Dari bengkel kampus UNJ, Si Pitung melaju ke sirkuit Qatar. Mobil hemat energi itu membawa Batavia Team meraih juara dunia.
Waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam saat General Manager Batavia Team Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rizky Ananda, menghampiri Tim Didaktika. Setelah membersihkan tangan dari debu dan oli perkakas mobil, mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Manufaktur angkatan 2023 itu mengarahkan Tim Didaktika untuk keluar bengkel—sebutan bagi sekretariat sekaligus laboratorium mobil milik Batavia Team UNJ.
“Kalau wawancara di dalam bengkel terlalu bising,” ucap lelaki yang akrab disapa Riznan itu.
Baca juga: Sulitnya Akses Pendidikan Anak-Anak di Rusun Bambu Apus
Riznan mengingat kembali perjalanan Batavia Team saat mengikuti kejuaraan Shell Eco-Marathon Asia Pacific and the Middle East 2025 di Losail International Circuit, Qatar, pada Februari lalu. Pada kejuaraan tersebut, Batavia Team menyabet juara pertama kategori Of-track Data and Telemetry.
Saat itu, Riznan menjelaskan Batavia Team memiliki tiga mobil yang berpeluang untuk berkompetisi. Pertama, mobil bernama Si Pitung yang berkategori prototype dan berbahan bakar bensin. Kedua, Si Fatahillah yang juga berkategori prototype dan berbahan bakar listrik. Terakhir, Si Jayaraya yang masuk kategori Urban Concept dengan bahan bakar yang dapat diubah antara bensin dan listrik.
“Sejak awal pendaftaran lomba, kami menghitung peluang di setiap kategori. Setelah membandingkan data hasil dan performa tim lain, dari tiga mobil yang kami miliki diputuskan hanya satu yang dibawa ke Qatar, yaitu Si Pitung,” tuturnya.
Persiapan lain yang dilakukan Batavia Team adalah uji coba mobil. Idealnya, uji coba dilakukan di sirkuit balap. Namun, Riznan menjelaskan keterbatasan biaya membuat hal tersebut tidak memungkinkan. Alhasil, Batavia Team hanya melakukan uji coba di kawasan sekitar kampus sebagai alternatif pengujian.
Lebih jauh, ia menyebut biaya perakitan satu mobil Batavia Team sejak awal, dengan proses trial and error, dapat mencapai sekitar Rp500 juta. Untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut, Batavia Team rutin mengajukan permohonan sponsor kepada perusahaan. Selain itu, sistem reimburse bagi anggota juga diterapkan karena dana organisasi dari kampus kerap terlambat cair. Tak sedikit anggota yang akhirnya merogoh kocek pribadi demi perakitan mobil.
Perjalanan Si Pitung menuju Qatar menjadi bagian paling menegangkan bagi Riznan. Ia bercerita, pengiriman Si Pitung dilakukan sebulan sebelum perlombaan dan harus dikemas dalam box truck melalui jalur laut.
Proses pengemasan pun tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Riznan menyebut pengemasan harus dilakukan dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Mereka memastikan seluruh perangkat mobil tidak mengalami karat, guncangan, maupun terkontaminasi suhu ekstrem selama proses pengiriman yang dapat memengaruhi performa mobil saat berlomba.
“Dua hari sebelum perlombaan, tujuh anggota Batavia Team berangkat ke Qatar. Setibanya di sana, kami langsung merakit kembali Si Pitung, menyiapkan tracking area, serta melakukan penyesuaian agar performa mobil maksimal pada hari perlombaan,” jelasnya.
Hari perlombaan pada Sabtu (8/2) menjadi momen penting bagi Batavia Team. Kompetisi dibagi menjadi dua kategori, on-track dan of-track. Pada kategori on-track, penilaian didasarkan pada seberapa efisien bahan bakar bensin yang digunakan mobil untuk menyelesaikan empat putaran sirkuit dalam waktu 30 menit. Sederhananya, penilaian berfokus pada kemampuan mobil menempuh jarak sejauh mungkin dengan konsumsi bahan bakar minimal.
“Waktu itu kami diberi 100 mililiter bensin, sementara yang terpakai hanya sekitar 40 mililiter dengan hasil 600 kilometer per liter. Dengan capaian itu, kami berada di peringkat keempat,” ungkapnya.
Tahap berikutnya, Si Pitung mengikuti penilaian kategori of-track, yang menilai kualitas desain, inovasi, keselamatan, serta aspek non teknis lainnya di luar lintasan. Dibandingkan mobil lain, Si Pitung unggul berkat sistem data dan telemetri berbasis Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini mampu menghitung dan mengukur raceline untuk menentukan titik paling efisien dalam mengatur peningkatan dan penurunan kecepatan mobil secara real time.
“Bersyukur dengan sistem itu, Si Pitung mampu meraih juara pertama kategori Of-track Data and Telemetry,” ucapnya bangga.
