Judul Buku: Hypercapitalism: The Modern Economy, Its Values, and How to Change Them
Penulis: Larry Gonick & Tim Kasser
Desain sampul: Larry Gonick
Tahun terbit: 2018

Desember lalu, Tempo menerbitkan laporannya mengenai kondisi ekonomi Indonesia saat ini berjudul Bagaimana Ekonomi Sensasi Mendorong Konsumsi. Dalam laporannya, Tempo menyoroti fenomena antrean panjang konser, perburuan kuliner viral, hingga ledakan gangguan layanan paylater demi pengalaman gaya hidup menjadi potret keadaan ekonomi Indonesia saat ini.

Fenomena itu bisa disebut juga dengan “ekonomi sensasi”, sebuah kondisi di mana konsumsi masyarakat justru melonjak pada sektor-sektor yang menawarkan validasi dan pengalaman sesaat, meski di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi makro. Perilaku ini kerap kali dipandang sebagai tren gaya hidup sesaat atau dangkalnya prioritas generasi muda.

Baca juga: Vijay Prashad: Berorganisasilah untuk Melawan

Buku grafis karya Larry Gonick dan Tim Kasser yang berjudul Hypercapitalism: The Modern Economy, Its Values, and How to Change Them (2018), buku komik yang menggabungkan narasi visual komedik Larry Gonick dengan landasan riset psikologis Tim Kasser, mencoba membedah konsumsi masif masyarakat. Di dalamnya, mereka menjelaskan bagaimana sistem ekonomi saat ini dapat memengaruhi nilai-nilai kemanusiaan dan kesehatan mental kita.

Dalam karya Gonick dan Kasser, kita dapat membedah kegandrungan masyarakat Indonesia yang memenuhi hasrat konsumsinya dengan pengalaman mewah. Fenomena tersebut merupakan wujud dari pengaturan sistemik yang mendorong individu untuk menjadi konsumen.

Iklan

Individu terus dipaksa melalui sistem yang terus memproduksi hal-hal baru untuk dikonsumsi, dan menjadikan pasar barang fisik mulai ditinggalkan. Sistem itu oleh Kasser dan Gonick disebut sebagai hiperkapitalisme, merupakan evolusi ekstrem dari sistem pasar yang lahir dari kepentingan korporasi yang mulai memenuhi seluruh sendi kehidupan sosial-politik.

Asal-usul hiperkapitalisme sendiri berakar pada pergeseran paradigma ekonomi, sebelumnya fokus utama pada pemenuhan kebutuhan dasar dan berubah menjadi pengejaran laba tanpa batas. Kasser dalam bukunya mencontohkan dengan seorang individu yang membuka toko roti sebagai pencarian keuntungan sembari memenuhi kebutuhan sosial dengan mempekerjakan orang-orang sekitarnya agar terjadi perputaran ekonomi. Seiring waktu toko rotinya terus berkembang dan menghasilkan laba besar.

Kemudian, agar keuntungan toko roti tidak terserap banyak ke penarikan pajak. Pemilik toko roti akhirnya tidak lagi menjalankan toko roti atas namanya sendiri, melainkan mendirikan sebuah lembaga perusahaan resmi—korporasi agar meraup laba lebih besar dan harta pribadinya tetap aman.

Secara hukum, korporasi dianggap sebagai “entitas” yang berbeda dari pengusaha. Korporasi bisa memiliki aset, meminjam uang, bahkan dituntut di pengadilan, terpisah dari pemilik usahanya. Inilah yang menjadi daya tarik dari korporasi. Karena terpisah dari pemiliknya, jika suatu perusahaan bangkrut atau memiliki utang besar, sang pemilik perusahaan tidak perlu kehilangan harta pribadinya untuk membayar utang tersebut.

Kepemilikan korporasi kini tersebar di pasar saham global. Pemiliknya bukan lagi satu orang yang peduli pada komunitas lokal, melainkan ribuan investor anonim yang bisa menarik modalnya dalam hitungan detik jika laba menurun. Inilah yang mendorong terciptanya hiperkapitalisme, di mana pertumbuhan keuntungan menjadi obsesi utama dan melahirkan masyarakat konsumtif.

Pergeseran Nilai

Dalam salah satu bab dalam bukunya, Gonick dan Kasser memperkenalkan kita pada perintah pertama dari lima perintah hiperkapitalisme, yaitu “kamu harus mengonsumsi!” Dalam sistem ekonomi lama, konsumsi adalah hal yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan. Namun dalam kapitalisme modern seperti sekarang ini, konsumsi diubah menjadi sebuah bahan bakar dari sebuah mesin yang tidak boleh berhenti berderu.

“Pada dasarnya hiperkapitalisme bergantung kepada konsumsi. Agar sistemnya berjalan, orang-orang (konsumen) harus membeli dan membeli lagi, bukan sekadar berbelanja, melainkan mengonsumsi, menghabiskan barang.” (hal. 79)

Konsumsi secara masif akan mendorong terjadinya pergeseran nilai. Kasser melalui tokoh-tokoh dalam komiknya, membagi nilai manusia ke dalam dua kutub yang bertolak belakang, yaitu nilai intrinsik dan nilai ekstrinsik. Dalam bukunya, Kasser menjelaskan nilai ekstrinsik melalui karakter bernama Connie Sumen yang menggantungkan dirinya pada nilai-nilai materialis dan konsumsi berlebih untuk kebutuhan dasarnya.

