Sebagai mahasiswa baru saya senang sekali rasanya bisa bergabung di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta. Kuliah merupakan cita-cita saya dari kecil, saya sangat bersyukur bisa kuliah di tengah keterbatasan saya.

Tapi setelah saya berhasil masuk ke prodi yang diimpikan, ternyata bagi mahasiswa KIP-K yang menerima bantuan untuk kuliah dari pemerintah, sampai sekarang masih harus menunggu untuk uang kuliah tunggalnya bisa dibayarkan.

Baca jugaSempat Gaduh Penetapan Jadwal Pelaksanaan PKKMB UNJ 2026

Beberapa kampus menerapkan kebijakan untuk menyelesaikan terlebih dahulu pembayaran kuliahnya baru bisa mengisi kartu rencana studi. Dan mereka yang punya keuntungan atau privilege bisa dengan mudah mengisi KRS.

Di semester 1 ini, saya harus war dosen mata kuliah umum. Saya sangat menyayangkan ketika war-nya ini tidak serentak dan hanya orang tertentu yang bisa war. Padahal sudah jelas tertulis “ setiap mahasiswa berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran.”

Harusnya setiap mahasiswa berhak mengisi Kartu Rencana Studi-nya sendiri tanpa dibeda-bedakan golongan maupun persyaratan tertentu. Karena tentu saya sebagai mahasiswa merasa ini sangat tidak adil. Karena merasa dibeda-bedakan.

Iklan

Harusnya kalaupun war itu terjadi, ketika kita satu angkatan sama-sama berebut dosen kuliah mata umum. Ini tidak. Kita mahasiswa KIP-K merasa tidak bisa memilih untuk dapat diajar oleh siapa. Padahal rasanya lebih fair kalau misalkan pemilihannya dilakukan secara serentak.

Dan juga sebagai mahasiswa baru yang awam terdapat istilah baru yang terdapat di perkuliahan seperti KRS, SKS, dan yang lain-lain. Saya sangat tahu sebagai mahasiswa kita dituntut untuk mencari lebih tahu sendiri tentang hal tersebut.

Tapi menurut pendapat saya pribadi, mengenai jumlah SKS dan yang lain-lain sebelum mahasiswa disuruh untuk mengisi Kartu Rencana Studi-nya seharusnya kampus terlebih dahulu melakukan sosialisasi kepada mahasiswa baru. Karena kami merasa kebingungan, harusnya kampus lebih bisa menaungi kami.

Selain itu juga ternyata sebagai mahasiswa baru saya cukup syok terhadap banyaknya PR yang ada di Universitas Negeri Jakarta. Ini sedikit pengetahuan saya tentang hal yang harus dibenahi oleh Universitas Negeri Jakarta.

Lahan Jalan Kampus A Universitas Negeri Jakarta

Saya cukup syok Kampus A di UNJ itu tergolong kecil untuk sarana pejalan kakinya, dan lahan kecil seperti itu harus diambil lagi sama mobil. Mobil disini bukan hanya mobil yang lewat tetapi juga yang parkir. Para pejalan kaki harus membagi haknya dengan mereka.

Menurut saya itu sangat tidak nyaman ya, karena sebagai mahasiswa baru sudah 2 kali saya ke sana dan terkadang akses jalannya tertutup, dengan mobil yang mau lewat dan parkir, jadi saya harus lewat celah dari mobil yang parkir. Menurut saya ini harus dibenahi ya, karena sangat mengganggu sekali.

Harusnya UNJ juga menyediakan parkiran untuk mobil, demi kenyamanan bersama. Sangat tidak elok rasanya UNJ sudah berstatus PTN-BH, tapi untuk menyediakan lahan parkir saja tidak memadai.

Harusnya UNJ bisa ya melakukan ini kalau statusnya saja sudah mandiri untuk bisa mengelola kampusnya sendiri nih, tapi kok untuk pelayanan publik pejalan kaki saja tidak bisa, jadi apa yang mau dikatakan PTN-BH?

PKKMB Semrawut

Kampus Universitas Negeri Jakarta menerima mahasiswa baru lebih banyak tiap tahunnya dengan dibukanya prodi baru, seharusnya secara pendapatan meningkat dan dibarengi dengan peningkatan kualitas pelayanan. Namun, saya cukup menyenangkan ketika pelaksanaan PKKMB sebagai salah satu kegiatan yang paling ditunggu-tunggu oleh mahasiswa baru justru terkesan kurang maksimal.

Menurut saya, dengan semakin berkembangnya UNJ, seharusnya pelaksanaan PKKMB juga bisa dibuat semakin baik dari tahun ke tahun. Saya sebagai mahasiswa baru jujur jadi memikirkan ulang pilihan saya sendiri untuk bisa berkuliah di sini, karena UNJ adalah satu-satunya pilihan kampus yang saya tuju. Tentu rasanya untuk meyakinkan mahasiswa baru tidak salah menentukan pilihan, harusnya UNJ membuktikan hal itu.

Iklan

Kelas Online

Sebagai mahasiswa baru saya sudah mendapat jadwal kuliah, ternyata jadwalnya 3 hari offline dan 2 hari online. Menurut saya sendiri sebagai mahasiswa ini sangat disayangkan ya, saya pikir kelas online itu terjadi ketika dosen berhalangan hadir dan lain-lain. Tapi ternyata di UNJ dijadwalkan.

Baca jugaAmbisi Rektor Meningkatkan Reputasi UNJ di Mata Dunia

Saya makin heran ketika UNJ sudah punya status PTN-BH, padahal fasilitasnya sangat tidak memadai. Ini bukan fasilitas penunjang ya, ini adalah fasilitas utama kelas di mana kita belajar. Sebagai mahasiswa tentu kita butuh untuk beradaptasi, tapi kalau kelasnya online jadi sama saja.

Menurut saya untuk bisa memajukan kampus itu sendiri butuh ruang bagi kami, para mahasiswa, untuk saling bertukar pendapat. Saya tahu itu bisa dilakukan secara online. Tapi kalau hal seperti ini saja dimaklumi, di mana ini harusnya menjadi fasilitas utama, apa yang bisa diharapkan untuk terus maju? Seharusnya jika ingin menjadikan lulusannya berintegritas, harusnya itu dimulai dari hal yang paling dasar.

Penulis: Habibatus Shalwa, mahasiswa baru 2026 UNJ

Tulisan ini merupakan karya terpilih dalam undangan menulis “Maba Bersuara” yang dibuka LPM Didaktika hingga 30 Agustus 2026.