Kemunculan markah parkir di lingkungan Kampus A UNJ mempertegas lokasi penempatan kendaraan roda empat. Hal tersebut disinyalir sebagai cara kampus meningkatkan pendapatan lantaran terdapat kenaikan jumlah mobil yang masuk.
Sepanjang bahu jalan di kawasan Kampus A UNJ telah dibuat markah parkir mobil sejak akhir Juli 2026. Tujuannya, agar pengendara mobil dapat memarkirkan kendaraannya secara tertib. Namun, hal ini menuai berbagai tanggapan baik dari pengguna mobil sampai pejalan kaki.
Salah satunya Mahasiswa Prodi Sosiologi, Ibrahim Gusmawardana. Ia berpandangan markah tersebut memudahkannya memarkir mobil dengan garis batas yang dipertegas. Namun, ia menyayangkan ukurannya yang dinilai terlalu lebar.
Laki-laki yang kerap dipanggil Baim itu menjelaskan, sebelumnya pengendara biasa memarkir mobilnya rapat ke tepian trotoar. Kini dengan adanya markah, posisi mobil bisa memakan setengah badan jalan. Padahal sepengetahuannya, rata-rata mahasiswa UNJ membawa mobil yang ukurannya sedang.
Baca juga: Mandiri Kediaman UNJ: Penyelenggara Tak Kunjung Berbenah, Peserta Resah
“Akibatnya, sisa ruang untuk lalu-lalang kendaraan kian sempit,” ucapnya melalui Zoom pada Sabtu (15/8).
Baim merasa sulit mencari tempat parkir mobil di sekitar Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) ketika sudah pukul 10 pagi sampai jam makan siang. Menurutnya, area tersebut sering penuh karena diisi oleh kendaraan milik pelajar SMA Labschool Rawamangun.
Ia berpendapat bahwa fasilitas parkir di lingkungan kampus seharusnya diprioritaskan bagi sivitas akademika UNJ. Sebaliknya, area parkir di sekitar FISH malah sering dipenuhi mobil milik non-sivitas, walhasil mahasiswa terpaksa memarkir kendaraannya di sepanjang Jalan Prof. Dr. Conny R. Semiawan.
“Saya pernah lihat langsung siswa Labschool yang bawa mobil dan parkir di depan Arena Prestasi FISH,” katanya.
Dirinya menyayangkan tidak adanya lahan khusus parkir mobil sehingga Baim acap kali tidak enak hati apabila harus menempatkan kendaraan di setengah badan jalan. Apalagi, tambahnya, jalan Prof. Dr. Conny biasa dilewati pejalan kaki yang akhirnya terpaksa menepi demi memberi jalan bagi mobilnya.
Baim berharap pihak kampus tidak lagi menggunakan badan jalan untuk tempat parkir. Ia juga menyarankan agar kampus membuat lahan parkir khusus mobil supaya tidak mengganggu pejalan kaki.
“Saya sebagai pengendara mobil mau tidak mau parkir di tempat yang ada,” tutupnya.
Di sisi lain, siswa SMA Labschool Rawamangun berinisial R menerangkan sekolahnya tidak menyediakan lahan parkir bagi murid-muridnya. Ia membawa kendaraan pribadi dengan alasan untuk memudahkan mobilitas ke sekolah.
Pasalnya, ia harus merogoh kocek pribadi hanya untuk naik ojek online dari rumah menuju ke halte terdekat. Berbeda jika membawa mobil, biaya parkir yang mencapai Rp20 ribu untuk 7 jam sejak pukul 07.00 hingga 14.30 WIB, sepenuhnya ditanggung oleh orang tua R.
Meski harus mengeluarkan biaya sebesar itu, R menilai tarif parkir masih sebanding dengan fasilitas yang didapatkannya. Dirinya menyebut keberadaan markah membuat lokasi yang resmi untuk parkir lebih jelas dan tertata.
“Tahu boleh parkir di UNJ itu sebenarnya sejak saya SMP, dari obrolan teman-teman di sekolah,” ungkapnya saat ditemui pada Rabu (18/8).
Sementara itu, dosen Prodi Sosiologi UNJ, Asep Suryana mengaku harus mengalah dari mobil saat berjalan kaki dari Gedung Dewi Sartika menuju FISH pada jam padat kendaraan, pukul 12 siang. Hal ini dikarenakan kedua sisi di sepanjang jalan depan FISH difungsikan sebagai area parkir.
Asep menilai pembuatan markah jalan menandakan kampus telah menyediakan parkir kendaraan bagi sivitas akademika UNJ. Menurutnya, ini merupakan hal baik sebab warga kampus berhak mendapatkan haknya, terutama untuk dosen.