Kabar kemenangan tersebut cepat menyebar di kalangan diaspora Indonesia. Riznan menyebut salah satu bentuk apresiasi datang dari Keluarga Betawi Qatar (Labeiq) yang mengundang Batavia Team untuk merayakan kemenangan mereka. Selain itu, Batavia Team juga sempat diundang ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Qatar.
Di balik kemenangan yang mendunia, kesuksesan Batavia Team tidak lahir dari proses singkat. Perjalanan panjang itu justru bermula dari tongkrongan di kampus UNJ.
Riznan bercerita, pada 2012 Batavia Team hanyalah kumpulan mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Mesin yang kerap nongkrong hingga larut malam. Rasa iri melihat universitas lain lebih dahulu berprestasi di bidang otomotif memantik gagasan mendirikan Batavia Team, sebuah organisasi yang berfokus pada pengembangan kendaraan otomotif ramah lingkungan.
“Pada awalnya kami belum diakui sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa, jadi belum punya sekretariat. Jalanan di depan Gedung L menjadi bengkel sekaligus tempat tidur. Ada peribahasa waktu itu, kalau malam diserang nyamuk, kalau pagi dikerubungi lalat,” ujarnya berseloroh.
Dengan semangat yang kukuh, dua tahun berselang Batavia Team meraih trofi pertamanya. Pada 2014, mereka menjuarai Indonesia Energy Marathon Challenge (IEMC) kategori prototype berbahan bakar bensin.
Persiapan Fisik dan Mental yang Kuat
Kemenangan Batavia Team tidak bisa dilepaskan dari perjuangan pengemudi mobil, Wisnu Febrian. Mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Manufaktur angkatan 2023 itu menceritakan perjuangannya menjaga kekuatan fisik sebelum melaju di Sirkuit Malam—julukan bagi Losail International Circuit.
“Digembleng fisik dari jauh-jauh hari untuk meningkatkan ketahanan paru-paru. Capeknya bukan karena mengemudi, tetapi karena udara di dalam kokpit terbatas dan pengap,” ujarnya.
Selain mempersiapkan fisik, Wisnu juga melatih mental melalui uji coba mobil secara rutin. Hampir setiap tengah malam menjelang perlombaan, ia berlatih mengendarai Si Pitung di jalanan sekitar kampus, terutama di kawasan Jalan Rumah Sakit Persahabatan.
Ia juga merasakan perbedaan jenis aspal dan suhu antara Jakarta dan Qatar sebagai tantangan tersendiri. Namun, menurutnya, di situlah kecakapan seorang pengemudi benar-benar diuji.
Militan, Proses, dan Perjuangan Panjang Batavia Team
Pembina Batavia Team UNJ, Catur Setyawan Kusumohadi, menyebut anggota Batavia Team sebagai pribadi-pribadi yang militan. Ia mengingat betul perjuangan generasi awal Batavia Team yang rela menyisihkan waktu siang dan malam untuk menggarap mobil. Semangat itu, menurutnya, terus diwariskan hingga kini.
Catur mengapresiasi kerja keras anggota Batavia Team yang berhasil menorehkan berbagai prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Namun baginya, capaian tersebut tidak bisa dilepaskan dari proses panjang dan perjuangan, bukan semata hasil akhir.
“Di era yang katanya Gen Z tidak bisa melakukan apa-apa, mereka membuktikan bahwa Gen Z mampu meraih juara di tingkat internasional,” ujarnya.
Ia juga menyoroti keanggotaan Batavia Team yang kini semakin beragam dengan masuknya mahasiswa dari berbagai fakultas. Menurutnya, keberagaman latar belakang akademik justru memberikan dampak positif bagi perkembangan tim ke depan.
Lebih lanjut, Catur berpesan kepada sivitas akademika UNJ agar tidak membandingkan prestasi Batavia Team dengan kampus lain seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Menurutnya, dukungan dan modal yang diberikan kampus tentu berbeda karena UNJ sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) lebih berfokus pada bidang keguruan.
Baca juga: Virus
“Kalau ada yang berkomentar, ‘Kenapa Batavia tahun ini tidak menang?’ saya ikut sakit hati. Coba lihat kerasnya perjuangan teman-teman di Batavia,” pesannya.
Dengan banyaknya prestasi yang telah dipersembahkan untuk kampus, Catur berharap pimpinan UNJ dapat memberikan bentuk penghargaan kepada anggota Batavia Team. Menurutnya, penghargaan tersebut dapat menjadi pemacu semangat untuk terus berprestasi.
“Hadiah tidak selalu soal uang, bisa juga berupa beasiswa bagi anggota Batavia Team,” pungkasnya.
Penulis/Reporter: Zidnan Nuuro
Editor: Zahra Pramuningtyas
*Berita ini merupakan bagian dari rubrik Karya Majalah Didaktika Edisi ke-52

