Judul Buku: Aib dan Nasib

Penulis: Minanto

Penerbit: Marjin Kiri 

Tahun Terbit: 2020

Halaman: 263

ISBN: 978-602-0788-00-5

Iklan

Realitas ekonomi saat ini memampangkan wajah muram, khususnya bagi kelas pekerja menengah ke bawah. Hal ini terjadi lantaran akses terhadap penghidupan layak kian menyempit, sehingga membuat jurang ketimpangan ekonomi semakin dalam dirasakan oleh rakyat.

Fenomena sosial tersebut tercermin dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) tentang populasi kelas menengah yang merosot drastis. Pada 2019, populasi kelas menengah sebesar 57,3 juta orang, kemudian  menurun menjadi 47,85 juta orang pada 2024.

Baca jugaSiasat Hemat Mahasiswa Di Tengah Kenaikan Harga

​Artinya, dari sekitar 9,48 juta orang itu, mayoritas turun kelas menjadi kelompok rentan miskin. Sebabnya, jamak masyarakat mengalami gejolak finansial akibat sulitnya lapangan pekerjaan, pemutusan hubungan kerja, upah murah, hingga meningkatnya biaya kebutuhan hidup layak.

Adapun, data BPS pada Februari 2026 mencatat, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,24 juta orang. Selain itu, sebanyak 87,7 juta tenaga kerja terserap ke dalam sektor informal. Angka itu menjadi mayoritas karena sektor formal hanya menyerap 59,9 juta tenaga kerja.

Data itu menjadi alarm darurat bahwa lapangan pekerjaan yang layak masih sukar ditemui. Pada akhirnya memaksa sebagian rakyat berhijrah ke negeri orang untuk mengadu nasib. Misalnya pada 2025, sebanyak 66 ribu orang dari Jawa Tengah memilih menjadi tenaga kerja di luar negeri.

Apabila dicermati lewat Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), sebanyak 69,78% tenaga kerja migran berjenis kelamin perempuan. Pun, mayoritasnya hanya terserap di sektor informal. Misalnya menjadi asisten rumah tangga, perawat lansia, hingga tukang kebun. 

Sektor informal berisiko membuat pekerja perempuan migran terjerat eksploitasi. Contohnya jam kerja panjang, upah tidak sesuai, kekerasan fisik, maupun potensi perdagangan manusia.

Lebih dari itu, fenomena sosial tersebut menjadikan perempuan Indonesia acap terjerat dalam rantai ketertindasan struktural. Karena himpitan ekonomi, perempuan terpaksa menjadi tulang punggung keluarga di negeri nun jauh.

Syahdan, fenomena sosial ini merupakan kegagalan pemerintah pusat dalam memitigasi pekerja migran perempuan dari jerat eksploitasi. Lebih dari itu, gagal untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang layak dan berkeadilan di dalam negeri.

Iklan

Permasalahan sosial itu terkisah dalam novel Aib dan Nasib karya Minanto. Novel ini memotret bagaimana dinamika kehidupan yang dialami oleh perempuan kelas ekonomi miskin di pedesaan. Jamak perempuan terpaksa menjadi pekerja migran karena sulit mendapatkan pekerjaan di dalam negeri. 

Salah satu sosok perempuan yang mengalami hal itu adalah Eni. Pada permulaan kisah, ia digambarkan sebagai anak yatim-piatu dan miskin. Karena hidup sebatang kara, Eni terpaksa menumpang hidup di rumah keluarga besarnya.

Setelah cukup lama tinggal, Eni kerap kali dieksploitasi dalam kerja-kerja rumah tangga. Uang tabungan hasil jerih payah dan perhiasan warisan orang tua dirampas oleh sanak saudaranya dengan dalih membayar utang budi.

Terdesak oleh keadaan ini, Eni hendak untuk segera menikah. Langkah tersebut tak lain adalah strategi pelarian agar dapat terbebas dari ketertindasan keluarga. Namun, rencana pernikahannya harus tertunda selama bertahun-tahun akibat kondisi finansial calon suaminya, Marlina. Pemuda itu masih harus menanggung biaya hidup ayahnya, serta pendidikan ketiga adik laki-lakinya.

Setelah melewati rintangan cukup lama, Eni pun menikah dengan pujaan hatinya. Meskipun telah menikah dan tinggal di kontrakan Marlina dan keluarganya, kehidupan getir terus dirasakannya. Sebab, Eni dipaksa untuk mengerjakan seluruh pekerjaan rumah keluarga. Selain itu, sebagai perempuan, ia kerap direndahkan dan mengalami tindakan cabul dari adik suaminya.

Marlina hanya bekerja sebagai penjaga gudang bahan bangunan dengan upah kecil, harus membiayai kehidupan Eni dan keluarga suaminya. Impian kecil Eni untuk segera memiliki momongan harus terbentur ketiadaan biaya pengobatan kemandulan suaminya.

Merasa frustasi, Eni memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai pekerja migran di Singapura. Tujuannya, agar Eni dapat membantu memenuhi pelbagai biaya hidup keluarga. Selain itu, dirinya ingin menabung untuk mengontrak sebuah rumah agar terhindar dari gangguan keluarga Marlina.

Langkah menjadi pekerja migran juga tidak lepas dari budaya masyarakat tempat Eni tinggal. Di mana, banyak perempuan dipaksa bekerja di negeri orang untuk menjadi tulang punggung keluarga.

“Sebab sama seperti gadis umum di Tegalsembadra, setelah lulus sekolah adalah antara mendaftar calon TKI atau mendaftar menjadi istri,” halaman 17.

Setelah resmi bekerja di luar negeri, Eni selalu menyisihkan sebagian besar upahnya untuk suaminya. Alih-alih digunakan biaya hidup dan menabung, uang bulanan banyak dihabiskan oleh Marlina untuk mabuk dan berselingkuh. Pada akhirnya, hubungan Eni pun kandas karena tidak kuat menanggung beban hutang keluarga Marlina.

Kisah Eni di dalam novel Aib dan Nasib menjadi nyata ketika banyak perempuan di pedesaan banyak mengalami ketertindasan karena masalah ekonomi. Oleh karenanya, negara harus hadir memastikan ketersediaan lapangan kerja yang layak dan berkeadilan, terutama di tataran lokal.

Baca jugaUgal-ugalan Mengekor Amerika, Rezim Prabowo Lah Londo Ireng Sebenarnya

Langkah ini penting dilakukan supaya tidak ada lagi perempuan yang terpaksa menjadi pekerja migran. Selain itu, agar perempuan dapat sejahtera dan makmur dalam penghidupannya.

Novel ini patut diapresiasi karena memancarkan keberanian dalam mengekspresikan kritik sosial. Teknik dan gaya penulisannya pun sangat menarik karena membuat pembaca dapat merasakan langsung bagaimana nestapa kehidupan dirasakan oleh rakyat di pedesaan.

Penulis: Fariansyah Muhammad

Editor: Lalu Adam Farhan Alwi