Kemudian, karakter Sikovits digambarkan Kasser sebagai cerminan dari nilai intrinsik. Sikovits memenuhi kebutuhan dasarnya tidak dengan cara mengkonsumsi, melainkan dengan bercocok tanam dan produksi mandiri. Selain itu, ia mencari kepuasan melalui aktualisasi diri dan terus bersosialisasi dengan masyarakat di sekitarnya.

Hubungan antara kedua kutub nilai ini bersifat berlawanan atau yang di dalam buku disebut dengan efek jungkat-jungkit. Ketika satu sisi diangkat, sisi lainnya secara otomatis akan turun ke bawah, seperti jungkat-jungkit. Dalam praktiknya, hiperkapitalisme membutuhkan dominasi nilai ekstrinsik karena nilai-nilai tersebut mudah dikomodifikasi oleh pasar. Nilai ekstrinsik bersifat kompetitif dan tak pernah puas, ia menuntut pemuasan melalui pembelian produk yang ditawarkan. Sebaliknya, nilai intrinsik tidak memerlukan transaksi finansial dalam pemenuhannya, sehingga menjadi hambatan bagi pertumbuhan laba korporasi.

Iklan

“Kecenderungan orang mengalami satu nilai sebagai bertentangan dengan nilai lain disebut efek jungkat-jungkit. Semakin besar gairah mendapatkan pencapaian dan kekuasaan, semakin rendah kepedulian terhadap kemurahan hati, universalisme, dan arah diri (otonomi).” (hal. 63)

Hiperkapitalisme secara agresif mendorong kita menuju kutub ekstrinsik. Fenomena masyarakat rela membayar mahal sewa lapangan olahraga viral atau berburu tempat estetis demi konten media sosial adalah bentuk dari dominasi nilai ekstrinsik tersebut. Seseorang tidak lagi mengejar pengalaman demi kepuasan batin yang terdapat dalam nilai intrinsik, melainkan demi citra dan status yang melekat pada pengalaman tersebut. Sensasi itulah yang kini menjadi komoditas. Ia menjadi simbol status baru yang membuktikan seseorang relevan dalam hierarki sosial.

Hiperkapitalisme dalam memacu nilai ekstrinsik masyarakat tidaklah berjalan sendiri, ia menggunakan sistem periklanan untuk memanipulasi psikologis seseorang. Iklan menciptakan sebuah kepercayaan dimana individu tidak akan pernah cukup jika hanya mengkonsumsi kebutuhan dasar saja.

Iklan sengaja dirancang untuk memastikan nilai ekstrinsik—konsumsi dan kemewahan—tetap menjadi nilai dominan di masyarakat. Masifikasi iklan membantu hiperkapitalisme dalam menciptakan kondisi individu merasa cemas jika tidak ikut serta dalam konsumsi hal-hal baru, sebuah kondisi yang saat ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO). Kasser menunjukan pengejaran nilai eksintrik ini bersifat adiktif namun kosong. Semakin besar energi yang dihabiskan untuk mengejar status dan sensasi, semakin rendah tingkat kesejahteraan mental dan kepuasan hidup yang sesungguhnya.

“Bukan sekadar cara menjual barang, iklan juga menjajakan visi hidup yang baik sebagai hidup yang disarati mainan baru yang berkilauan. Iklan-iklan mempromosikan gagasan bahwa membeli produk akan membuat kita bahagia.” (hal. 16)

Keberhasilan hiperkapitalisme dalam memacu konsumsi sensasi dan barang sekali pakai membawa konsekuensi yang dapat menghancurkan bumi. Kasser menyoroti hubungan terbalik antara pengejaran nilai ekstrinsik dengan pelestarian lingkungan. Kasser menunjukan bahwa individu atau masyarakat yang sangat materialistik cenderung memiliki kepedulian yang rendah terhadap kelestarian alam.

Di samping itu, secara sosial, sistem ini juga menciptakan masyarakat yang sangat kompetitif namun kesepian. Ketika semua orang dipaksa bersaing dalam hierarki status yang dibagun dari konsumsi, hubungan antarmanusia menjadi transaksional dan dangkal. Lalu, kita kehilangan kesejahteraan kolektif.

Untuk memerangi hiperkapitalisme, Kasser menawarkan sebuah “revolusi nilai”. Solusinya dimulai dengan keberanian untuk menolak dominasi nilai ekstrinsik dan kembali kepada nilai intrinsik. Menurut Kasser, dengan berhenti mendefinisikan diri melalui apa yang dikonsumsi adalah bentuk tindakan subversif paling mendasar untuk melawan hiperkapitalisme.

Baca juga: Bahaya Patronase Negara dan Ulama

Akan tetapi, dari tawaran solutif yang diajukan, terdapat celah krusial yang membuat jalan keluar yang ditawarkan masih jauh dari kata efektif. Solusi yang ditawarkan buku ini cenderung menitikberatkan pada perubahan niat baik individu, baik itu dari unit masyarakat, pemerintah, sampai unit bisnis.

Tanpa adanya perombakan sistem ekonomi yang radikal dan penghapusan struktur kelas yang eksploitatif, kampanye “revolusi nilai” hanya akan menjadi gaya hidup alternatif bagi segelintir orang, sementara akar masalah strukturalnya masih melanggengkan kemiskinan bagi banyak orang lainnya. Mengharapkan perubahan hanya melalui pergeseran nilai individu tanpa meruntuhkan pondasi struktur ekonomi yang menindas ibarat mencoba menghentikan mesin raksasa hanya dengan berteriak meminta operatornya menjadi lebih baik hati.

Penulis: Ramadhan Alderisyah
Editor: Anna Abellina Matulessy