Memasuki penghujung semester dua, mahasiswa FPsi dan FBS angkatan 2025 masih belum mendapatkan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Walhasil, mahasiswa merasa dirugikan akibat hak mereka yang tak kunjung menemui kejelasan sampai saat ini.

KTM merupakan identitas yang menandakan seseorang terdaftar di perguruan tinggi. Namun, sejak masuk tahun ajaran baru 2025/2026, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) dan Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) masih belum mendapatkan KTM.

Karena tidak ada pernyataan resmi mengenai keterlambatan, sejumlah mahasiswa memprotes. Salah satunya mahasiswi Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris, Agustina Russel, yang mengeluhkan rumitnya akses perpustakaan akibat tidak memiliki KTM.

Baca jugaKebijakan Simpang Siur, Aturan Baru Perpustakaan Tuai Keluhan Mahasiswa

Selain itu, sebagai pengguna kendaraan bermotor, Russel terpaksa membeli kartu uang elektronik (e-money) sebagai pengganti KTM untuk akses keluar-masuknya. Pun, kartu e-money digunakannya untuk menikmati fasilitas parkir gratis. Apabila tidak, ia terpaksa merogoh kocek sebesar Rp10.000 setiap hari bila datang ke UNJ.

“Karena nggak punya KTM, jadi harus beli e-money di Indomaret. Jadinya harus mengeluarkan biaya lagi,” keluhnya saat diwawancarai pada Senin, (20/4).

Iklan

Senada dengan Russel, Mahasiswi Prodi Psikologi Shafa Khairunnisa mengatakan, KTM menjadi syarat wajib dalam pendaftaran Beasiswa Unggulan (BU) yang akan diikutinya. Dalam persyaratannya, ia diwajibkan melampirkan KTM, Kartu Rencana Studi, dan Kartu Hasil Studi. Sehingga, jika salah satunya tidak ada, syarat beasiswa tidak bisa terpenuhi.

“Hal seumum KTM aja belum ada, jadinya berkas-berkas pendaftaran beasiswa terhambat. Soalnya KTM belum terpenuhi,” keluhnya saat diwawancarai Tim Didaktika pada Sabtu (18/4).

Berdasarkan informasi yang didapatkan Tim Didaktika dari Divisi Advokasi dan Kesejahteraan Masyarakat, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNJ, pernah melakukan audiensi sekali dengan Direktur Akademik, Agung Premono. Hasilnya, pihak Bank Tabungan Negara (BTN) menjanjikan akan mendistribusikan KTM bagi mahasiswa FBS dan FPsi pada tanggal (12/1/2026).

Notulensi hasil audiensi dengan Direktur Akademik UNJ pada Rabu (7/1)

Sumber: Dok. Adkesma BEM UNJ

Akan tetapi, waktu distribusi KTM yang telah dijanjikan lewat notulensi audiensi itu tak kunjung terlaksana. Mahasiswa FBS sampai saat ini belum mendapatkan kartu identitas tersebut. Sedangkan pada awal Mei, distribusi KTM kepada Mahasiswa FPsi baru mencapai 150 kartu dari total 450 mahasiswa.

Saat ditemui di kantornya oleh Tim Didaktika, Agung Premono mengatakan pihak kampus tidak dapat memberikan kepastian mengenai selesainya distribusi KTM. Menurutnya kendalanya ada pada pihak BTN. Lebih lanjut Agung mengatakan, dalam alur produksi KTM, pihak UNJ hanya diberikan kewajiban untuk memberikan data sesuai dengan yang diminta oleh pihak bank.

“Kita kerja sama dengan empat bank dalam produksi KTM, tapi yang terlambat hanya dari BTN. Jadi, kalau pihak bank mengatakan masalahnya ada pada data, ya logikanya semua bank akan sama telatnya dong,” tegasnya.

Dalam upaya meminta pertanggungjawaban, Agung secara rutin mengundang pihak BTN setiap bulannya untuk meminta kepastian ihwal distribusi KTM. Hal itu dilakukannya sejak masa orientasi mahasiswa baru. Namun, pihak bank kerap kali tidak memenuhi undangan tersebut.

Agung mengingat, suatu waktu pihak BTN pernah memenuhi undangan dari UNJ. Walaupun datang, pihak perbankan hanya mengirimkan perwakilan yang tidak memahami permasalahan yang sedang terjadi.

“Ketika semua tanggung jawab sudah beralih ke bank, kami hanya bisa terus menagih untuk kelanjutannya,” ujar Agung.

Iklan

Menyoal persyaratan administrasi beasiswa maupun lomba, Agung menjelaskan bahwa mahasiswa dapat menghubungi masing-masing fakultas untuk menerbitkan surat pengganti KTM. Ia menambahkan, pihak Direktorat Akademik saat ini hanya berfokus menyelesaikan pendistribusian KTM. Sehingga, pengurusan surat keterangan mahasiswa sepenuhnya menjadi wewenang fakultas.

Baca jugaProyek Pemain Naturalisasi: Solusi Semu Sepak Bola Indonesia

Selain itu, Agung mengaku telah bersurat resmi kepada Wakil Rektor I guna mengevaluasi kerja sama dengan BTN. Kemudian, ia merekomendasikan agar tidak berkolaborasi dengan bank tersebut dalam produksi KTM pada tahun ajaran 2026. Ia pun menyarankan kampus untuk bekerja sama dengan dua mitra perbankan yang dipercaya, yakni BNI dan Mandiri.

Tim Didaktika telah melayangkan surat permohonan wawancara kepada pihak Bank BTN untuk mengonfirmasi ihwal permasalahan distribusi KTM, pada Kamis (23/4). Walaupun sudah bersepakat atas waktu wawancara pada Rabu (13/5), kemudian diundur pada Senin (18/5), pihak Bank BTN tidak memenuhi kesepakatan itu. Pun, hingga berita ini diterbitkan, hasilnya nihil.

Reporter/penulis: Audy Gemaria

Editor: Hanum Alkhansaa R.