Matahari 2 Mei jatuh tegak lurus di atas lapangan berdebu SD Negeri Harapan Pinggiran. Di depan tiang bendera, suara Kepala Sekolah berdengung melalui pelantang suara yang sember, membacakan pidato resmi dari pusat kota.

“Di era disrupsi dan kecerdasan buatan ini, kita harus berlari mencetak Generasi Emas 2045! Pembelajaran harus berbasis teknologi, anak-anak kita harus menguasai coding, dan kita harus siap bersaing di kancah global!”

Baca jugaBahaya Pembusukan Otak bagi Generasi Muda

Di barisan paling belakang, Pak Umar berdiri tegap. Seragam PGRI-nya yang mulai memudar di bagian bahu tampak kontras dengan kata-kata mengkilap yang baru saja mengudara. Umar, seorang guru honorer yang usianya hampir menyentuh kepala lima, tersenyum tipis.

Gaji Umar bulan ini, yang besarnya tidak lebih dari harga sepasang sepatu lari milik pejabat kementerian, belum juga turun. Bulan lalu, gajinya itu sudah habis untuk menalangi kuota internet sekolah agar ia bisa mengunggah laporan administrasi ke server pusat. Pusat meminta bukti foto “pembelajaran inovatif berbasis digital” beresolusi tinggi, sementara atap ruang kelas Umar masih bocor tiap kali gerimis turun.

Pandangan Umar beralih dari tiang bendera ke barisan murid kelas empat. Matanya mengunci pada Rendi. Anak laki-laki bertubuh kurus itu tampak pucat, tubuhnya oleng ke kiri dan ke kanan, menahan beban matahari yang semakin memanggang.

Iklan

Sepatu Rendi yang ujungnya sudah menganga seperti mulut buaya, tampak tidak siap membawa anak itu berlari menuju tahun 2045.

Kemarin, saat pelajaran usai, Rendi mendatangi meja Umar.

“Pak Guru,” panggil Rendi pelan. “Kata Bapak di berita, sekarang ada mesin pintar yang bisa jawab apa saja. Namanya Ai, ya Pak?”

“AI, Rendi. Artificial Intelligence. Kecerdasan buatan,” koreksi Umar lembut.

“Iya, itu. Kalau dia sepintar itu, bisa nggak Pak dia ngasih tahu di mana bapak saya bisa dapat pupuk murah? Bapak sudah dua minggu narik ojek, tapi pupuk di KUD tetap kosong. Padi kami menguning sebelum waktunya, Pak.”

Umar terdiam saat itu. Mulutnya kelu. Bagaimana ia harus menjelaskan algoritma masa depan kepada seorang anak yang perutnya diikat oleh kelaparan hari ini? Bagaimana ia bisa mengajarkan bahasa pemrograman kepada murid yang harus mengeja tagihan utang orang tuanya setiap malam?

Gedebuk!

Suara benda jatuh membuyarkan lamunan Umar. Rendi ambruk di tengah lapangan. Barisan anak-anak panik. Pidato Kepala Sekolah terhenti sejenak, tergantikan oleh suara bising guru-guru yang berlarian.

Umar yang paling cepat tanggap. Ia mengangkat tubuh kecil yang ringan itu, membawanya ke ruang UKS yang hanya beralaskan tikar pandan dan berbau minyak kayu putih. Ia melonggarkan kerah seragam Rendi, mengoleskan minyak ke pelipisnya, dan menyodorkan teh manis hangat saat kelopak mata anak itu perlahan terbuka.

“Maaf, Pak,” bisik Rendi parau. “Saya belum sarapan. Berasnya habis.”

Iklan

Umar menelan ludah. Ada batu besar yang tiba-tiba menyumbat tenggorokannya. Ia mengusap rambut Rendi yang lepek oleh keringat dingin.

Di luar, upacara kembali dilanjutkan. Sayup-sayup terdengar paduan suara menyanyikan Hymne Guru. Pahlawan tanpa tanda jasa. Umar selalu merasa frasa itu diciptakan bukan untuk memuliakan guru, melainkan agar negara punya alasan untuk tidak membayar mereka dengan layak.

Namun, menatap mata Rendi yang sayu, Umar sadar satu hal. Generasi emas mungkin sedang dirancang di laboratorium mentereng dan ruang rapat ber-AC di ibu kota. Tapi di sini, di bawah atap seng yang cemas ini, tugas Umar bukan menciptakan robot yang pandai merakit masa depan. Tugasnya jauh lebih mendasar dan manusiawi, menjaga agar anak-anak ini tetap hidup, tetap waras, dan tetap punya alasan untuk datang ke sekolah besok pagi.

Baca jugaKelesuan Organisasi Perguruan Tinggi sebagai Lonceng Kematian Pendidikan Nasional

Umar mengambil kapur tulis dari sakunya—sebuah benda kuno yang mungkin sebentar lagi punah ditelan layar sentuh. Ia berjanji dalam hati, besok ia tidak akan mengajar tentang kecerdasan buatan. Besok, ia akan mengajar tentang kecerdasan bertahan hidup. Sebab apalah artinya teknologi yang bisa meraih bintang, jika kaki anak-anaknya bahkan tak sanggup berdiri tegak di atas bumi tempat mereka berpijak.

“Ing ngarso sung tulodo,” gumam Umar pelan, mengutip Ki Hajar Dewantara, sambil memeluk bahu Rendi. Di depan memberi teladan, di belakang menyembunyikan lapar.

Penulis: Shari Angelica