“Dengan ini masjid Al-Barokah kami resmikan!”

Suara itu menggema di seluruh blok rusun Tesakih, beberapa hari menjelang Ramadan. Mikrofon berdecit sebentar sebelum MC melanjutkan dengan penuh semangat. Warga berkerumun di lapangan sempit di depan bangunan baru itu, saling berdesakan, sebagian mengangkat ponsel untuk merekam.

Di depan, pita merah terbentang. Presiden Jojo Widodo tersenyum, memotongnya perlahan. Tepuk tangan pecah, riuh dan panjang.

“Saya berharap, dengan adanya masjid ini, bapak ibu di sini lebih terfasilitasi ibadahnya. Salatnya lebih nyaman. Nanti salat Id juga bisa lebih khusyuk,” katanya, disambut anggukan dan bisik-bisik setuju dari warga.

Baca juga: Puasa sebagai Seni Memahami Kemiskinan dan Kelaparan

Masjid itu berdiri megah di tengah Rusun Tesakih. Kubahnya berkilau, catnya bersih, lantainya mengilap. Lampu-lampu gantungnya bahkan terlihat mahal. Terlalu megah—untuk rusun yang dindingnya lembap, catnya mengelupas, dan lorongnya bau apek. Air sering mati tanpa pemberitahuan, dan saluran pembuangan kerap mampet.

Iklan

Rusun ini sudah delapan tahun berdiri, menampung warga dari berbagai penggusuran di Jakarta. Mereka dipindahkan, diberi unit kecil, lalu ditinggalkan. Tidak ada perbaikan berarti sejak itu. Tempat tinggal ada, tapi kehidupan tidak pernah benar-benar dipulihkan.

Di salah satu sudut, agak jauh dari kerumunan, Nek Siti duduk di kursi plastik tua. Ia merokok pelan, matanya menatap ke arah panggung dengan sorot lelah.

“Nek, kok gak ke depan? Ada presiden loh itu,” tanya Nina, perempuan muda yang berdiri di dekatnya.

Nek Siti menggeleng, lalu menghembuskan asap ke udara. Tangannya sesekali memegang betisnya yang membengkak.

“Boro-boro ke sana, Nin. Gue jalan aja gak kuat. Kaki begini dari kemarin. Mau berobat kagak punya duit. Apa gue minta aja ke presiden kali ya?” ucapnya sambil tertawa kecil.

“Yailah, Nek. Apa hubungannya sama pemerintah. Anak lu aja kali yang kagak kerja,” jawab Nina santai. Ia lalu mengeluarkan dua lembar uang merah. “Nih, gue ada dikit. Buat berobat.”

Nek Siti menerimanya. Ia tersenyum tipis, tapi pikirannya tidak berhenti di situ. Pertanyaan yang tadi sempat ia lontarkan, pelan-pelan kembali muncul.

Benarkah tidak ada hubungannya?

Ia teringat pada Adi, pemuda jangkung yang tinggal dua blok dari unitnya. Sejak pindah ke rusun, Adi putus sekolah dan mulai bekerja sebagai ojek online. Setiap hari ia berkeliling kota, mengejar orderan yang tidak menentu. Kadang dapat banyak, kadang pulang dengan uang yang bahkan tidak cukup untuk makan satu keluarga.

Ayahnya terkena stroke sejak beberapa tahun lalu dan tidak bisa bekerja lagi. Tubuhnya hanya terbaring di kasur sempit di dalam unit. Ibunya bekerja serabutan sebagai tukang cuci, berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lain. Semua beban hidup praktis ada di pundak Adi. Mungkin karena itu, Adi tidak pernah diam.

Iklan

“Iya, Bu. Hari ini saya cuma dapet tujuh puluh ribu, alhamdulillah sih … buat bayar pajak. Buat gaji presiden nanti. Siapa tahu matanya kebuka sama rakyat susah,” katanya suatu sore di lorong rusun.

“Aduh, Nak Adi … serem banget ngomong begitu. Udah deh, gak usah bahas politik. Saya mah mau cari duit aja.” Seorang ibu langsung menegurnya, wajahnya cemas.

Adi hanya tersenyum kecil. Tidak membantah. Percakapan seperti itu sering terjadi. Warga lain mulai menghindarinya. Mereka bilang Adi “keterlaluan”, terlalu berani, terlalu gamblang. Padahal yang ia katakan adalah hal-hal yang mereka rasakan juga, hanya saja tidak pernah mereka ucapkan.

Nek Siti sering mendengarnya. Awalnya ia merasa Adi berlebihan. Tapi lama-lama, kata-kata itu menempel di kepalanya.

