Judul: Imperfect: Karier, Cinta, dan Timbangan
Sutradara: Ernest Prakasa
Penulis skenario: Ernest Prakasa dan Meira Anastasia
Produser: Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Durasi: 1 jam 53 menit
Genre: Roman, Film Komedi, Film Anak-Anak, Drama
Tanggal rilis: 19 Desember 2019
Perusahaan produksi: Kharisma Starvision Plus
Hidup di kota metropolitan membuat kepala kita sering tersusupi iklan-iklan kecantikan dan gaya hidup. Secara tidak sadar, langsung menerima “standar kecantikan” yang terkonstruksi dari penampilan model di berbagai medium iklan.
Wacana kecantikan yang terselip dalam iklan umumnya bertujuan menstimulus masyarakat agar mengonsumsi produk dari industri tersebut. Namun, pengemasan iklan yang memuat narasi seperti “Bersih Cerah Seketika”, justru menjebak masyarakat dalam ketergantungan mengonsumsi produk kosmetik dan kecantikan.
Si pembeli yang termakan rayuan dari iklan menjadi impulsif dengan membeli produk kecantikan sebanyak-banyaknya. Walhasil, pemasaran kecantikan berhasil menanamkan “standar” di kepala si pembeli agar senantiasa menggunakan produknya. Meskipun produk kecantikan tidak memiliki zat adiktif—yang membuat kecanduan, nilai “standar” yang dikonstruksi industri tersebut justru sudah menjadi norma kehidupan yang berlaku bagi si pembeli.
Baca juga: Perempuan Dalam Kancah Politik
Nilai-nilai standar kecantikan yang direproduksi industri kosmetik dan kecantikan menyebabkan stereotip, labelisasi, dan stigma di masyarakat, hingga diskriminasi sosial. Menukil Jurnal Psikologi Talenta Mahasiswa Tahun 2021 yang bertajuk “Pengaruh Ketergantungan Make-Up terhadap Kepercayaan Diri pada Remaja Putri”, menunjukkan produk kosmetik dan kecantikan memiliki pengaruh ketergantungan sebesar 20,2%.
Pun survei zapclinic.com mengungkapkan, 50,1% perempuan merasa insecure dengan kulit wajah. Sementara itu, 44,9% lainnya merasa rendah diri karena berat badan. Data ini menguatkan adanya tekanan dan ancaman konkret yang ditimbulkan oleh iklan produk dari industri kosmetik dan kecantikan.
Rasa cemas dan resah yang dialami perempuan karena tidak memiliki lekuk tubuh atau warna kulit sesuai ekspektasi, terpotret jelas dalam film Imperfect: Karier, Cinta, dan Timbangan. Rara yang dibintangi aktris kawakan Jessica Mila, diceritakan memiliki berat tubuh tidak “normal” dan sering direndahkan orang-orang di sekitarnya.
Sejak cilik, Rara memang memiliki postur tubuh yang besar dan warna kulit tidak cerah. Takdir itu membuatnya sedih dan murung karena selalu dibanding-bandingkan dengan saudarinya, Lulu.
Di usia dewasa, Rara berkarir sebagai pekerja riset di perusahaan kosmetik dan kecantikan jenama bernama Malathi. Di lingkungan kerjanya, Rara tetap berusaha menjadi dirinya sendiri meskipun acap kali dicela karena tidak memiliki lekuk tubuh langsing dan penampilannya yang kusut, nolep.
Di bawah tekanan stereotipe negatif, Rara tetap gembira dengan pekerjaannya karena memiliki rekan sejawat yang suportif, Fey. Namun, situasi berubah ketika kursi manajer pemasaran mengalami kekosongan. Rara harus bersaing dengan teman sekantornya bernama Marsha, yang memiliki lekuk tubuh langsing dan bergaya modis.
Rara yang memiliki riwayat kerja baik dan mendapat dukungan dari Fey, merasa yakin dapat mengisi kekosongan kursi manajer. Akan tetapi, impian jabatan manajer yang harusnya diterima Rara justru terganjal nilai standar perusahaan untuk kecantikan. Standar itu memaksa Rara harus memiliki postur tubuh yang ramping.
