Judul Lagu: Tiada Tuhan Selain Pemilik Kapital
Durasi Lagu: 4:59
Rilis: Oktober 25, 2024
Penulis Lagu: Efek Rumah Kaca, IKLIM
Orang utan terdesak tambang, hutan hanya milik orang
Harimau turun ke dusun-dusun, mungkin kesal patungnya culun
Begitulah sepenggal lirik pembuka lagu “Tiada Tuhan Selain Pemilik Kapital” karya kolaborasi Efek Rumah Kaca dan IKLIM. Alih-alih sekedar metafora, lirik tersebut terasa seperti ringkasan getir atas kondisi ekologis hari ini.
Baca juga: Tambal Sulam Masalah Kemiskinan Lewat Sekolah Rakyat
Ingatan saya kembali pada bencana banjir yang menerjang Sumatera pada akhir November 2025. Di saat air merendam pemukiman, media sosial seketika diramaikan dengan beredarnya video banjir bandang yang menyeret tumpukan kayu gelondongan.
Perdebatan pun segara ramai. Warganet umumnya mengecam pemerintah yang dinilai gagal menindak pembalakan liar dan sembarangan memberi izin kepada perusahaan. Menelusuri lebih jauh, pengguna sosial media mulai berpendapat laju ekspansi perkebunan sawit secara masif sebagai biang keladi.
Kecurigaan tersebut bukan tanpa dasar. Pasalnya, luas perkebunan sawit Indonesia memang terus naik dari tahun ke tahun. Pun, laju ekspansi itu semakin menggeliat di bawah rezim Prabowo.
Dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025-2029 pada Desember 2024, Prabowo secara terbuka menyatakan bahwa Indonesia perlu menambah penanaman kelapa sawit. Baginya, sawit adalah kunci swasembada energi nasional. Ia membayangkan impor BBM senilai Rp 520 triliun per tahun bisa dipangkas lewat biodiesel berbasis sawit, sehingga setiap kabupaten berpotensi mendapat anggaran hingga Rp1 triliun per tahun.
Sayangnya semangat itu tidak diikuti dengan pembacaan ekologis yang baik. Pada praktiknya, penanaman sawit sebagai tanaman monokultur terbukti dapat menggerus keanekaragaman hayati dan merusak struktur tanah. Menurut National Geographic Indonesia, jika sawit terus ditanam secara masif, akan terjadi penurunan fungsi ekosistem yang dapat mengancam kesejahteraan manusia dalam jangka panjang.
Namun, seakan sudah dimabuk cinta dengan sawit, Prabowo tampak mengabaikan hal tersebut. Luas perkebunan sawit Indonesia terus bertambah dari 15,93 juta hektar pada 2023 menjadi 16,01 juta hektar pada 2024 berdasarkan data BPS, dengan 2,9 juta hektar di antaranya berasal dari konversi hutan alam. Selama 2017 hingga 2023, deforestasi akibat sawit rata-rata melenyapkan 55.083 hektar hutan setiap tahunnya.
Ironisnya, di tengah laju kerusakan yang belum terkendali ini, Presiden Prabowo justru menyatakan tidak perlu takut dengan tuduhan deforestasi. “Saya kira ke depan kita harus tambah tanam kelapa sawit. Enggak usah takut apa itu katanya membahayakan, deforestation, namanya kelapa sawit ya pohon, ya kan?” demikian katanya.
Fenomena tersebutlah yang tampaknya hendak dibidik dalam lirik ‘Investasi bagai tanaman, mesti tumbuh dan berkembang’. Bait ini menggambarkan bagaimana logika investasi telah tumbuh melampaui hakikat tanaman itu sendiri. Ia dipaksa tumbuh tanpa batas dengan mengabaikan kerusakan ekologis dan konflik agraria yang mengikutinya.
Logika bisnis investasi gamblang terlihat melalui untuk siapa ekspansi itu sesungguhnya mengalir. Dalam praktiknya, pengelolaan perkebunan sawit dominan diserahkan ke tangan korporasi besar. Dengan 92% lahan dikuasai oleh korporasi, sementara masyarakat hanya menguasai 8% sisanya. Jelas hal ini menyebabkan ketidakadilan akses terhadap sumber daya alam.
Jauh sebelum itu, pemerintah lewat Pasal 110 A dan 110B dalam Undang-Undang Cipta Kerja, melakukan pemutihan terhadap 3,3 juta hektar perkebunan sawit yang sebelumnya ilegal. Hal ini menunjukkan keberpihakan mereka terhadap korporasi.
Antusiasme Prabowo terhadap sawit, dengan demikian, tidak berujung pada pemerataan, melainkan pada konsentrasi kuasa atas tanah yang semakin rakus. Frasa ‘Kepongahan tak kurang-kurang, siapa sekarang raja alam?’ seolah-olah menggambarkan kondisi tersebut.
