Penurunan jumlah pembeli di Pasar Rawamangun memukul pedagang jajanan pasar. Kenaikan harga bahan baku dan banyaknya dagangan yang tak terjual membuat kerugian terus membengkak.

Sejak pukul sepuluh pagi, hiruk pikuk kegiatan jual-beli di Pasar Rawamangun berangsur menurun. Memasuki pukul dua siang, bangunan tiga lantai tersebut tampak lengang, hanya menyisakan segelintir pelanggan.

Baca jugaPedagang di Pasar Rawamangun Terbebani Lonjakan Harga Bahan Pokok

Melangkah masuk melewati pintu utama, tampak deretan penjaja busana duduk menanti pembeli. Menengok ke lantai dasar, beberapa penjaga kios penjual bumbu rempah tengah bersiap menutup tokonya. Menyusul penjaga lapak lauk-pauk segar yang sudah tutup lebih awal. 

Di lantai paling atas, seorang penjual jajanan pasar, Nur (65), sedang melayani satu keluarga yang mampir ke lapaknya. Usianya yang telah melewati masa produktif tak menghalanginya untuk tetap cekatan melayani pelanggan.

Sebab bagi Nur, pensiun bukan pilihan yang bisa diambil begitu saja. Anak kandung yang diharapkan kelak meneruskan lapak ini, sampai sekarang masih enggan turun ke pasar.

Iklan

Kepingin pensiun, tapi punya anak satu laki-laki dipaksa tetap gak mau,” ujarnya  pada Sabtu (3/7).

Tanpa penerus yang bisa diandalkan, Nur tak punya pilihan selain terus berjualan. Sekalipun pasar kian sepi dan keuntungan kian tipis.

Keluarga yang datang siang itu, tanpa disangka, menjadi pelanggan terakhir yang mampir ke lapaknya. Seusai transaksi, kios berukuran 2×2 meter itu kembali dilanda sunyi.

Nur berucap, telah membuka lapak kuenya sedari pukul lima pagi. Namun, hanya sedikit pelanggan yang membeli dagangannya. Sampai menutup lapak, kue-kue yang ia bawa belum juga terjual habis.

Lebih lanjut, Nur mengaku sulit mengelola keuntungan yang sedikit di tengah naiknya harga bahan baku produksi. Meski telah menyesuaikan harga jual, permintaan akan jajanan pasar tetap menurun. 

Ia tidak menyangka, pendapatan hariannya merosot begitu tajam. Kios yang mulanya dapat menjual minimal 300 hingga 400 buah lemper di akhir pekan, kini kesulitan menjual 100 buah saja.

“Dulu, modal harian bisa Rp6–8 juta, dan pada akhir pekan melonjak hingga Rp12–15 juta. Sekarang modal Rp3 juta pun tak habis terjual meski akhir pekan,” jelas Nur.

Nur menyiasati hal ini dengan mengurangi jenis dan jumlah tiap kudapan yang akan dijual. Meski begitu, usahanya tak kunjung berbuah manis dan tetap merugi.

Kerugian ini berkaitan dengan karakteristik camilan basah yang cepat basi. Walhasil, kue basah yang tidak terjual hari ini otomatis tak bisa dijajakan pada esok harinya.

Berbeda dari pedagang bumbu, lanjut Nur, mereka masih bisa mengolah cabai sisa menjadi cabai giling. Termasuk juga pedagang sayur, yang masih bisa menjual dagangannya keesokan hari.

Iklan

Lebih lagi, risiko yang ditanggungnya tak dapat dibandingkan dengan pedagang plastik. Barang-barang itu awet, tidak basi, dan sempat dibeli sebagai stok sebelum harga naik, sehingga ketika harga jual ikut naik, pedagangnya tetap untung.

“Namanya berdagang, sesekali rugi itu lumrah, bisa disiasati. Tapi kalau sudah bersiasat dan terus merugi, ya berarti memang nasib,” tuturnya.

Lanjut Nur, keadaan yang sedemikian berat membuat tiga dari empat pedagang serupa memutuskan untuk gulung tikar. Kini hanya lapak miliknya yang masih bertahan, itu pun karena terus-menerus menyuntikkan dana tambahan.

Terhitung tiga bulan sejak Idulfitri, ia telah menombok dana operasional menggunakan tabungan yang ada, bahkan menjual sejumlah aset yang dimiliki. Total dana yang telah ia habiskan mencapai Rp20 juta.

“Bukannya menghasilkan, malah nombok. Hanya untuk bertahan sampai pulih seperti dulu lagi,” keluhnya.

Nur bahkan sudah mengajukan pinjaman ke Bank Rakyat Indonesia (BRI) demi menambal modal usahanya. Namun, ia tetap khawatir tidak mampu membayar cicilan jika kondisi pasar terus lesu.

Besar pasak daripada tiang membuat Nur mempertanyakan sampai kapan ia bisa bertahan. Salah satu alasan yang membuatnya tetap melanjutkan usaha ini adalah beberapa orang yang menggantungkan nasib padanya. Ia masih menerima titip jual dari produksi tetangga sekitar rumahnya, meski tak sebanyak dulu.

Sore itu, sekitar pukul setengah tiga, beberapa orang hilir-mudik datang menjemput sisa dagangan Nur untuk dibawa ke depan masjid dan dijual pas harga modal. Ia melakukan ini agar kuenya tetap laku sekalipun hanya balik modal, supaya esok pagi ia masih punya uang untuk kulakan lagi.

Baca jugaSenin Kiamat

Sejenak, Nur membagikan pandangannya soal hari tua. Rencananya, rumah yang kini ia tempati di Jakarta akan ia kontrakkan, sementara ia sendiri pulang ke kampung halamannya di Magelang, Jawa Tengah. Menurutnya, penghasilan dari kontrakan itu sudah cukup untuk hidup di kampung, sebab biaya hidup di sana jauh lebih rendah dibanding di kota.

Namun bayangan itu terasa kian kabur seiring melihat dinamika pasar dan siapa penerus lapaknya yang tak kunjung memberi kepastian. Tanpa tabungan hari tua yang memadai dan tanpa penerus usaha, berjualan menjadi satu-satunya sumber penghidupan Nur saat ini.

“Sekadar berusaha bertahan. Entah masih kuat atau sampai kapannya, siapa yang tahu?” tutup Nur.

Reporter/penulis: Irva Finassyifa

Editor: Safira Irawati