Sejumlah mahasiswa UNJ keluhkan dampak lonjakan jumlah mahasiswa dalam ruang perkuliahan. Mulai dari kelas yang kian padat, hingga keterbatasan ruang komunal di tingkat fakultas.
Terik matahari membayangi sela-sela atap pendopo Fakultas Psikologi, mengusir semilir angin yang tersisa pada bangunan semi terbuka. Nihil penyejuk ruangan, hawa panas dengan segera mengungkung aktivitas mahasiswa Komunitas Seni (Komseni) Fakultas Psikologi siang itu.
Usai menyelesaikan putaran pertama, para penari dari komunitas seni mahasiswa ini langsung dibasahi peluh. Mereka menyelaraskan setiap ketukan musik dengan gerakan tubuh mereka. Salah satu anggota Komseni Fakultas Psikologi, Bunga mengaku kegiatan dance cover memerlukan gerakan yang maksimal sehingga membutuhkan penunjang sirkulasi udara lebih.
Baca juga: Akademisi Ragu atas Komitmen UNJ Tidak Buka Dapur MBG
“Kegiatan dance kan, memerlukan optimalisasi gerakan dan sirkulasi udara yang baik. Sedangkan di pendopo sendiri angin saja tidak ada,” ucapnya saat diwawancara secara daring oleh Tim Didaktika pada Jumat (19/04).
Bunga menuturkan berlatih di ruang semi terbuka saat tengah hari adalah pilihan yang tersisa. Pun, saat ini kampus hanya menyediakan balai tersebut sebagai ruang kegiatan mahasiswa pada tingkat fakultas. Ia menambahkan, meminjam salah satu ruang kelas pun sulit dilakukan ketika seluruh ruangan telah dijadwalkan terpakai seharian penuh.
Bunga memaparkan keterbatasan yang ia alami turut dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah penerimaan mahasiswa tahun ke tahun. Hal ini ia ketahui setelah berkaca pada pengalaman latihan periode lalu.
“Angkatan-angkatan sebelum ini latihannya selalu menggunakan ruang kelas. Namun, seiring peningkatan (jumlah) mahasiswa ruang kelas cenderung penuh,” tuturnya.
Padahal, Bunga mendapati sebagian besar mahasiswa Fakultas Psikologi aktif mengikuti berbagai kegiatan non-akademik. Ia merasa khawatir atas minimnya ketersediaan ruang ekspresi mahasiswa di tingkat fakultas. Baginya, ini akan menjadi batu ganjalan mahasiswa dalam mengembangkan potensi diri.
Bunga mengungkap mahasiswa juga kerap kesulitan mencari ruang kelas pengganti. Lebih lagi, ia menilai ketersediaan fasilitas perlu dibenahi agar sebanding dengan gelontoran biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa per semester.
Sejak awal, Bunga merasa janggal saat membandingkan jumlah ruang kelas yang tersedia dengan kuota penerimaan mahasiswa baru. Pun, ia telah menduga pembelajaran akan lebih banyak dilaksanakan secara daring.
“Kalau fasilitas memang terbatas, seharusnya jumlah kuota penerimaan mahasiswa dipertimbangkan lagi,” pungkasnya.
Setali tiga uang, salah satu mahasiswa Fakultas Teknik, Muhammad turut membagikan pengalaman buruk terkait ketersediaan kelas di UNJ. Ia bercerita fakultas biasa menggabungkan dua kelas di sebuah ruangan yang kapasitasnya hanya untuk kelas tunggal.
Selain jumlah dan kapasitas ruang kelas, ia menjelaskan kendala pembelajaran juga diperparah dengan sulitnya akses ke ruang praktik. Walaupun laboratorium telah tersedia, lanjutnya, tetapi mahasiswa sering tidak bisa melakukan pembelajaran di ruang praktik tersebut.
“Sedangkan dosen mengatakan jika kita tuh membutuhkan praktik. Sebab, yang namanya teknik, pasti butuh,” ujarnya saat diwawancarai Tim Didaktika pada Kamis (16/04)
Muhammad menilai kemudahan akses ruang praktik akan mendorong pembelajaran yang efektif. Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya memaksimalkan penggunaan peranti yang ada dalam ruang praktik.
