Judul Buku: Entrok

Penulis : Okky Madasari

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman: 288 Halaman

Tahun Terbit: 2010

ISBN: 978-979-22-5589-8

Iklan

Pada awal 2026 terjadi penggusuran paksa berskala besar di Desa Panigoran, Padang Halaban, Sumatera Utara. Ketika ratusan aparat menghancurkan 83,5 hektar ruang hidup Kelompok Tani Padang Halaban dan Sekitarnya (KTPH-S). 

Pengerahan aparat ini dilakukan tanpa dasar hukum kepemilikan lahan yang sah. Sebab data Kementerian ATR/BPN mencatat bahwa wilayah Lokasi Prioritas Reforma Agraria (LPRA) sudah tidak lagi dibebani Hak Guna Usaha (HGU) milik PT Sinar Mas Agro & Technology (PT SMART).

Baca jugaKarena Komdis Sang Maha Tahu

Mulanya, warga Padang Halaban menduduki lahan sendiri. Namun akibat sigma PKI pada 1965, mereka harus pergi dari tanah leluhurnya.  Di tahun 1972 konflik diperparah melalui penerbitan HGU seluas 3.000 hektar oleh perusahaan swasta. Imbasnya, warga hidup terpencar selama puluhan tahun sebagai buruh tani di wilayah asing demi menyambung hidup. 

Eskalasi konflik tersebut merupakan puncak dari sejarah panjang perjuangan warga yang dimulai sejak tahun 2009. Melalui pendudukan kembali (reclaiming) secara bertahap, mereka berupaya merebut kembali ruang hidup setelah puluhan tahun terusir.

Apa yang terjadi di Padang Halaban bukanlah insiden tunggal, melainkan cerminan dari krisis agraria yang lebih masif di tingkat nasional. Berdasarkan catatan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), sepanjang tahun 2025 telah terjadi 341 letusan konflik agraria yang mencakup lahan seluas 914.574,963 hektar dan berdampak pada 123.612 keluarga di 428 desa.

Dari ratusan ribu keluarga yang kehilangan ruang hidupnya, perempuan dan anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak. Di tengah deru alat berat dan barikade petugas, mereka harus menyaksikan sumber pangan dan ruang domestik mereka dirampas secara paksa.

Komnas Perempuan mencatat bahwa perempuan adat di wilayah perampasan menanggung beban berlapis. Selain kehilangan sumber penghidupan, mereka juga bertanggung jawab atas kebutuhan ekonomi dan pangan keluarga, serta harus menghadapi kerusakan lingkungan dan pencemaran akibat eksploitasi sumber daya alam oleh pembangunan yang tidak berkeadilan.

Penderitaan perempuan di bawah kepungan moncong ekskavator ini terekam jelas melalui mata Rahayu dalam novel Entrok. Ia menyaksikan langsung bagaimana warga diusir dan tanahnya  digusur secara paksa, sebuah realitas yang sangat identik dengan apa yang dialami petani di Padang Halaban saat ini.

Penggusuran yang disaksikan Rahayu adalah hulu dari penindasan ibunya, Marni. Sejak muda Marni sudah menjadi korban dari perampasan kemandirian oleh sepatu lars kekuasan yang menggunakan stigma PKI untuk memeras keringatnya. Hal ini membuktikan bahwa penindasan terhadap perempuan tani memiliki akar sejarah yang panjang.

Iklan

Perempuan dalam Labirin Kekuasaan

Okky membawa pembaca melintasi waktu ke tahun 1950-an, sebuah masa di mana kemerdekaan Indonesia masih seumur jagung, namun bibit ketidakadilan sudah mulai tumbuh di pedesaan Jawa. Di sinilah sosok Sumarni atau Marni diperkenalkan sebagai titik awal cerita.

Ia lahir di keluarga miskin yang hanya terdiri dari dia dan Simboknya. Perlawanan Marni dimulai saat ia merasa tidak nyaman dengan dadanya yang mringkili (mulai tumbuh). Dari rasa tidak nyaman itulah lahir keinginan sederhana yang menjadi penggerak hidupnya: memiliki sebuah entrok (bra).

Pada masa itu entrok bukan sekadar pakaian dalam biasa, melainkan sebuah barang yang mewah. Oleh karena itu, Marni kecil mengutarakan keinginan kepada paman dan bibinya dengan harapan akan dibelikan. Sayang, harapan itu runtuh ketika ia justru menerima tawa meremehkan yang turut menyentil ketiadaan sosok sang ayah. 

Penolakan dari kerabat dekat tersebut menjadi titik balik kesadaran Marni, bahwa hubungan darah sekalipun tidak bisa memberikan apa yang dia inginkan. Kesadarannya itu membuat ia membantu Simbok mengupas singkong di pasar. Namun, upah dari usaha pertama ini hanya berupa singkong.

Dampak dari upah yang melulu soal makanan membuat keinginan Marni meredup, sebab singkong tidak bisa ditukar dengan selembar pakaian dalam. Sadar bahwa sistem upah ini hanya akan menahan langkahnya, ia kemudian mengambil keputusan nekat dengan menjadi kuli panggul pasar—pekerjaan kasar yang dianggap ora ilok bagi perempuan.

