Permasalahan anak putus sekolah masih menjadi polemik di Rumah Susun (Rusun) Sentra Mulya Jaya. Permasalahan administrasi hingga ekonomi menjadi sebabnya.
Rusun Sentra Mulya Jaya, Bambu Apus, Jakarta Timur rampung dibangun oleh Kementerian Sosial (Kemensos) berkolaborasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pada 2023. Merujuk Kemensos.go.id, rusun ini menjadi tempat pemberdayaan kelompok rentan agar dapat meningkatkan kesejahteraan hidup.
Baca juga: Ruth Indiah Rahayu : Perjuangan Kartini Belum Selesai
Akan tetapi dalam tata laksananya, terdapat berbagai permasalahan yang dirasakan warga. Mulai dari permasalahan ekonomi, tidak memiliki pekerjaan, kesehatan, hingga anak yang tidak sekolah.
Seorang warga Rusun Sentra Mulya Jaya, Amelia (32) merasa getir saat anaknya sulit mengakses pendidikan. Ia mengatakan, anaknya tidak dapat bersekolah lantaran tidak dapat memenuhi syarat administrasi pendaftaran.
Amelia (32) bercerita, tidak memiliki kartu keluarga (KK) maupun akta kelahiran anak karena perkawinannya tidak diakui oleh negara. Oleh karena itu, ia kesulitan untuk mengurus dokumen-dokumen tersebut ke dinas terkait untuk keperluan sekolah anaknya.
“Dua anak kami terkendala dokumen sebagai syarat penerimaan peserta didik baru sekolah. Seperti terkendala tidak adanya dokumen KK dan akta kelahiran yang belum diurus jadi gak bisa sekolah,” keluhnya saat diwawancarai Tim Didaktika pada, Jumat (13/2).
Salah satu anak Amelia (32) baru dapat mengecap bangku sekolah pada umurnya ke-13 tahun. Atas bantuan seorang tetangga sesama penghuni rusun, anaknya dapat diterima di sekolah informal gratis bernama Yayasan Sahabat.
Selanjutnya Amelia (32) menuturkan, faktor ekonomi juga menjadi hambatan pendidikan anaknya. Sebab, dirinya yang berstatus sebagai ibu rumah tangga. Serta suaminya yang bekerja sebagai tukang sapu di sebuah komplek perumahan tidak memiliki ekonomi cukup
untuk membiayai pendidikan anaknya di sekolah swasta.
“Walaupun saat awal pindah ke rusun, pihak pengelola memberikan bantuan modal dan pelatihan buat usaha. Tapi itupun hanya sekali, dan tidak ada pendampingan. Pada akhirnya, usaha kopi keliling saya bangkrut,” ucapnya.
Selain itu, lanjut Amelia (32), sebetulnya pihak pengelola rusun pernah menawarkan kepada anak-anaknya untuk menempuh pendidikan di sekolah paket. Lantaran jarak dari rusun ke sekolah terbilang jauh, akhirnya Amelia terpaksa tidak mengambil tawaran itu. Sebab tidak memiliki biaya untuk transportasi, busana, hingga uang saku anaknya.
“Berharap agar kelak anak-anak saya dapat tumbuh menjadi anak yang baik dan sukses. Saya juga berharap pemerintah dapat lebih memerhatikan akses pendidikan anak-anak di rusun ini,” sebutnya.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh penghuni Rusun Sentra Mulya Jaya, Rina (41). Ibu tiga anak itu mengaku sejak tahun 2023, ketika pertama kali pindah ke rusun, anak keduanya tidak mendapatkan akses pendidikan.
Meskipun ditawari oleh pihak pengelola untuk menempuh pendidikan di sekolah paket, dirinya tidak mengambil tawaran tersebut. Dengan alasan, tidak memiliki biaya untuk memenuhi ongkos transportasi karena jarak sekolah yang cukup jauh. Selain itu, ia juga tak memiliki biaya untuk memberikan uang jajan kepada anaknya.
“Sebenarnya dari pengelola sini ada tawaran PKBM tapi tidak menjadi solusi dikarenakan jauh tempat sekolahnya,” ceritanya ketika diwawancarai Tim Didaktika pada, Senin (16/2).
Keterbatasan ekonomi itu lantaran Rina hanya berjualan jajanan kecil-kecilan. Pendapatannya pun kecil dan hanya cukup untuk makan sehari-hari. Ditambah saat itu ia berstatus single parents sehingga harus memenuhi kebutuhan keluarga seorang diri.