Setiap habis pengajian, setiap selesai salat, ia mulai memikirkan hal-hal yang sebelumnya ia abaikan. Tentang air yang sering mati. Tentang anak-anak yang putus sekolah. Tentang orang sakit yang tidak bisa berobat.

Ia ingin bicara. Tapi ia takut. Sebagai gantinya, ia hanya mengeluh dalam diam—kepada Tuhan.

“Alhamdulillah ya, Pak Presiden dermawan. Ngasih kita masjid. Jadi salat Id lebih enak.”

Suara itu menarik Nek Siti kembali melihat ke kerumunan. Nina sudah pergi meninggalkannya, mendekat lalu masuk ke dalam kerumunan.

“Iya, nanti kalau air mati kita bisa numpang mandi di sini. Airnya bersih,” sahut yang lain.

“Besok puasa, kita bukber di sini aja. Katanya gratis. Lumayan gak usah beli.”

Warga tertawa kecil. Wajah-wajah lega memenuhi halaman itu.

Nek Siti diam.

Emang iya? Kenapa harus numpang? Kenapa gak dibenerin aja air di rusun? Sampai kapan kita bergantung begini?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya, makin lama makin keras. Untuk sesaat, ia goyah.

Jangan-jangan mereka benar. Mungkin selama ini hidupnya susah karena kurang taat. Mungkin anaknya tidak bekerja karena mereka kurang ibadah. Mungkin semua ini salahnya sendiri.

“APA GUNANYA MASJID MEWAH KALO SAYA GAK BISA MAKAN HARI INI, PAK?”

Suara itu tiba-tiba memecah kerumunan. Semua orang langsung terdiam. Beberapa menoleh cepat, sebagian lain pura-pura tidak dengar. Adi berdiri di tengah kerumunan, wajahnya tegang.

“SUSAH SAYA MAKAN, PAK! BANTUAN GAK ADA! MODAL GAK ADA! PINDAH KE RUSUN KITA DIANGGAP KAYA YA?”

Pengawal berpakaian hitam langsung bergerak, memegang lengannya. Menariknya mundur jauh.

“SAYA MASIH MISKIN, PAK! SAYA GAK MAKAN HARI INI! BAPAK PUNYA UANG BUAT MASJID BUAT APA?” teriak Adi lagi, berusaha melepaskan diri.

Tubuhnya ditarik menjauh. Sedikit demi sedikit semakin pelan suaranya.

“SAYA BAHKAN GAK TAU SAYA MASIH HIDUP PAS SALAT ID!”

Suaranya makin kecil, lalu hilang ditelan kerumunan. Tidak lagi terdengar. Sejak hari itu, Adi tidak pernah terlihat lagi.

Beberapa hari kemudian, Nek Siti memberanikan diri datang ke unitnya. Pintu terbuka. Di dalam kosong. Tidak ada barang. Tidak ada ayahnya. Tidak ada ibunya. Seperti tidak pernah ada yang tinggal di sana.

Padahal hari itu, banyak wartawan. Tapi tidak ada satu pun berita.

Idulfitri

Hari-hari berlalu. Ramadan datang dan pergi.

Pagi itu, Idulfitri tiba.

Anak laki-laki Nek Siti sudah rapi dengan baju koko. Ia masuk ke kamar, menatap ibunya yang masih terbaring di kasur.

“Buk, ayo salat Id.”

Di sampingnya, mukena terlipat rapi.

Nek Siti mencoba bangun. Ia menggerakkan kakinya. Tidak bisa. Air matanya langsung jatuh. Suaranya pecah di dalam kamar sempit itu.

“Ibuk gak bisa jalan, Nak … kaki ibu gak gerak. Ibu gak bisa salat Id lagi …”

Uang dua ratus ribu dari Nina sudah lama habis untuk makan. Ia tidak pernah berobat. Setiap hari menahan sakit, sampai akhirnya tubuhnya menyerah.

Di luar, takbir bergema dari masjid megah itu.

Di dalam, Nek Siti hanya bisa menatap langit-langit.

Kata-kata Adi kembali muncul di kepalanya. Lebih keras dari takbir.

Dan untuk pertama kalinya, ia mengungkapkannya lantang.

“Aku harusnya ngomong, Nak… aku harusnya gak biarin dia sendirian…”

Tangisnya makin dalam.

“Andai rumah kita gak digusur… andai kita gak di sini… kamu gak akan putus sekolah…”

Baca juga: Revolusi yang Belum Selesai

Ia menatap anaknya, dengan mata penuh penyesalan.

“Aku harusnya melawan, Nak. Dari dulu.”

Di luar, orang-orang berjalan menuju masjid.

Rapi. Bersih. Khusyuk.

Sementara di dalam kamar itu, seseorang yang sejak dulu diam—akhirnya sadar, tapi sudah terlambat.

Penulis: Hanum Alkhansaa R.