Harga-harga bahan pokok terus naik imbas kelesuan ekonomi. Mahasiswa mulai mencari siasat penghematan.
Aktivitas jual beli di berbagai pusat perbelanjaan dan pasar tradisional belakangan ini tak lagi seramai biasanya. Realitas di lapangan menunjukkan kelesuan ekonomi yang nyata, selaras dengan maraknya pemberitaan mengenai fenomena merosotnya daya beli masyarakat akhir-akhir ini. Banyak pelaku usaha, mulai dari pedagang kecil hingga sektor industri menengah, mengeluhkan omzet yang menurun tajam akibat sepinya pesanan.
Akar masalah dari anjloknya daya beli ini tak lepas dari ketidakseimbangan antara pendapatan masyarakat yang cenderung stagnan dengan beban biaya hidup yang terus merangkak naik. Hasil Studi Financial Resilience Index 2026 oleh para ahli keuangan menyatakan bahwa inflasi dan lonjakan biaya hidup memukul keras rumah tangga Indonesia. Perputaran uang yang tersendat ini pada akhirnya mengharuskan banyak rumah tangga memutar otak dan merombak alokasi keuangan mereka.
Baca juga: Librisida: Ketika Kekuasaan Menulis Ulang Ingatan untuk Memanipulasi Pikiran
Perubahan itu diilhami oleh Mahasiswa Program Studi Manajemen Pelabuhan dan Logistik Maritim 2024, Callysta yang uang saku hariannya dipotong. Salah satu faktornya, kondisi pendapatan ayahnya dari usaha pembuatan pintu dan jendela Unplasticized Polyvinyl Chloride (uPVC) sepi pesanan. Hal tersebut mempengaruhi seluruh kebutuhan kehidupan keluarganya.
Kondisi usaha keluarga tersebut memaksa Callysta mengatur ulang pengeluarannya. Ia harus mencukupkan uang saku agar dana untuk tugas dan transportasi juga cukup untuk dana makannya. Hal ini juga tak luput berpengaruh pada Universitas Negeri Jakarta, tepatnya di Kantin blok M.
”Akhir-akhir ini penjualan usaha ayah gua lagi gak ramai. Kondisi itu ngaruh banget sama uang saku harian gua, jadinya gua cuma mampu beli paket warteg sepuluh ribu di kantin Blok M,” kata Callysta, saat diwawancarai Didaktika, Senin (6/7).
Callysta juga menuturkan, agar ia semakin menghemat uang sakunya ia membawa bekal dari rumah. Sehingga, uang sakunya yang tersisa akan semakin banyak dialokasikan untuk tugas. Mengingat, ia saat ini sedang melakukan ujian berbasis praktik.
Perubahan daya beli ini juga dirasakan oleh Mahasiswa Program Studi Manajemen Pelabuhan dan Logistik Maritim, Naomi. Berbeda dengan Callysta, nominal uang saku harian Naomi tidak mengalami pemotongan dari orang tuanya. Ia tetap mendapatkan jatah bulanan yang stabil tanpa ada pengurangan.
Walaupun uang sakunya stabil, alokasi dana Naomi mengalami perubahan akibat naiknya harga kebutuhan harian lainnya. Kondisi tersebut memaksanya menekan pengeluaran harian demi memenuhi kebutuhan akademik yang lebih mendesak. Ia tidak lagi bisa mengalokasikan dananya secara leluasa untuk membeli makanan di kantin.
”Banyak harga kebutuhan di luar makan yang naik, jadi alokasi uang saku gua berubah,” ucap Naomi.
Naomi akhirnya menghindari makan di kantin karena menurutnya harganya sudah diluar budget. Ia bergantung pada bekal makanan dari rumah meskipun ia menghabiskan sebagian besar waktunya di lingkungan kampus.
Baca juga: Nestapa Ojol di Tengah Kenaikan Harga Oli dan Suku Cadang
Selain membawa makanan, Naomi juga disiplin menenteng botol minum sendiri setiap kali berangkat kuliah. Ia selalu mengisi penuh botol minumnya dari rumah sebelum memulai aktivitas di kampus. Semua strategi penghematan tersebut dilakukan agar sisa uang saku dapat dialihkan sepenuhnya untuk kebutuhan kuliah, seperti pembelian buku, dan pengerjaan tugas.
“Sekarang semuanya serba mahal, kalau makan memang sih naiknya sedikit, tapi kebutuhan kuliah harga naiknya besar sekali,” tutupnya.
Reporter/penulis : Fariansyah
Editor : Hanum Alkhansaa