“Saya beranggapan padatnya kendaraan ini ada hubungannya dengan penetapan UNJ sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH),” ujar Asep via Zoom pada Kamis (13/8).
Hal ini selaras dengan UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang memberikan otonomi tata kelola kepada PTN-BH. Berdasarkan regulasi tersebut, kampus memiliki hak penuh untuk mengelola keuangan dan mendirikan unit usaha guna mencapai kemandirian finansial.
Kondisi tersebut, kata Asep, memaksa universitas untuk memutar otak dalam mencari sumber penghasilannya sendiri demi membiayai operasional kampus. Melalui sistem parkir UNJ yang menerapkan tarif, ia beranggapan bahwa hal tersebut menjadi salah satu strategi kampus untuk menambah sumber pendapatan.
“Kan banyak yang mengantar anak-anak Labschool. Itu lumayan buat pemasukan UNJ dari tempat parkir,” ujarnya.
Guna melihat proporsi kendaraan sivitas dan non-sivitas di lahan parkir UNJ yang dikelola Ardas Parking, Didaktika menggunakan data tiga bulan terakhir dari Badan Pengelola Usaha (BPU) UNJ. Tampak adanya penambahan jumlah mobil dengan tren peningkatan mencapai 26,63 persen pada Juni ke Juli.

Kemudian dari keseluruhan 91.294 mobil yang terdata selama tiga bulan terakhir, sebanyak 44.889 unit merupakan kendaraan non-sivitas akademika atau sekitar 49,2 persen. Artinya, hampir setengah dari pengguna fasilitas parkir mobil di UNJ bukan merupakan masyarakat kampus.
Didaktika memperkirakan pendapatan UNJ dari biaya parkir mobil yang dikenakan pada pengendara non-sivitas. Bila mengalikan tarif terendah parkir mobil sebesar Rp4.000 dengan 44.889 unit mobil, didapati UNJ menghasilkan pendapatan kotor sebanyak Rp179.556.000.
Berdasarkan berita Didaktika berjudul “BPU Pastikan Sistem Parkir Baru UNJ Gratis Bagi Mahasiswa”, pembagian hasil pendapatan parkir antara UNJ dan Ardas Parking adalah 90:10. Dengan menerapkan rasio tersebut pada pendapatan minimal dari kalkulasi satu jam parkir, UNJ diperkirakan setidaknya memperoleh Rp161.600.400 selama tiga bulan terakhir, sedangkan Ardas Parking menerima bagi hasil sebesar Rp17.955.600.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris BPU UNJ, Abdul Rahman menjabarkan penerapan parkir berbayar bagi non-sivitas dilakukan agar mereka berpikir dua kali untuk menaruh kendaraannya di kawasan UNJ. Sedangkan soal kemitraan dengan Ardas, ia menyebut langkah itu diambil untuk menertibkan kendaraan di lingkungan kampus.
Akan tetapi, Rahman menyanggah adanya penambahan kapasitas parkir mobil setelah dibuatnya markah parkir. Menurutnya, markah parkir semata-mata dibuat agar penataan mobil dapat terlihat teratur.
“Jadi kerja sama Ardas itu bukan hanya untuk cari uang, tapi biar parkir rapi,” tegas Abdul pada Kamis (13/8).
Baca juga: Sambutan untuk Anak-anakmu
Untuk mengetahui alasan dibuatnya markah parkir, Didaktika mewawancarai Direktur Sumber Daya dan Pengadaan Barang/Jasa (SDPBJ), Jafar Amiruddin. Namun, ketika ditemui di kantor, dirinya mengklarifikasi sudah dipindahkan ke subdirektorat SDPBJ, yakni Direktur Aset UNJ.
Walau demikian, ia membenarkan bahwasanya dulu sebelum ada markah tersebut, pengguna mobil sering parkir dengan jarak yang terlalu renggang antar mobil. Padahal, jika tertata dengan benar, area tersebut seharusnya bisa menampung kendaraan jauh lebih banyak.
Terkait persoalan banyaknya kendaraan milik warga Labschool, Jafar mengakui hal tersebut sulit dihindari sebab sekolah tersebut memerlukan area pengantaran dan penjemputan. Lagipula, ia menambahkan, Labschool berada di satu kawasan dengan UNJ berlandaskan cetak biru (master plan) universitas.
“Namun tetap harus memikirkan kenyamanan bagi pejalan kaki,” ucap Jafar ketika ditemui di kantornya pada Kamis (21/8).
Reporter/penulis: Audy Gemaria
Editor: Safira Irawati

