Judul: Matinya Pendidikan

Penulis: Neil Postman

Penerbit: Octopus

Tahun Terbit: 2019

Jumlah Halaman: 294

ISBN: 978-602-5868-26-9

Iklan

Dalam beberapa kesempatan publik, Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka secara terbuka mendorong penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan. Gibran bahkan merencanakan memasukkan pelajaran AI ke dalam kurikulum sekolah dari jenjang SD, SMP, SMA hingga SMK mulai tahun ajaran baru.

Gibran menyatakan bahwa AI dapat meningkatkan kreativitas dan produktivitas siswa serta membantu berbagai aktivitas belajar, seperti membuat naskah, karya digital, dan berbagai bentuk konten pembelajaran lainnya. Ia juga menekankan bahwa generasi muda harus beradaptasi dengan teknologi agar tidak tertinggal oleh negara lain yang telah lebih dahulu mengintegrasikan AI dalam sistem pendidikan mereka.

Baca jugaMemahami Rupiah, Mengapa Sulit Diatur?

Dalam kerangka ini, pendidikan tidak lagi hanya dipahami sebagai pembentukan pengetahuan, tetapi penghasil sumber daya untuk pasar. Sebab, dalam metodenya pendidikan kini berorientasi pada nilai dan output peserta didik, sehingga sumber daya yang dihasilkan siap menghadapi tuntutan pasar.

Pengenalan teknologi AI di sekolah dipandang sebagai langkah penting dalam menyiapkan generasi yang berorientasi hasil. AI membantu peserta didik memenuhi standar yang ditetapkan pasar. Dalam kondisi ekonomi yang kompetitif, proses belajar yang panjang dianggap tidak praktis, sehingga teknologi yang mampu menghasilkan jawaban instan lebih mudah dipuja sebagai solusi utama.

Hal ini juga memaksa guru untuk bekerja sesuai ritme yang ditetapkan. Untuk menghasilkan siswa yang sesuai dengan standar pasar, perlulah pula penilaian yang cepat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam pendidikan terus meningkat dan mulai masuk ke dalam proses inti pembelajaran. Akibatnya, siswa cenderung melewati proses berpikir kritis dan reflektif karena lebih bergantung pada jawaban instan yang dihasilkan oleh sistem.

Peningkatan penggunaan teknologi dalam proses pendidikan ini menimbulkan kekhawatiran potensi ketergantungan. Dalam hal ini, proses belajar perlahan bergeser dari pemahaman menuju hasil ujian. AI dianggap solusi instan dalam kondisi pasar yang membutuhkan banyak sumber daya.

“Dengan mengesampingkan asumsinya bahwa pendidikan dan produktivitas saling bergandengan tangan, janjinya untuk memberikan pekerjaan menarik seperti tuhan tuhan lainnya, maka dia menjadi sesuatu yang berlebihan” hal. 45

Situasi tersebut menunjukkan adanya kontradiksi antara narasi membangun generasi unggul dengan realitas pendidikan berbasis AI. Ketika generasi baru hanya berfokus pada standarisasi nilai, muncul pertanyaan. Apakah generasi unggul yang dibentuk pemerintah merupakan generasi kritis, atau generasi yang siap terhadap kondisi pasar.

Apakah generasi yang dibentuk melalui sistem berbasis teknologi akan menjadi lebih kritis? Atau justru semakin bergantung pada mesin dalam memahami pengetahuan? Ketika proses belajar semakin disesuaikan dengan tuntutan kecepatan, hasil, dan efisiensi yang berasal dari kebutuhan ekonomi yang lebih luas.

Iklan

Menyembah Tuhan Palsu Bernama Teknologi

“Sementara itu narasi besar tentang pembaruan juga tengah menderita, sama rusaknya dengan kerusakan yang ditimbulkan oleh tuhan yang tidak sempurna” hal.32

Jawaban atas kegelisahan mengenai kegagalan generasi emas akibat ketergantungan teknologi sebenarnya dapat ditelusuri melalui studi kasus yang disampaikan Neil Postman dalam bukunya The End of Education. Postman melihat bahwa sejak awal kemunculan teknologi dalam dunia pendidikan, teknologi tidak selalu membawa kemajuan seperti yang dijanjikan. Sebaliknya, teknologi justru sering melahirkan ketergantungan baru.

Ia mencontohkan bagaimana masyarakat modern, khususnya di Amerika, mulai memandang teknologi sebagai solusi bagi hampir seluruh persoalan pendidikan. Sekolah dipenuhi perangkat baru, metode baru, dan sistem baru yang dianggap mampu meningkatkan kualitas pendidikan. Namun dalam prakteknya, kemajuan teknologi tidak otomatis membuat manusia lebih bijak atau lebih memahami dunia. Yang terjadi justru sering kali adalah perubahan cara belajar yang menjadi lebih cepat, tetapi tidak lebih bermakna.

