Di tengah kenaikan harga bahan baku dan kebutuhan pokok, pedagang kaki lima tetap berjualan demi memenuhi kebutuhan hidup. Upah dan pendapatan hasil berdagang menambah kerentanan ekonomi masyarakat.

Siang itu, tepatnya di depan Pasar Rawamangun, Pulo Gadung, Jakarta Timur, deretan pedagang kaki lima tampak menjajakan dagangannya sembari menunggu calon pembeli.  Salah satunya adalah pedagang Cendol Bandung Durian, Asep Sunandar. Dirinya mengatakan, sudah membuka lapak cendol sejak pukul delapan pagi sampai pukul lima sore. 

Pria berumur 38 tahun itu menyatakan lapak cendol tersebut adalah milik majikannya. Asep hanya bertugas mempersiapkan dan melayani para pembeli. Diketahui ia sudah bekerja di usaha cendol ini sejak delapan tahun lalu.

“Usaha cendol ini sudah ada sejak 15 tahun lalu. Pun usaha cendol ini memiliki dua cabang, baik di depan Pasar Rawamangun dan di Pasar Sunan Giri,” imbuhnya pada Jumat (03/07).

Baca jugaPasar Rawamangun Sepi, Pedagang Kue Terus Merugi

Selanjutnya Asep berkisah ihwal kesukarannya ketika menjadi pedagang cendol. Dengan upah di bawah batas minimum regional, ia harus sepandai mungkin berhemat. Supaya dapat menyisihkan sebagian upah untuk menafkahi keluarganya.

Iklan

Asep memiliki satu istri dan dua anak yang tinggal di Sukabumi. Dirinya sempat berkeinginan untuk memboyong keluarganya ke Jakarta. Namun hal itu urung dilakukan karena tidak memiliki biaya mengontrak sebuah rumah.

Terutama dirinya harus memenuhi biaya pendidikan anaknya yang kini menempuh kelas tiga sekolah dasar. Tambah lagi, ia memerlukan biaya besar untuk memenuhi biaya kebutuhan anaknya yang masih berusia dua tahun. Istrinya juga tidak bekerja sehingga Asep perlu bekerja keras demi mendapat pundi-pundi rupiah. 

“Walau saya tinggal bersama bos, tapi pendapatan masih terasa pas-pasan. Jadi, setiap dua bulan sekali, saya akan pulang ke Sukabumi dan tinggal seminggu sebelum kembali lagi ke Jakarta,” sebutnya.

Lebih lanjut, Asep juga merasakan dampak kenaikan bahan baku. Menurutnya, harga terigu, sagu, dan santan sebagai komponen utama produksi cendol terus merangkak naik. Berbeda dengan durian yang harganya naik turun tergantung musim.

Hal itu, kata Asep, berdampak pada porsi cendol yang sedikit dikurangi. Walau di tengah kenaikkan harga bahan baku, harga seporsi cendol biasa tetap dibanderol Rp8 ribu dan cendol durian Rp14 ribu. Sebab apabila harga cendol dinaikkan, Asep khawatir dapat membuat dagangannya sepi pembeli.

“Kalau dulu harga cendol cuma lima ribu rupiah, sekarang sudah sampai delapan ribu. Harusnya naik, tapi kita gak berani naikkan harga, paling penyesuaian di porsinya,” ungkap Asep.

Asep berharap suatu saat ekonomi kembali pulih seperti sedia kala. Mengingat dirinya juga bukan pedagang bahan pokok, acap kali pembeli tidak mengutamakan membeli kebutuhan sekunder, seperti es cendol.

“Semoga ekonomi bisa balik seperti lima tahun lalu, daya beli masyarakat meningkat, soalnya sekarang pada susah,” pungkasnya. 

Adapun merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Indonesia pada Juni 2026 mencapai 3,34%, mendekati batas atas target pemerintah sebesar 3,5%. Inflasi bulanan (month-to-month) tercatat sebesar 0,44%, lebih tinggi dibandingkan Mei yang sebesar 0,28%

Selain itu, keadaan diperparah dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Pada Jumat (09/07/2026), satu dolar AS menyentuh Rp18.094

Iklan

Kedua fenomena ekonomi tersebut berakibat kepada ketidakstabilan harga pangan maupun komoditas lainnya. Berdasarkan laman SP2KP, pada awal Juli, harga kedelai impor dan minyak goreng kemasan masih di angka Rp13.689/kilogram dan Rp22.436/liter. Sementara itu, harga beras medium (Rp13.832), tepung terigu (Rp12.538), dan gula pasir (Rp18.281) mengalami kenaikkan.

Walhasil, keadaan tadi membuat masyarakat untuk berhemat. Hal ini menjadi alarm darurat bahwa daya beli masyarakat mengalami tekanan.

Perpaduan penurunan daya beli masyarakat dan kenaikan harga tentu berpengaruh besar atas  kelesuan ekonomi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Salah satunya adalah pekerja pedagang kaki lima. 

Selain Asep, pekerja pedagang kaki lima yang merasa kesulitan dalam menyambung hidup imbas krisis ekonomi nasional adalah Mustafa Arifin (45). Pedagang ketoprak itu telah berjualan sejak berusia 20 tahun. Pada saat ini, ia berjualan di dekat Pasar Pulogadung dengan biaya lapak sebesar Rp10 ribu per hari. 

Mustafa mengaku tidak mampu menyewa kios di pasar karena keterbatasan modal. Pasalnya, dalam satu porsi ketoprak yang terjual, dirinya hanya mendapatkan untung bersih sebesar seribu rupiah. 

“Kalau lima tahun lalu masih bisa dapat omzet Rp1.500 per porsi, sekarang turun jadi cuma seribu,” ungkapnya.

Dirinya juga mengungkap, hampir 80 persen bahan baku untuk membuat ketoprak mengalami kenaikan. Kenaikan itu meliputi komoditas beras, taoge, cabai, tahu, bumbu kacang, hingga minyak goreng.

Hal barusan membuat ia terpaksa menaikkan harga ketoprak. Semula satu porsinya dibanderol seharga Rp13 ribu, kemudian naik menjadi Rp15 ribu sejak dua bulan lalu.

“Hampir 80 persen bahan dapur naik semua. Nah, misalnya kacang yang tadinya Rp35 ribu naik ke Rp40 ribu, sekitar 14 persen,” terangnya saat diwawancara pada Sabtu (04/07). 

Lebih lanjut, Mustafa juga memperhatikan kondisi pedagang di Pasar Pulogadung yang semakin sepi pembeli. Dahulu, pasar berlantai tiga ini terisi penuh oleh pedagang yang menjajakan beraneka macam model usaha. Namun, kata Mustafa, hanya lantai satu yang terisi, walaupun hanya sebagian.

Baca jugaPedagang di Pasar Rawamangun Terbebani Lonjakan Harga Bahan Pokok

Menghadapi situasi ini, Mustafa mengaku, tidak lagi menaruh harapan besar. Ia bersyukur dan menjalani kehidupan sehari-hari demi memenuhi kebutuhan hidup. 

“Jika ingin balik ke kondisi seperti dulu itu tidak mungkin, mustahil. Bukannya pesimis, namun karena melihat situasinya begini. Jadi, mau kebijakan apapun itu saya tidak berharap,” tutupnya.

Reporter/penulis: Atikah

Editor: Lalu Adam