Selanjutnya Rina (41) melanjutkan, pada akhir 2025, dirinya menikah dengan suami baru. Walhasil, dirinya tak terlalu terbebani masalah ekonomi. Walaupun suami barunya hanya bekerja di jasa pengiriman kargo, dan penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Sebetulnya, sambung Rina (41), ia ingin menyekolahkan anak keduanya pada tahun ajaran baru nanti. Namun, mempertimbangkan dengan masa hunian di rusun yang akan berakhir pada April mendatang. Akhirnya Rina menunda niat itu karena memikirkan biaya yang harus dikeluarkan untuk menyewa hunian sementara ketika tidak lagi tinggal di rusun.
“Saya tinggal disini dari tahun 2023. Nanti April (2026) sudah mau pindah. Paling ikut ke tempat suami,” sebutnya.
Dalam kesempatan yang sama, Rina (41) bercerita tentang anak pertamanya yang terpaksa putus sekolah. Hal itu disebabkan anaknya mengalami perundungan dan tertekan secara psikologis di tempat sekolahnya.
Selain itu, ia mengungkapkan bahwa dulu pernah mendapatkan bantuan dana pendidikan berupa Kartu Jakarta Pintar (KJP). Namun, bantuan itu terhenti dikarenakan terdapat kendala dalam pendataan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dirinya.
“Saya berharap pengelola rusun lebih bertanggung jawab soal pendidikan anak sekolah di Rusun Mulya Jaya,” tutupnya.
Besarnya Angka Putus Sekolah
Kesenjangan akses pendidikan yang dialami anak-anak Rusun Sentra Mulya Jaya hanyalah contoh dari banyaknya angka putus sekolah di Jakarta. Melansir Kompas.com, pada Juli 2025 Menteri Sosial, Saifullah Yusuf menyebutkan sebanyak 366.935 anak usia 7-18 tahun
tidak atau belum sekolah.
Merujuk laporan serupa, Kepala Kemensos itu mengatakan, sebanyak 3.79 juta anak usia 7-18 tahun tak lagi bersekolah. Bila ditotal menurut Saifullah, terdapat 4,16 juta anak yang tidak mendapatkan akses pendidikan.
Lebih lanjut bila merujuk laporan Tribun, lewat Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada 2022 mencatat, sebanyak 75.303 anak di Jakarta mengalami putus sekolah. Faktor utama yang menyebabkan hal itu adalah kemiskinan.
Terkait permasalahan akta, lewat berita Kompas, pada 2019 terdapat 7,39 anak-anak di Indonesia belum memiliki akta kelahiran. Hal itu berdampak anak-anak yang tak memiliki akta kelahiran sulit untuk mengakses pendidikan, layanan kesehatan, hingga bantuan sosial
dari pemerintah.
Kembali ke permasalahan akses pendidikan anak-anak di Rusun Sentra Mulya, Staf Pengelola Rusun, Fauzan Amin mengklaim pihaknya telah berupaya untuk memenuhi akses pendidikan bagi anak-anak.
Misalnya, tutur Fauzan, pihak pengelola sudah memasukkan dua anak rusun ke sekolah paket C. Namun baginya, pihak pengelola terkadang sulit untuk merealisasikan kebijakan itu karena terhalang oleh kemauan anak dan orang tua untuk bersekolah.
“Kami pernah memasukkan anak-anak dari warga sini yang putus sekolah. Karena orang tuanya terkendala biaya,” ujarnya di kantor pada, Jumat, (13/2).
Baca juga: Kartini: Pendidikan sebagai Jalan Perjuangan Perempuan
Selanjutnya Fauzan mengatakan, terdapat dua anak di rusun ini yang tidak bersekolah di usia sekolah menengah pertama maupun sekolah dasar. Salah satu anak itu beralasan tidak bersekolah lantaran harus menjaga adiknya yang masih kecil.
“Karena balik lagi ke orangnya, selalu kami tanya gimana pak/bu anaknya kenapa gak mau sekolah? Kami juga menghimbau agar orang tua selalu mendukung anaknya untuk bersekolah,” pungkasnya.
Reporter/penulis: Jayanti Anisa Hapsari
Editor: Lalu Adam Farhan Alwi