Dari pengamatan tersebut, Postman kemudian memperkenalkan gagasan tentang “tuhan-tuhan palsu” dalam pendidikan. Yang dimaksud dengan tuhan palsu bukanlah Tuhan dalam arti agama, melainkan nilai-nilai yang diagungkan secara berlebihan tanpa mempertanyakan tujuan pendidikan itu sendiri.

Teknologi menjadi salah satu tuhan palsu yang paling dominan dalam masyarakat modern. Ketika teknologi dipercaya mampu menyelesaikan semua persoalan pendidikan, manusia berhenti bertanya mengenai makna belajar. Pendidikan kemudian berubah menjadi sekadar proses teknis yang berorientasi pada efisiensi, kecepatan, dan hasil instan.

Dalam konteks penggunaan AI saat ini, gagasan ini terasa sangat relevan. AI dipuji sebagai alat yang mampu mempermudah pembelajaran, tetapi jarang dipertanyakan apakah kemudahan tersebut benar-benar menghasilkan pemahaman yang mendalam atau hanya mempercepat penyelesaian tugas.

Setelah mengkritik tuhan-tuhan palsu, Postman tidak berhenti pada kritik semata. Ia menawarkan apa yang disebut sebagai “tuhan-tuhan yang menyelamatkan”, yaitu narasi besar yang dapat memberi makna baru bagi pendidikan. Salah satu narasi yang ia tawarkan adalah Spaceship Earth, yakni gagasan bahwa manusia hidup dalam satu ruang kehidupan bersama yang harus dijaga. Dalam narasi ini, pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan tenaga kerja, tetapi membentuk manusia yang bertanggung jawab terhadap dunia tempat mereka hidup.

Narasi lain yang ia tawarkan adalah The Fallen Angel, yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak sempurna dan selalu belajar dari kesalahan. Dengan narasi ini, pendidikan tidak lagi berorientasi pada kesempurnaan hasil, tetapi pada proses berpikir kritis dan reflektif. Selain itu, Postman juga mengajukan Law of Diversity yang menekankan pentingnya keberagaman perspektif dalam pendidikan, serta Word Weavers yang menempatkan bahasa sebagai inti pembentukan makna manusia.

Melalui tawaran tersebut, Postman sebenarnya ingin mengembalikan pendidikan pada tujuan dasarnya, yaitu membentuk manusia yang mampu memahami dunia, bukan sekadar menguasai alat. Ia mengingatkan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat bantu dalam proses belajar, bukan menjadi pusat dari pendidikan itu sendiri. Tanpa narasi besar yang jelas, teknologi hanya akan mempercepat proses belajar tanpa memberi arah yang bermakna.

Sebagai sebuah karya pemikiran, buku The End of Education memiliki sejumlah kelebihan yang membuatnya tetap relevan hingga saat ini. Kelebihan utama buku ini terletak pada kemampuannya membaca perubahan zaman secara kritis. Postman mampu menunjukkan bahwa persoalan pendidikan bukan sekadar persoalan metode atau kurikulum, tetapi persoalan makna.

Ia juga berhasil mengaitkan berbagai bidang ilmu, mulai dari sejarah, filsafat, hingga sastra, untuk memperkuat argumennya. Hal ini membuat pembaca dapat melihat pendidikan sebagai bagian dari perjalanan panjang peradaban manusia, bukan sekadar sistem administratif di sekolah.

Baca jugaMBG Masuk Kampus: Babak Baru Tangan Besi Rezim Prabowo

“Persoalan tersebut mengharuskan adanya tujuan atau idealisme sekolah yang berorientasi untuk mengobati penyakit pada ilmu pengetahuan yang dimutlakkan kebenarannya” hal. 105

Namun demikian, buku ini juga memiliki beberapa kekurangan. Salah satu kekurangannya adalah penggunaan banyak referensi tokoh dan metafora yang terkadang membuat pembaca merasa kesulitan mengikuti alur pemikirannya. Postman tidak selalu memberikan langkah praktis yang dapat langsung diterapkan dalam ruang kelas, sehingga pembaca harus menafsirkan sendiri bagaimana gagasan-gagasannya dapat diwujudkan dalam praktik pendidikan sehari-hari.

Meskipun memiliki keterbatasan, buku The End of Education tetap menjadi bacaan penting dalam memahami arah pendidikan di era modern. Dalam konteks meningkatnya penggunaan AI dalam dunia pendidikan, pemikiran Postman memberikan peringatan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menggantikan tujuan utama pendidikan, yaitu menciptakan manusia yang berpikir kritis dan merdeka.

Penulis: Hanum Alkhansaa R.
Editor: Annisa Inayatullah