, terdapat penghapusan kasus pemerkosaan massal terhadap peranakan Tionghoa pada 1998 dan narasi kekejaman pemerintahan Soeharto.

Baca juga: Nestapa Ojol di Tengah Kenaikan Harga Oli dan Suku Cadang

Terlebih, pada 10 November 2025, Presiden Prabowo secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto. Tentunya, hal ini menjadi bahaya laten. Sebab, menjadikan sosok yang melakukan pelanggaran hak asasi manusia skala berat seolah-olah sebagai juru selamat.

Bila dikritisi secara mendalam, ketiga contoh kasus di atas tidaklah tercipta dari ruang hampa. Apa sebetulnya maksud dan tujuan dari praktik-praktik tersebut? Selain itu, apa dampak yang ditimbulkan?

Pertanyaan-pertanyaan itu dapat ditelusuri melalui buku berjudul Penghancuran Buku dari Masa ke Masa karya Fernando Báez. Sosok sejarawan dan arkeolog ini mencoba menggali konsekuensi logis bersifat destruktif di balik praktik librisida dan bibliosida yang terjadi di pelbagai belahan dunia. Di mana, memiliki tujuan untuk memanipulasi dan mengatur pikiran publik agar sesuai dengan kepentingan penguasa.

Api Membakar Buku dan Menghancurkan Manusia

“Di manapun mereka membakar buku, pada akhirnya mereka akan membakar manusia,” halaman 217. 

Dalam buku ini, Báez mula-mula menilik fenomena pembakaran buku yang terjadi dalam lintasan sejarah. Misalnya, pembakaran buku yang terjadi di Perpustakaan Nasional dan Arsip Baghdad serta Perpustakaan Awqaf di Irak. Akibatnya, lebih dari satu juta koleksi buku berbagai lintas pengetahuan lenyap ditelan api. 

Museum Arkeologi Baghdad juga mengalami penghancuran. Setidaknya, tiga puluh koleksi yang memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi lenyap tanpa jejak. Diketahui, gudang pengetahuan tersebut dibumihanguskan oleh sekelompok pemberontak yang didukung oleh militer Amerika Serikat di saat operasi penggulingan pemerintahan Saddam Husein.

Fenomena tersebut membuat masyarakat Irak sulit untuk mengakses sumber-sumber pengetahuan. Akhirnya berdampak terhadap dekadensi pengetahuan dan terjebak dalam kebodohan. Pun, membuat masyarakat Irak bergantung pada sumber-sumber luar negeri yang tentunya tidak sama dengan pengetahuan lokal.

Iklan

Selain penghancuran perpustakaan dan museum di Baghdad, Báez juga menyoroti penghancuran sumber pengetahuan yang dilakukan oleh rezim politik. Sebagai contoh, ketika Mao Zedong melakoni pembakaran buku saat Revolusi Kebudayaan Tiongkok pada tahun 1966.

Pendiri Republik Rakyat Tiongkok (RRT) itu berupaya membasmi “Empat Orang Tua”.  Yakni bermakna adat istiadat, kebiasaan, kebudayaan, dan pemikiran lama di Tiongkok. Upaya itu digerakkan Mao melalui operasi pengawal merah (weibing). Hal tersebut dilakukan berlandaskan ajaran marxisme-leninisme guna terwujudnya masyarakat revolusioner, tanpa kelas, dan mencapai sosialisme.

Dalam praktiknya, kebijakan ini menyasar pusat kegiatan akademis. Buku-buku yang dianggap bertentangan garis politik dominan dibakar. Banyak penulis, akademisi, dan seniman yang ditangkap, dipaksa menyangkal karya mereka sendiri. 

Penulis terkenal bernama Ba Jin mengaku terpaksa membakar buku, surat, dan manuskripnya. Begitupula Gao Xingjian, peraih Nobel Sastra pada tahun 2000, pernah dipaksa membakar seluruh karyanya sendiri. 

Kedua fakta sejarah ini membuktikan bahwa penghancuran buku seringkali dilakukan oleh mereka yang memiliki kuasa, bahkan tak sedikit dilakukan oleh orang yang terdidik. Buku dianggap sebagai tautan memori yang mengancam ideologi mereka.

Tindakan pemusnahan buku diistilahkan Báez sebagai librisida atau bibliosida. Keduanya bermakna sama, yaitu merujuk pada tindakan memusnahkan buku, arsip, maupun dokumentasi kebudayaan lainnya. 

Báez mengutip pemikiran Freud bahwa penghancuran kebudayaan berangkat dari motif dan dorongan hasrat  yang terencana, radikal, dan merusak. Hal itu tercermin dari pelaku penghancuran, yaitu biblioklas. Báez menyebut, biblioklas berkaitan dengan sikap dogmatis, sehingga gagasan lain dianggap sebagai ancaman yang harus disingkirkan. 

Padahal, tindakan librisida dapat menimbulkan dampak hegemoni dalam tatanan masyarakat. Dalam artian, masyarakat tanpa sadar sedang dimanipulasi oleh penguasa, baik secara  pikiran maupun tindakan. Krisis kesadaran inilah yang membuat masyarakat tidak sadar mengalami ketertindasan struktural.

Selain itu, akses terhadap buku-buku lintas disiplin ilmu menjadi sangat terbatas. Kemudian, tergantikan dengan berbagai buku yang telah diatur oleh penguasa. Masyarakat sengaja dibuat bodoh dan melupakan pengetahuan yang dapat mengganggu status quo. 

Efek domino lain, generasi muda akan melupakan sejarah bangsanya. Mereka tumbuh bersama sejarah yang telah diseleksi demi kepentingan penguasa dan kroninya. Melupakan sejarah yang berpihak kepada masyarakat yang terpinggirkan.

Maka dari itu, merawat ingatan dengan menjaga pengetahuan lokal/alternatif merupakan keniscayaan. Sebagaimana dikutip Báez, orang Yunani meyakini bahwa sejarah adalah memori kolektif yang dimetaforakan sebagai Dewi Mnemosin. Memiliki arti bahwa sebuah bangsa dapat runtuh apabila kehilangan sejarahnya. 

“Penghancuran perpustakaan, baik besar maupun kecil, pribadi atau umum, selalu menjadi peristiwa yang disesali; harta ini tidak dapat tergantikan oleh uang, tidak ada cara untuk menggantikannya,” halaman 201.

Kemudian, sebagai sebuah karya sejarah, Penghancuran dari Masa ke Masa memiliki riset mendalam terkait kronik sejarah penghancuran buku di dunia. Báez menunjukkan berbagai sisi penghancuran buku dan berbagai dampak negatifnya bagi masyarakat.

Báez beberapa kali mengajukan tesisnya tentang temuan arkeologinya sebagai bukti penghancuran. Paling menarik, ketika Báez menghubungkan antara mitos apokaliptis dengan sifat destruktif pemutihan sejarah. Tentu, hal itu membuka pikiran pembaca terhadap motivasi penghancuran buku.

Baca juga: Bagaimana, Jika

Walakin, sebagian besar pembahasan terfokus pada satu peristiwa yang masing-masing berdiri sendiri. Antar kejadian yang dihadirkan tidak menuntut korelasi yang signifikan, sehingga tidak merumuskan dampak mendalam dari librisida. 

Terlepas dari kekurangan itu, pada akhirnya Báez mengajak pembaca untuk sadar dan mewaspadai segala bentuk penghancuran ingatan. Selalu ada upaya untuk menghapus ingatan dan mengendalikan masyarakat dalam memandang masa lalu bangsanya.

Penulis: Atikah

Editor: Lalu Adam Farhan Alwi