Kau lihat tribunmu dihiasi oleh ribuan anak-anakmu, di dalamnya tak sedikit yang menangis pilu karena tiba padamu, di dalamnya tak sedikit pula yang menangis bahagia karena dipelukmu, kau adalah “mimpi” bagi anak-anakmu. Namun, kau tahu, mimpi memiliki dua makna. Ada mimpi yang membuat seseorang ingin terus terlelap, ada pula mimpi yang membuat seseorang ingin segera terjaga.
Baca juga: KIP-K Jalur Mandiri Dibuka, Syarat Desil Jadi Batu Sandungan
Begitu pula denganmu. Ada yang datang dengan hati penuh harap, sebab namamu telah lama mereka semogakan. Ada pula yang datang dengan langkah berat, sebab kau bukanlah tempat yang sejak awal mereka tuju. Namun, pada akhirnya, kami semua tetap tiba di tempat yang sama, mengenakan pakaian yang sama, menyandang nama yang sama, dan berharap kau akan memberikan cerita yang layak dikenang. Maka, tinggalkanlah jejak indah pada mereka yang menangis dalam dirimu, pada tangisan yang menanggung rasa yang beragam pula.
Kami hanyalah anak-anak yang baru tiba satu langkah lebih dekat padamu, namun busukmu sudah tercium kala kami masih sejauh satu hektare. Tapi, kau dicintai, dan kami tetap memilihmu. Meski, sambutanmu dihiasi pula dengan janji terjadwal, dengan omong kosong yang mengatakan aspirasi kami terdengar hingga telingamu, dengan sebutan tahun penyelesaian gedung mangkrak, meski hingga kini tempat anakmu mengemban ilmu masih dihiasi oleh gema suara akibat ruang kosong melompong, dengan angin yang terus membawa abu pasir menari-nari. Janji yang kau ucapkan bahkan sejak kakakku menjadi anak-anak tak pernah terwujud hingga kau memiliki anak baru.
Sambutan kedua, kami dipaksakan duduk bersila menghadap layar mencolok mata, bergerak maka kau dicatat, tak berucap “permisi” maka kau diteriaki, di dalamnya penuh riuh-ribut suara dari kakak-abang tercinta. Kau akan meringis pilu merasakan pedih pada kaki yang dilipat selama sembilan jam, alas kaki dilarang dilepas, kau akan mati kutu kala mereka berdengking menghiasi gendang telingamu.
Baca juga: Oh, Rupanya Begitu?
Sambutan ketiga, kau akan disapa dari balik kamera, mereka memaksamu untuk duduk tegap nan sigap menatap komputer jinjing, berdiam diri kala mereka menyampaikan materi, berhadapan dengan cahaya radiasi selama sembilan jam. Namun, kau tahu, jika kau mengeluh, tanda lemahnya raga; jika kau bersedih, maka kau dianggap tak bersedia. Maka, kau kerap kali memaksa dirimu, menikmati gelimang siksa dan menganggap semua adalah biasa.
Mungkin, sambutan ini buruk karena budaya negaramu sendiri, mungkin mereka melampiaskan dendam murka yang terlukis pada raganya. Maka, nikmatilah sambutan itu. Walau kepalamu dihargakan puluhan juta, walau orang tuamu menyekat keringat demi biaya itu, kau akan tetap disambut dengan busuk pula karena kau sedang “dididik”. Hargailah manipulasi itu, karena kau akan tetap di sini. Kau akan dihiasi rasa bersalah atas harta orang tuamu yang telah terlimpahkan pada tempat yang miskin fasilitas, lalu dipaksa percaya bahwa semua yang kau terima adalah bagian dari pendidikan.
Ditulis oleh Jekawi, Mahasiswa Baru Fakultas Psikologi 2026 UNJ
Tulisan ini merupakan karya terpilih dalam undangan menulis “Maba Bersuara” yang dibuka LPM Didaktika hingga 30 Agustus 2026.

