Hari demi hari terlewati.
Pekerja-pekerja perempuan…
Di rumah-rumah gedong nan megah.
Dengan telapak kaki pecah-pecah, dan hati yang remuk,
dipaksa kerja dengan segala penindasan.
Menggosok baju, merapikan perabotan, meramu makanan,
hingga menyisir anjing peliharaan majikan.
Tiada henti. Waktu demi waktu. Hingga kulit keriput,
dan memar di pelipis wajah.
Perempuan pekerja rumah tangga. Laiknya beringin di tengah hutan,
yang terus-menerus dihisap.
Dihisap oleh benalu yang menjadikan beringin mati perlahan.
Nian malang nasibnya…
Tiada perlindungan baginya.
Tiada kawan yang menemaninya.
Bahkan, sosok-sosok berjas dan bergaun dengan solekan
di wajah menutup diri.
Sosok-sosok yang duduk dengan balutan perhiasan di parlemen.
Mereka melengos dan berlari begitu saja…
Bagaikan babi hutan mengejar mangsa—yang membuat
perutnya bersahaja.
Ketertindasan perempuan pekerja rumah tangga—dianggap fiksi belaka.
Yang termaktub dalam tumpukan kertas usang.
Yang tak kunjung menjadi payung hukum bagi pekerja perempuan.
Penulis: Lalu Adam Farhan Alwi

