Kampung Susun Bayam (KSB), Jakarta Utara, menggelar peringatan 18 tahun perjuangan melawan penggusuran paksa pada Senin (25/08). Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi warga untuk kembali mengingat perjalanan perjuangan sejak 2008 sekaligus mempertemukan kembali warga dari tiga tower KSB.

Kegiatan dibuka oleh Ketua Kelompok Tani Kampung Bayam Madani (KTKBM), Muhammad Furqon. Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan pemutaran film dokumenter yang menceritakan perjalanan KSB serta jejaring yang telah membersamai perjuangan warga sejak 2008.

Baca jugaKesejahteraan Buruh Informal dalam Khayalan Sang Presiden

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan anak-anak KSB yang berasal dari gabungan dua tower. Penampilan tersebut menjadi salah satu bagian yang menunjukkan keterlibatan warga dalam peringatan tahun ini. Selain kesenian, warga juga mengikuti mimbar bebas sebagai ruang untuk menyampaikan pandangan dan pengalaman masing-masing mengenai perjalanan Kampung Bayam.

Furqon mengatakan peringatan tersebut bukan hanya kegiatan untuk mengenang masa lalu. Menurutnya, warga perlu terus mengingat pengalaman perjuangan yang telah dilalui bersama, meskipun saat ini sebagian warga telah menempati Kampung Susun Bayam.

“Di dalam acara kami ada pemutaran film, isinya bagaimana awal penggusuran dari 2008. Kemudian perjalanan di hunian sementara sampai kami akhirnya menempati rumah kami,” kata Furqon.

Iklan

Setelah pemutaran film, acara dilanjutkan dengan mimbar bebas. Dalam sesi ini, warga diberi kesempatan untuk menyampaikan pandangan, dan pengalaman mereka selama menjalani perjuangan Kampung Bayam. Furqon mengungkap, mimbar bebas menjadi ruang bagi warga untuk berpuisi serta menyampaikan harapan terhadap keberlangsungan kehidupan di KSB.

“Banyak yang mengutarakan pengalaman, jadi kita saling mengingatkan kalau kita pernah ada di posisi yang sama selama bertahun-tahun,” ujarnya.

Menurut Furqon, pengalaman warga Kampung Bayam juga tidak berdiri sendiri. Ia melihat persoalan yang dialami warga memiliki kemiripan dengan berbagai konflik agraria di tempat lain. Karena itu, peringatan tersebut sekaligus menjadi pengingat agar pengalaman penggusuran tidak hanya berhenti sebagai cerita masa lalu.

Bagi Furqon, perjuangan yang telah berlangsung sejak 2008 bukan hanya bagian dari sejarah orang-orang yang mengalaminya secara langsung, tetapi juga bagian dari identitas komunitas yang kini tinggal di Kampung Susun Bayam. Untuk itu, acara ini memperkenalkan identitas warga KSB sebenernya.

“Banyak hal yang terjadi serupa, tapi kadang masyarakat lupa. Lewat acara ini kita ingatkan,” katanya.

Menambahkan pernyataan Furqon, Ketua Paguyuban Warga Susun Bayam (PWSB), Hariyono atau yang kerap dipanggil Buang, mengatakan perbedaan kondisi warga sempat membuat mereka tidak selalu berkumpul dalam kegiatan yang sama. Tambahnya, peringatan tahun ini juga menjadi momentum untuk mempertemukan warga dari tiga tower yang dalam kesehariannya memiliki latar belakang berbeda.

“Sudah sejak lama, kami ingin membuat acara bersama-sama. Acara ini sebagai luarannya, walaupun berbeda secara latar belakang, ini mengingatkan kita pernah berasal dari satu tempat,” kata Buang.

Buang mengatakan KSB saat ini terdiri dari tiga tower yang dihuni oleh berbagai kalangan. Menurutnya, keterlibatan warga dari ketiga tower dalam satu kegiatan menjadi penting agar hubungan yang sempat renggang dapat kembali terjalin.

“Kita warga ikut terlibat, termasuk anak-anak. Agar anak anak tuh paham, kalau rumah kita didapatkan dari melawan,” kata Buang.

Buang berharap kegiatan tersebut dapat menjadi awal untuk memperkuat kembali hubungan antarwarga. Ia ingin persoalan internal di antara penghuni tower tidak menghilangkan perhatian warga terhadap persoalan yang lebih besar.

Iklan

Baca jugaSimbolisasi Keresahan Mahasiswa dalam PKKMB UNJ 2026

“Harapannya, setelah acara ini selesai, kita gak ada lagi konflik antarwarga, semuanya memfokuskan pada musuh sebenarnya,” tutupnya.

Setelah mimbar bebas, acara dilanjutkan dengan pembacaan pernyataan sikap warga KSB. Pernyataan tersebut menjadi penutup dari rangkaian kegiatan yang sejak awal mengangkat kembali perjalanan perjuangan warga selama 18 tahun.

Reporter/penulis: Hanum Alkhansaa

Editor: Annisa Inayatullah