Kenaikan harga oli dan suku cadang membuat biaya operasional para pengemudi ojek online (ojol) membengkak. Akibatnya, mereka harus menambah jam kerja hingga berutang demi menutupi biaya perawatan motor.

Di tepian trotoar Jalan Pegambiran, Rawamangun, sejumlah pengemudi ojol sedang berkumpul dekat pedagang minuman seduh keliling. Di atas alas lusuh spanduk bekas, mereka mengobrol sembari menunggu orderan. 

Satu meter dari kerumunan, Nur (37) tampak duduk menyendiri di bangku trotoar. Malam itu, tepat pukul 20.28 WIB, ia menjadi satu-satunya ojol perempuan yang masih menanti dering notifikasi orderan.

Baca juga: Bagaimana, Jika

Sejak tahun 2019 Nur banting stir menjadi pengemudi ojol. Sebelumnya, dirinya sempat berjualan nasi pecel di Kawasan Industri Pulogadung. Ia mengaku, usaha tersebut sempat menghasilkan keuntungan besar karena telah memiliki banyak pelanggan tetap. Namun, lapak jualannya terkena penggusuran pada tahun 2018. 

“Sekarang sebetulnya pengen jualan lagi, tapi susah nyari tempatnya,” jelasnya saat ditemui pada Jumat (03/07).

Iklan

Setiap hari, Nur biasa berangkat kerja dari kontrakannya di daerah Pulo Jahe sejak pukul tujuh pagi hingga 12 malam. Hampir 17 jam di jalan, wanita itu bisa mengantar penumpang mengelilingi Jakarta hingga ke area Bogor. 

Tingginya mobilitas tersebut menyebabkan mesin motor milik Nur cepat panas, bahkan berisiko mati mendadak. Oleh sebab itu, ia menonaktifkan aplikasi selama satu jam pada tengah hari agar suhu mesin kembali normal.

“Kalau pas orderan lagi ramai, mau nggak mau saya melipir dulu di pinggir jalan. Ngademin mesin biar motor enggak jebol,” katanya.

Guna menjaga kesehatan mesin motornya, Nur juga melakukan perawatan rutin dengan mengganti oli setiap dua minggu sekali. Akan tetapi, ia menyesalkan kenaikan harga oli yang semula Rp68 ribu menjadi Rp80 ribu. 

Selain itu, Nur kerap terpaksa mengganti suku cadang motor karena sering membawa penumpang dengan beban yang melebihi kapasitas kendaraannya. Walhasil, Nur harus mengeluarkan biaya ekstra sebesar Rp250–400 ribu dalam sekali perbaikan.

“Motor buat ngojol memang pengeluarannya lebih banyak. Soalnya motor kan dipaksa (pakai) tiap hari,” ucapnya.

Nur mengungkapkan upah yang diperolehnya dalam sehari hanya mencapai Rp150–200 ribu. Nominal ini masih terselip biaya operasional harian berkisar Rp160 ribu. Hal itu meliputi pembelian bensin, uang makan, hingga uang yang disisihkan untuk perawatan motor.

Tak ayal, beberapa kali Nur pulang ke rumah tanpa membawa uang sama sekali. Padahal, ia memiliki tanggungan untuk membayar sewa kontrakan, cicilan motor, kebutuhan rumah tangga, hingga biaya ibunya yang sedang sakit. 

“Semua pengeluaran saya tanggung sendiri, rasanya berat. Tapi alhamdulillah, rezeki ada saja untuk orang tua,” tuturnya. 

Demi memastikan motornya tetap prima selama di perjalanan, Nur sampai rela berhutang. Ia menyebut terpaksa menggunakan aplikasi pay later untuk membeli suku cadang secara daring. Saat ini Nur memiliki tanggungan di aplikasi Tiktok sebesar Rp800 ribu dan Kredivo sebesar Rp500 ribu yang harus ia bayar tiap bulan.

Iklan

Nur mengatakan bahwa sepeda motor merupakan sumber penghidupannya. Oleh karena itu, ia selalu berusaha memperbaiki setiap kerusakan pada kendaraannya meskipun biaya servis saat ini sedang tinggi-tingginya.

“Dari harga bensin, terus sekarang semuanya serba naik. Pasti orang enggak ada yang tahan. Cuma ya, barangkali nanti ganti presiden bisa baik lagi. Jadi usaha dulu aja, biar bisa terus hidup walaupun pas-pasan,” ujarnya.

Setali tiga uang, pengemudi ojol lain, Rizal (54) mengungkapkan bahwa dirinya juga terimbas kenaikan harga oli dan komponen motor lain. Akibatnya, bapak enam anak itu harus memperpanjang waktu kerjanya di jalan.

Rizal mengungkapkan, oli jenis MPX 2 yang biasa digunakannya mengalami kenaikan sebesar 25 persen. Jelasnya, harga pada awal bulan sebesar Juni Rp60 ribu dan sekarang menjadi Rp75 ribu. Selain oli, ia juga merasakan kenaikan biaya air radiator motor menjadi Rp22 ribu, yang semula hanya Rp19 ribu.  

“Sebelum harga pada naik, biasanya kerja cuma 10 jam. Sekarang jadi 12 jam sehari,” jelas Rizal pada Minggu (05/07).

Rizal telah melakoni profesi sebagai ojol selama 10 tahun. Setiap hari, ia mengantongi penghasilan bersih sekitar Rp250–300 ribu dengan menyelesaikan minimal 20 orderan. 

Baca juga: Kesejahteraan Ojol: Antara Skema Baru dan Realita di Jalan

Dari penghasilan tersebut, Rizal selalu menyisihkan uang Rp5–10 ribu sehari untuk servis rutin sepeda motor. Menurutnya, hal itu penting dilakukan demi menjaga kesehatan mesin kendaraan. Sebab jika motor sudah turun mesin atau rusak, maka biaya perbaikan yang harus dikeluarkan bisa mencapai jutaan rupiah.

“Sebenarnya kalau dibilang berat, ya berat banget merawat motor. Cuma, ya, dibawa happy aja,” pungkasnya.

Reporter/penulis: Audy Gemaria

Editor: Zidnan Nuuro