Ibu, kami memang sudah tidak dipingit,
Kami bebas pergi ke luar, bebas belajar dan bekerja.
Tapi di luar rumah yang katanya sudah terang ini,
Ada dinding baru yang diam-diam kembali mengurung kami.

Baca juga: Hari Bumi ke-56, Massa Desak Pemerintah Tangani Krisis Iklim

Bukan lagi aturan adat yang menahan langkah perempuan,
Tapi angka di timbangan dan komentar tentang bentuk badan.
Kami bebas mengejar cita-cita setinggi langit,
Tapi tubuh dan wajah ini dipaksa pasrah pada standar yang sempit.

Kami boleh bersuara lantang di mana-mana,
Tapi banyak dari kami takut tertawa lepas karena takut terlihat jelek.
Warna kulit yang asli buru-buru ditutupi,
Menyembunyikan wajah lelah hanya agar diterima oleh tatapan
orang.

Penjara kami sekarang tidak punya gembok besi,
Ia hanya berupa cermin dan layar ponsel yang tak henti
menghakimi.

Baca juga: Sudah PTN-BH, UNJ Kewalahan Lepas dari Ketergantungan Uang Mahasiswa

Iklan

Maafkan kami, Ibu.
Pintu kemerdekaan yang kau buka sudah kami lewati,
Tapi kami melangkah sambil menunduk malu pada diri sendiri.
Kami memang berhasil merdeka dari kebodohan,
Namun pelan-pelan mati rasa karena disandera oleh standar
kecantikan.

Penulis: Shari Angelica