Perempuan itu tidak pernah diberi nama, mereka bilang dirinya tidak pantas untuk disematkan sebuah rangkaian huruf yang begitu lemah, kontras dengan wujudnya yang bisa membakar kota. Ia lahir sebagai api, atas doa restu dari asap yang selalu menemaninya ke mana pun sang api pergi.
Ibunya merupakan cahaya. Bentuknya bukan menyilaukan, melainkan yang sabar tinggal di sela-sela gelap dan menuntun tanpa banyak suara. Ia menerangi tanpa pernah meminta dunia mengingat namanya. Dari ibunya, api belajar bahwa untuk menjadi terang perlu sinar yang cukup.
Sementara ayahnya adalah panas. Keberadaannya kadang tak terlihat namun selamanya bisa dirasakan. Kadang mendekap, kadang menyengat hingga sulit dibedakan antara hangat dan bara. Panas membentuk perempuan itu dengan langkah yang acap kali tidak bisa ia terima.
Keras, menuntut, dan serba cepat sebelum kobarannya menyurut. Kuat adalah hasil cetak yang diidamkan oleh panas, bahkan sebelum sang api belum sempat mengerti caranya bertahan. Diapit oleh cahaya yang menjaga dan panas yang menguji, api tercipta menjadi nyala yang bisa menghangatkan dan membakar.
Api yang dikenal bukan api yang ramah di tungku dapur, bukan pula nyala lilin yang tunduk pada hembusan angin lesu. Perempuan itu adalah api yang menyelinap di bawah kulit, berdenyut pelan seperti rahasia yang diwariskan dari perempuan ke perempuan. Dari mereka yang tidak direstui untuk menghasilkan tapi tetap berkobar.
Orang-orang bilang ia terlalu terang. Padahal yang mereka maksud lebih pada terlalu sulit dipadamkan.
Sejak kecil, dirinya diajarkan untuk menjadi abu. Duduk yang sopan. Tidak bersuara. Keberadaanya teronggok dilupakan di sudut ruangan. Ia pernah mencoba, sungguh, mencoba mengecilkan dirinya seperti sumbu yang dipotong pendek. Tapi setiap kali ia menunduk, ada sesuatu di dadanya yang berdesis, seperti minyak yang dituang ke wajan yang panas.
Perempuan itu tahu, suatu hari nanti, ia akan meluap.
Kemudian datanglah seseorang yang kehadirannya bak bensin. Dirinya tidak mengetuk pintu, tidak meminta persetujuan. Ia hanya tiba-tiba ada, seperti tumpahan yang mengilap di lantai, sesuatu yang berbahaya namun memikat. Ketika mereka bertemu, alih-alih berubah menjadi lebih baik, dunia malah lebih mudah terbakar.
“Kau ini apa?” Bensin membuka percakapan di malam hari, saat lampu telah dimatikan dan jendela ditutup rapat.
“Aku tidak tahu,” jawab sang api. Asap naik perlahan dari tenggorokannya.
Bensin tertawa kecil, suaranya lembut. “Kau tahu. Kau hanya diajarkan untuk pura-pura tidak tahu.”
Lalu ia mendekat.
Tidak ada yang benar-benar terjadi pada saat itu, tidak ada percikan dan ledakan. Hanya ada kesadaran yang sunyi bahwa jika mereka memilih untuk saling menyentuh, maka tidak akan ada jalan kembali ke bentuk semula. Dan perempuan itu, yang telah terlalu lama hidup sebagai bara yang disembunyikan, akhirnya lelah berpura-pura dingin.
Ia menyentuh.
Api tidak pernah meminta izin untuk membesar. Ia hanya butuh satu alasan kecil, satu percikan yang cukup nekat untuk berkata: sekarang.
Maka mereka terbakar.
Bukan seperti cerita-cerita yang manis. Tidak ada musik latar, tidak ada janji abadi, hanya panas yang rakus. Bergerak cepat menjalar ke dinding-dinding yang selama ini dibangun untuk menjaga dirinya tetap kecil. Ia merasakan tubuhnya berubah menjadi sesuatu yang lebih jujur, lidah api yang menari tanpa takut dinilai terlalu banyak.
“Aku akan menghancurkan segalanya,” kata api di sela-sela napas yang terasa seperti asap.
“Memang,” jawab bensin itu ringan.
Ia ingin takut. Ia ingin mundur. Tapi setiap kali ia mencoba meredam diri, bensin itu justru menuangkan lebih banyak keberanian ke dalam dirinya, menusuk masuk dalam pikirannya. Jalannya dalam memandang dunia yang selama ini terlalu sempit mulai terbuka lebar.
Ia mulai menulis seperti orang yang tidak takut dibakar hidup-hidup oleh kata-katanya sendiri. Ia mulai berbicara seperti seseorang yang tahu suaranya bisa melukai, tapi memilih untuk tetap menggunakannya. Ia mulai hidup tanpa meminta maaf atas panas yang ia bawa.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa bersalah.
Semakin besar ia menyala, semakin jelas terlihat bahwa bensin tidak diciptakan untuk tinggal. Ia hanya datang untuk mempercepat, memperparah, dan memastikan bahwa tidak ada lagi bagian dari dirinya yang tersisa dalam bentuk lama.
Suatu pagi, tanpa aba-aba, bensin itu menghilang.
Tidak ada perpisahan dramatis. Tidak ada kata terakhir yang bisa dipeluk seperti selimut. Hanya sisa bau yang masih menggantung di udara. Terasa tipis, hampir tidak ada, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa semuanya pernah begitu nyata.
Perempuan itu berdiri di tengah apa yang tersisa.
Ia menunduk, melihat tangannya sendiri. Tidak ada luka. Tidak ada abu yang menempel. Hanya cahaya kecil yang masih berkedip di ujung-ujung jarinya, seperti ia kini telah belajar mengendalikan apa yang dulu hampir melahapnya habis.
Ternyata ia tidak menjadi abu. Ia tetap api. Bedanya, kini ia tidak lagi membutuhkan bensin untuk merasa hidup.
Orang-orang akan tetap bilang ia terlalu terang. Terlalu berani. Mereka akan terus mencoba menamainya dengan kata-kata yang lebih kecil dari dirinya. Namun sekarang ia tidak lagi keberatan.
Sebab sang api tahu, menjadi dirinya bukan tentang mencari sesuatu untuk dibakar, melainkan tentang mengingat bahwa terang juga bisa lahir dari kehancuran. Dan jika suatu hari dunia kembali mencoba memadamkannya, ia hanya perlu camkan satu hal sederhana: mengingat bagaimana rasanya menyala tanpa izin.
Penulis: Safira Irawati