Bak memanjat tembok Cina yang tebal dan tinggi, Rara melakukan segala usaha untuk merampingkan postur tubuhnya. Mulai dari mengatur pola makan, olahraga rutin, hingga diet ekstrim. Semua ini dilakukan Rara untuk mengejar obsesinya, memperoleh jabatan manajer.
Usaha Rara memang berbuah hasil, ia berhasil menduduki posisi manajer. Akan tetapi dengan jabatan baru itu, ia justru menghadapi berbagai beban yang belum pernah ditemui sebelumnya.
Saat Rara menjadi manajer pemasaran, perusahaannya sedang berada di ambang kebangkrutan karena omzetnya turun drastis. Situasi ini mengguncang kursi jabatan manajer yang diduduki Rara. Di tengah kemelut itu, Rara mengalami drop dan jatuh sakit.
Alih-alih situasi tekanan kerja berat menjadi akhir kisah Rara, justru berubah sebagai momentum titik baliknya. Rara berhasil melawan rasa insecure dengan mencintai ketidaksempurnaan dirinya sendiri. Usaha Rara ini juga mendapat dukungan dari pacarnya, Dika yang diperankan oleh Reza Rahadian.
Rara pun terinspirasi untuk membuat proposal pemasaran produk yang baru untuk Malathi. Ia tidak menginginkan produk kosmetik dan kecantikan membuat keresahan (common–insecure) di masyarakat. Akan tetapi, industri ini menjadi pendukung kebutuhan yang menguatkan jati diri setiap perempuan.
“Malathi diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya teman baik… ia tidak menghakimi, tidak menyudutkan, dan membantu kita mengenal siapa kita sesungguhnya,” pungkas Rara dalam salah satu adegan film.
Budaya Toksik
Di sisi lain, atasan Rara, Kelvin justru mengajukan ide menjual baru yang disebutnya “insecurity awareness”. Ia menjadikan rasa insecure yang terinspirasi dari kisah diet Rara sebagai teknik pemasaran. Hal ini semata-mata untuk menarik minat membeli produk kosmetik dan kecantikan dari para perempuan yang mengalami masalah kesehatan mental.
Kelvin yang memangku jabatan lebih tinggi dari Rara, hanya memandang fisik perempuan sebagai sumber kompetisi. Pandangan ini yang mengakar kuat dalam sistem patriarki.
“Masalahnya di industri kita ini, isi kepala aja enggak cukup, penampilan juga penting… Duh, kalian berdua (Rara dan Marsha) bisa gak sih merger aja, isi kepalanya lu (Rara), chasing-nya dia (Marsha),” ucap Kelvin.
Pernyataan Kelvin itu mencerminkan adanya gap hierarki sosial yang membuat dirinya dengan mudah mempecundangi rekan sejawatnya. Seolah dirinya kebal terhadap sanksi sosial karena sistem yang ada tidak mendeteksi tindakan Kelvin sebagai bentuk pelanggaran yang merendahkan derajat perempuan.
Selain itu, film Imperfect: Karier, Cinta, dan Timbangan juga mencerminkan perempuan perkotaan hari ini yang masih terkerangkeng kuatnya sistem patriarki. Hal ini terlihat dari tindakan George kepada pacarnya bernama Lulu (adiknya Rara), yang menginginkannya untuk terus berdandan dan merawat berat badan.
Baca juga: Bertaruh Takdir dengan Padam
Meskipun tampak seperti perhatian wajar, tindakan George yang imperatif membuat Lulu terbatas kebebasannya. George pun bukan menunjukkan usaha yang mendukung Lulu untuk percaya diri, justru mengatur batasan-batasan yang mengekang kebebasan pacarnya.
Film Imperfect: Karier, Cinta, dan Timbangan menjadi kisah drama yang dapat mendukung penonton untuk menemukan jati diri dan membuat puas dengan takdir fisiknya. Dengan nuansa komedi yang menggemaskan, film ini menyuguhkan narasi optimistis untuk tampil apa adanya, asal jiwa raga sehat dan kehidupan bahagia.
Barangkali film Imperfect: Karier, Cinta, dan Timbangan memiliki kekurangan dalam menyajikan narasi perlawanan budaya patriarki yang terjadi di kehidupan karir. Padahal, secara latar tempat, narasi perlawanan bisa diselipkan baik eksplisit atau implisit untuk perubahan struktural yang progresif.
Penulis: Naufal Nawwaf
Editor: Lalu Adam

