Pedagang di Pasar Rawamangun saat ini tertekan lonjakan harga modal, imbas gejolak geopolitik dan kebijakan pajak domestik. Di samping itu, mereka harus menghadapi daya beli konsumen yang justru merosot tajam.
Bau khas sayur-mayur dan aroma bumbu-bumbu langsung menyambut kami saat menyusuri lorong Pasar Rawamangun siang itu, Sabtu (4/7). Lorong itu tampak sepi dan lengang dari lalu lalang pembeli. Di sudut basemen pasar, tumpukan karung beras milik Wawan tampak tersusun rapi hingga nyaris menyentuh atap kiosnya.
Sembari menanti pelanggan yang mampir, tangannya sesekali merapikan tumpukan beras yang mulai membentuk gunung tersebut. Di tengah kesibukannya, Wawan mulai mengeluhkan kenaikan harga beras kepada Tim Didaktika.
Baca juga: Senin Kiamat
Wawan bercerita, sebelum tahun 2024, harga beras masih bisa diprediksi dengan siklus kenaikan yang biasanya hanya terjadi setiap tiga bulan sekali. Namun sejak tahun itu, naik atau turunnya harga beras menjadi jauh lebih cepat dan bisa berubah hanya dalam hitungan dua hingga tiga hari saja.
“Harga sekarang nggak bisa diprediksi. Bisa naik Rp2.000-Rp3.000 per hari,” terang Wawan pada Sabtu (4/7).
Wawan berpendapat, kenaikan harga beras terjadi lantaran melambungnya harga gabah. Sebelumnya, harga gabah berkisar Rp400 ribu-Rp500 ribu per kuintal, sedang sekarang menjadi Rp700 ribu-Rp800 ribu.
Di tengah itu, Wawan mengaku tambah kelimpungan lantaran naiknya harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan ongkos bensin, membebani Wawan dalam biaya pengantaran beras ke rumah konsumen.
“Untuk mengantar (ke konsumen) itu pakai biaya sendiri. Karena harganya enggak dipatokin, kalau ada yang bayar syukur, ” ujar Wawan.
Akibat berbagai kenaikan tersebut, Wawan mengaku kesulitan mengatur perputaran uang pada usahanya. Karena itu, untuk mengambil keuntungan, ia hanya berpatokan pada harga beli per liter dari pihak distributor.
“Kalau dari sana (distributor) naik Rp1.000, keuntungan yang saya ambil juga segitu. Syukur-syukur masih bisa buat anak saya sekolah,” ucap Wawan.
Kenaikan harga tak hanya dirasakan oleh Wawan. Berjarak dua lantai di atas kiosnya, pemilik toko kelontong, Ari, juga mengeluhkan harga berbagai kebutuhan pokok yang terus merangkak naik.
Ari menghitung, lebih dari 90% barang dagangannya mengalami kenaikan harga sebesar 5-10% dari distributor. Ia mencontohkan, harga minyak goreng naik dari Rp41 ribu-Rp42 ribu per 2 liter menjadi Rp44 ribu, mentega impor dari Rp760 ribu per 2 Kg menjadi Rp790 ribu, dan sambal botol sebelumnya Rp26 ribu sekarang menyentuh Rp29 ribu-Rp31 ribu.
Ari menyebut, rentetan kenaikan harga ini bermula dari naiknya Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11% menjadi 12% pada tahun 2025. Dampaknya, menurut Ari, terjadi peningkatan biaya produksi di tingkat produsen.
“Pengaruh dari dalam negeri seperti kenaikan pajak itu sangat terasa,” jelas Ari pada Tim Didaktika.
Selain itu, Ari menilai gejolak geopolitik yang tengah berlangsung turut mempengaruhi naiknya harga barang dagangan. Ia menyebut, pergolakan tersebut sebagai pemicu efek domino yang menyebabkan membengkaknya modal usaha.
Ari memaparkan, efek domino tersebut menjalar melalui tiga hal. Ketiga hal itu meliputi membengkaknya biaya distribusi akibat naiknya BBM, melonjaknya ongkos produksi plastik kemasan, serta melemahnya Rupiah yang memukul telak harga barang impor.
“Pastinya, itu (pelemahan rupiah) ada pengaruhnya. Sampai modal untuk satu barang itu naik sampai Rp150 ribu karena itu,” tutur Ari.
Rentetan kenaikan harga akibat berbagai kebijakan tersebut membuat Ari kelimpungan. Ketika modal untuk membeli stok terus membengkak, lanjut Ari, daya beli masyarakat justru melemah.
Baca juga: Dilema Pedagang Kantin Blok M di tengah Kenaikan Barang Pokok
Semenjak Hari Raya Idul Fitri berlalu, menurutnya, tren penjualan di tokonya terus merosot drastis hingga menyentuh angka 30-40%. Akibatnya, ia harus mengeluarkan biaya lebih besar di tengah pemasukan yang terus menyusut.
Kendati demikian, Ari tetap memilih berjualan. Baginya, tak ada pilihan selain terus bertahan dan menyesuaikan diri dengan kenaikan harga yang bisa datang sewaktu-waktu.
“Semua harga barang naik. Yang turun cuma daya belinya,” pungkasnya.
Reporter/penulis: Ramadhan Alderisyah
Editor: Khalda Syifa