“Bukan masalah kuat-nggak kuat, Nduk. Ini masalah ilok-ra ilok. Nggak ada perempuan nguli,” hal. 35

Kalimat tersebut menegaskan bahwa hambatan terbesar berada pada konstruksi sosial dengan anggapan perempuan tidak pantas berada di ruang publik yang maskulin. Bagi Marni, entrok adalah kemerdekaan yang ia perjuangkan dengan otot dan peluh. Ia membuktikan bahwa tekad ini membawanya berubah nasib, dari menjadi kuli panggul, seorang bakulan keliling, hingga memiliki toko sendiri.

Namun, memasuki tahun 1970-an, kemandirian ekonomi Marni mulai dirongrong oleh kekuasaan Orde Baru yang militeristik. Setiap upaya perlawanan rakyat kecil terhadap penjarahan aparat akan selalu berujung pada ancaman penangkapan. 

Negara menggunakan stigma PKI sebagai alat yang paling ampuh untuk melumpuhkan keberanian warga. Akibat dari hal itu, kesuksesan finansial yang diraih Marni dengan susah payah justru menjadi alasan utama bagi penguasa untuk menjadikannya target perasan.

“Aku bukan PKI! Aku cuma mau cari makan. Tidak mencuri. Tidak merampok. Terus mereka datang seenak udele memeras orang. Dulu ngambil panci. Sekarang datang minta duit!” hal. 71

Keberhasilan ekonomi Marni yang tersisa tetap memungkinkannya untuk menyekolahkan  sang putri, Rahayu. Malangnya, ruang pendidikan yang dibuka oleh Marni justru menjadi awal keretakan di dalam rumah mereka.

Hubungan Ibu dan anak ini perlahan renggang karena perbedaan cara pandang. Rahayu yang terpelajar dan religius memandang kepercayaan ibunya yang masih memegang teguh tradisi kejawen sebagai sesuatu yang musyrik.

Akan tetapi, silsilah penindasan penguasa tidak berhenti pada generasi Marni. Jika Marni ditekan secara ekonomi, Rahayu menghadapi wajah kekuasaan yang jauh lebih terbuka. Ia terlibat dalam pendampingan warga yang ruang hidupnya terancam oleh proyek pembangunan bendungan. 

Di tengah deru alat berat, Rahayu menyaksikan bagaimana proyek pembangunan bendungan menghancurkan ruang hidup warga. Meski dalam novel dampak paling kasatmata terlihat pada anak-anak yang kehilangan masa depan dan keceriaan, tapi secara struktural, pemandangan memilukan ini mencerminkan beban berlapis yang harus dipikul para ibu.

Ketika ruang hidup dirampas, perempuanlah yang harus memutar otak paling keras demi memastikan dapur tetap mengepul di tengah lahan yang telah gundul. Mereka dipaksa keadaan untuk memikirkan cara memenuhi kebutuhan pangan yang sumbernya telah dihancurkan oleh narasi pembangunan.

Di saat yang sama, perempuan juga harus menjadi tameng emosional bagi anak-anak mereka. Peran ganda ini menjadi beban psikologis yang berat akibat intimidasi yang terus dilakukan aparat.

Sebab, perempuan jauh lebih terikat pada nilai-nilai dan  norma domestik dibandingkan laki-laki. Budaya patriarki yang mengakar telah mengkonstruksi ketidaksetaraan pembagian kerja; laki-laki dicitrakan sebagai sosok kuat di ruang publik, sementara perempuan di lokalisasi dalam pekerjaan rumah tangga yang sering kali tidak dianggap sebagai kerja produktif.

Keterikatan yang mendalam pada ranah domestik inilah yang membuat perempuan menjadi korban paling sunyi saat konflik agraria meletus. Ketika rumah dihancurkan, beban untuk mencari sumber pangan dan dan menjaga stabilitas keluarga tetap jatuh ke pundak perempuan.

Marginalisasi ini kian nyata di daerah pedesaan di mana akses pendidikan bagi perempuan masih sangat minim. Akibatnya, saat tanah sebagai aset terakhir mereka dirampas, mereka kehilangan kedaulatan sepenuhnya atas hidup mereka sendiri.

Menyelami Entrok saat ini bagaikan cermin untuk merefleksikan situasi hari ini yang kiam buram. Karya ini menjadi pengingat tajam bahwa penindasan terhadap kelompok kecil, terutama mereka yang menjaga dapur tidak pernah benar-benar hilang, melainkan hanya berganti rupa dan siasat.

Baca jugaAjukan Keringanan UKT Ditolak Berulang, Mahasiswa Kelimpungan Mencari Pendapatan 

Realitas fiksi dalam novel Entrok berwujud nyata di Padang Halaban, Sumatera Utara, ketika kelompok tani dipaksa berhadapan dengan barikade aparat di lapangan. Pengerahan kekuatan bersenjata ini pada akhirnya memberikan beban berat di pundak perempuan tani yang ruang domestik dan sumber pangannya dirampas secara paksa. 

Selama otoritas negara masih difungsikan untuk mengintimidasi pedagang kecil di pasar atau merampas lahan para petani, maka keresahan yang diredam ini akan terus tumbuh menjadi benih perlawanan. Di tangan perempuan seperti Marni dan Rahayu, tanah bukan sekadar komoditas, melainkan fondasi kehidupan yang terus dipertahankan.

Penulis: Diajeng Gihan Salwa

Editor: Annisa Inayatullah