Jika demikian, janji pembangunan ekonomi ini sesungguhnya untuk siapa? Dengan begitu lirik ‘Keserakahan tak kenyang-kenyang, apa itu kepedulian?’ hadir sebagai pemantik diskusi atas pertanyaan tersebut.
Dari Komoditas ke Kekuasaan
Tiada tuhan selain pemilik kapital,
Kepada laba menghamba setia
Dari lirik-lirik sebelumnya, kita sudah diajak menyaksikan berbagai wajah kerusakan dan penguasaan atas alam yang semakin terkonsentrasi. Jika pada bagian awal pelakunya masih samar, lirik ini secara langsung menunjuk aktor utama, yakni pemilik kapital.
Dalam sistem kapitalisme, pemilik kapital atau modal memiliki kemampuan untuk terus berekspansi. Orientasinya jelas, mengakumulasi keuntungan sebesar-besarnya.
Lalu mengapa ERK menyebut kapital sebagai Tuhan? Penyebutan “tuhan” dalam lirik tersebut dapat dibaca sebagai upaya untuk menjelaskan posisi dominan pemilik kapital. Dalam banyak tradisi kepercayaan, Tuhan dipahami sebagai entitas yang memiliki kuasa tertinggi dan keputusannya tidak dapat dibantah. Pemilik kapital bekerja dengan pola serupa dalam struktur ekonomi modern.
Dengan kepemilikan modal, mereka berada pada posisi yang memungkinkan untuk menentukan arah kebijakan, distribusi sumber daya, dan prioritas pembangunan. Kekuasaan ini tidak selalu hadir dalam bentuk paksaan langsung, tetapi bekerja melalui sistem yang telah diterima sebagai sesuatu yang normal.
Kenormalan tersebut dilanggengkan melalui geliat negara yang menyediakan regulasi perlindungan hukum, sehingga narasi pembangunan diterima luas sebagai kebenaran. Dalam kondisi ini, kerusakan lingkungan dan hilangnya ruang hidup masyarakat tetap berlangsung tanpa hambatan berarti. Dominasi inilah yang membuat pemilik kapital digambarkan sebagai “tuhan” dalam tatanan hari ini.
Untuk membedah fenomena ini lebih jauh, kita dapat meminjam analisis Karl Marx tentang fetisisme komoditas. Marx menjelaskan bahwa dalam masyarakat kapitalis, hubungan sosial antar manusia dikaburkan dan digantikan oleh hubungan antar barang atau modal. Komoditas tampil seolah memiliki kekuatan otonom, sementara relasi produksi yang melahirkannya disembunyikan di balik logika pasar.
Di Indonesia, pemujaan terhadap komoditas ini paling telanjang tercermin dalam fenomena ekspansi perkebunan sawit secara masif. Dalam kasus tersebut, lahan tidak lagi dilihat dari nilai gunanya sebagai ruang hidup atau sebagai penopang ekosistem, melainkan semata-mata sebagai nilai tukar.
Di sinilah yang dimaksud Marx dengan fetisisme. Komoditas sawit diperlakukan seolah memiliki daya “ilahiah” untuk membawa kemakmuran. Bagi Marx, proses ini menunjukkan bagaimana modal menjelma sebagai subjek yang hidup. Sementara diwaktu yang sama, manusia dan alam diturunkan derajatnya menjadi objek pasif yang hanya bernilai sejauh dapat diubah menjadi keuntungan.
Dalam kondisi demikian, kapitalisme bekerja layaknya “tuhan”. Ia maha kuasa dalam menentukan arah pembangunan, maha hadir dalam setiap jengkal sumber daya alam, dan maha tahu dalam memutuskan masa depan suatu wilayah tanpa perlu berkonsultasi dengan mereka yang hidup didalamnya,
Sehingga geliat Prabowo dapat dilihat sebagai representasi negara yang tidak lagi berdiri sebagai pelindung kepentingan bersama. Alih-alih, bertindak layaknya “nabi” yang mewartakan kepentingan investor sebagai kepentingan nasional.
Baca juga: Penyiraman Narasi Sesat Buatan Penguasa di Jalan Buntu Keadilan
Prabowo memposisikan perkebunan sawit sebagai solusi yang absolut. Menjadikannya semacam doktrin pembangunan yang harus diterima tanpa sanggahan.
Dengan begitu, lirik ‘Kepada laba menghamba setia’ menggambarkan dengan telak bagaimana birokrasi dan kebijakan publik kini kian sujud pada indikator ekonomi makro. Pertumbuhan ekonomi, investasi, dan profit diperlakukan sebagai ibadah wajib yang tak bisa ditinggalkan.
Pada akhirnya, lagu “Tiada Tuhan Selain Pemilik Kapital” menjadi cermin. yang dihadapkan pada wajah peradaban kita sendiri. Hari ini kapitalisme tidak lagi membutuhkan pemaksaan untuk ditaati. Ia hanya cukup menawarkan janji kemakmuran, dan kita sendiri yang membangun altar pemujaan untuknya.
Penulis: Khalda Syifa
Editor: Hanum Alkhansaa