Maka, hingga saat ini dirinya dan kawan-kawan yang lain menggunakan laptop pribadi untuk keperluan tugas maupun praktik. Ia berseloroh tentang repotnya mencari stop kontak dan jaringan wifi kampus yang stabil di tengah peningkatan jumlah mahasiswa.
“Paling resah sih di bagian wifi yang sering lag. Mau tidak mau kita beralih menggunakan koneksi pribadi. Ujung-ujungnya memberatkan (mahasiswa) lagi,” tutupnya.
Kepadatan Ruang Perkuliahan
Untuk memetakan pengalaman mahasiswa terkait fasilitas dan layanan pembelajaran kampus, LPM Didaktika mengadakan survei terhadap 80 mahasiswa UNJ angkatan 2023–2025. Survei ini bertujuan melihat pengaruh peningkatan jumlah mahasiswa mempengaruhi pengalaman pembelajaran.
Adapun metode pengumpulan sampel adalah penyampelan acak (random sampling). Responden diminta memberikan jawaban skala numerik satu sampai lima. Semakin tinggi nilai yang dipilih, maka narasumber kian mengiyakan pertanyaan dalam survei.
Dalam survei tersebut, rata-rata skor indikator ketersediaan jumlah ruang kelas untuk mahasiswa di program studi masing-masing responden hanya mencapai 2,11. Selain itu, skor kesepadanan fasilitas kelas dengan UKT yang dibayarkan mahasiswa adalah 2,28. Berikutnya, kecenderungan pelaksanaan pembelajaran daring mencapai skor 3.67 yang berarti masuk ke kategori cukup sering terjadi.


Di sisi lain, tren kuota penerimaan mahasiswa baru UNJ menunjukan peningkatan yang signifikan. Melansir dari laman resmi UNJ, total daya tampung pada periode penerimaan 2025 mencapai 9.641 mahasiswa baru, meningkat sekitar 20,5 % dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara pada tahun ini saja, kampus akan menerima sekitar 9.800 mahasiswa baru.
Hal ini menunjukan penerimaan jumlah mahasiswa tetap mengalami peningkatan di tengah keterbatasan jumlah dan kapasitas kelas yang tersedia. Akibatnya, distribusi ruang perkuliahan cenderung timpang, dengan mengandalkan pembelajaran daring sebagai media alternatif.
Menanggapi hal ini, Staf Ahli Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) UNJ, Rian Arthur menuturkan luas bangunan yang UNJ miliki saat ini relatif cukup untuk menampung seluruh mahasiswa. Ia mengungkapkan kepadatan yang terjadi dipengaruhi oleh favoritisme jam perkuliahan dan gedung tertentu.
“Sebetulnya kepadatan yang terjadi dipengaruhi oleh beberapa faktor, pertama ada jam favorit, kedua ada gedung favorit,” ujarnya saat ditemui oleh Tim Didaktika pada Selasa (26/04).
Dalam mengatasi persoalan favoritisme tempat perkuliahan, Rian menyatakan UNJ melaksanakan sistem gedung bersama, yakni bangunan dapat dipakai oleh berbagai fakultas. Tambahnya, sistem pembelajaran campuran luring-daring turut dilakukan sebagai solusi kepadatan kelas di UNJ.
Baca juga: Penghuni Rusun Mulya Jaya Desak Kepastian Tempat Tinggal
Namun, Rian mengakui keterbatasan kelas dan ketersediaan ruang komunal belum teratasi secara menyeluruh untuk tahun ini. Lebih lanjut, ia menyebut bahwa Staf Pengadaan Barang dan Jasa sekadar tim yang bersifat pendukung jalannya operasional.
“Tugas Staf PBJ UNJ mengoptimalisasi aset yang ada guna mendukung aktivitas pembelajaran, serta melakukan estimasi daya tampung. Adapun kebijakan penetapan kuota mahasiswa menjadi ranah bidang akademik,” tutup Arthur.
Reporter/penulis: Irva Finassyifa
Editor: Annisa Inayatullah

