Senin (20/04), Marjin Kiri menggelar acara Public Lecture bersama Vijay Prashad, seorang sejarawan dan intelektual, dengan mengangkat tajuk “The Global South Today: Crisis, Resistance, and New Possibilities” di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM). Dalam diskusinya, Vijay membicarakan soal rasa solidaritas negara-negara selatan di tengah krisis dunia hari ini.
Vijay mulanya mengenalkan istilah “Dunia Ketiga” yang lahir dari ketegangan pasca perang dunia kedua. Hal ini yang kemudian memisahkan dunia terbagi menjadi dua bagian: Negara-Negara Bagian Utara dan Selatan. Ia menjelaskan, negara bagian selatan yang dimaksud seperti negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin ditempatkan sebagai pihak terasing dari negara berkekuatan besar.
Baca juga: Bahaya Patronase Negara dan Ulama
Melalui konstruksi ini, Vijay memandang, manusia di dunia ketiga seringkali diposisikan sebagai subjek pasif. Lebih dalam menurutnya, orang-orang di dunia ketiga dilihat oleh bangsa utara sekadar sebagai objek perebutan wilayah tanpa kedaulatan penuh atas wilayahnya sendiri.
“We don’t just walk for somebody else, we need to leave a mark on the earth (Kita tidak hanya berjalan untuk orang lain, kita perlu meninggalkan jejak di bumi),” ujarnya.
Vijay juga menerangkan, dari pengalaman panjang kolonialisme membangun satu kesadaran kolektif yang menyatukan bangsa-bangsa terjajah atas nasib yang sama. Ia melihat semangat bergerak bersama ini tercerminkan lewat Konferensi Asia Afrika, 1955 di Bandung.
Di bawah kepemimpinan Soekarno, Vijay mengatakan, untuk pertama kalinya sebanyak 29 pimpinan bangsa dipertemukan. Mereka menyusun tatanan dunia yang lebih adil untuk bangsanya sendiri. Dengan demikian, mereka tidak lagi dianggap sebagai subjek pasif yang mudah dikontrol oleh dominasi pihak asing.
“They tried to take away our memory (Mereka mencoba menghapus ingatan kita),” pungkas Vijay
Sementara itu, Vijay berpendapat, kolonialisme tidak hanya merampas tanah dan sumber daya, tetapi juga berusaha menghapus ingatan sejarah. Padahal, memori kolektif ini yang menjadi landasan sebuah pergerakan. Oleh Karena itu, Vijay mengajak generasi muda kembali membaca sejarah dengan mengambil pelajaran dari Konferensi Asia Afrika di Bandung untuk melihat dinamika pergerakan modern saat ini.
“We can go back to Bandung era for a lesson (Kita bisa kembali ke era Bandung untuk mengambil pelajaran),” ujarnya.
Namun, Vijay melanjutkan, berbeda dengan era Bandung, pergerakan massa tidak lagi melahirkan pemimpin-pemimpin revolusioner yang mampu menyatukan kekuatan lintas negara. Adanya pergeseran zaman menjadi penyebab renggangnya solidaritas negara-negara selatan saat ini.
Vijay melihat fenomena ini disebabkan karena banyaknya pergerakan massa yang tidak terorganisir. Pergerakan kerap berhenti setelah puncak gelombang kemarahan massa meredup tanpa ada langkah selanjutnya.
Baca juga: Kue untuk Militer dari Program Makan Bergizi Gratis
Tidak seperti dahulu, kenang Vijay, di saat pergerakan massa ditopang oleh struktur politik yang kuat. Krisis kepercayaan terhadap politik juga memperparah keadaan. Sebab baginya, banyak kekuasaan dari bangsa negara ketiga malah menurunkan kepercayaan publik.
Pada akhirnya, Vijay menegaskan dasar perlawanan terletak pada kesadaran berpolitik itu sendiri. Dimulai dari merawat ingatan lewat membaca sejarah dan menulis. Kemudian lahir kesadaran, dan timbul pergerakan-pergerakan. Lalu dari gerakan yang terorganisir, bukan tidak mungkin jika pemimpin revolusioner kembali lahir.
“We are human, we have memories, we remember them by writing (Kita adalah manusia, kita memiliki ingatan, kita mengingatnya melalui tulisan),” tutupnya.
Reporter/penulis: Anggun
Editor: Annisa

