Kondisi pelik ekonomi Indonesia menyebabkan kenaikan harga bahan baku. Hal tersebut berdampak pada kenaikan modal dan penurunan pemasukan pedagang Kantin Blok M.

Kondisi rupiah一sampai berita ini dibuat一Ðsenilai Rp18.091/usd memberikan dampak signifikan bagi ekonomi masyarakat Indonesia, terutama pedagang kecil seperti di Kantin Blok M Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Beberapa pedagang mengeluhkan adanya penurunan keuntungan dalam beberapa bulan belakangan akibat kenaikan harga barang seperti plastik, bensin, serta bahan pokok yang lain. 

Seorang pedagang es di lantai dua Kantin Blok M UNJ, Atang (bukan nama asli) mengeluhkan kenaikan beban biaya produksi usaha selama tiga bulan terakhir. Ia mengatakan, barang-barang, seperti plastik dan gula mengalami peningkatan harga sekitar Rp1.000 – Rp5.000 dari harga biasa.

Baca jugaDelapan Tahun Menunggu Negara, Kisah Pelayanan Kesehatan yang Terbengkalai di Pulau Masela

“Kenaikan yang paling terlihat itu di plastik dan gula ya. Plastik yang biasanya Rp18.000 jadi Rp23.000, sedangkan gula dari Rp18.500 lalu sekarang Rp19.500,” jelasnya saat diwawancarai pada Jum’at (3/7).

Di samping biaya produksi, Atang juga dibebankan oleh harga sewa dari Kantin Blok M senilai Rp21.000.000 per tahun. Namun, besaran nominal tersebut belum termasuk pada pengadaan listrik sebesar Rp125.000 per bulannya.

Iklan

Di tengah kondisi pelik yang dialami, Atang terpaksa tidak menaikan harga jual dagangannya karena takut kehilangan pembeli. Akibatnya, ia harus menanggung penurunan keuntungan agar para pembeli tetap berdatangan dan tidak beralih.

Sebab, Atang menganggap kompetitor di UNJ sangatlah luas bukan hanya pada Kantin Blok M saja. Atang menjelaskan jika harga dinaikkan, pembeli akan dengan mudah beralih ke penjual lain di sekitar gerbang belakang UNJ ataupun Jalan Daksina Pati.

“Di luar sana kan banyak penjual yang bisa dikatakan tidak menanggung beban biaya sewa buat jualan ya. Jadi mereka bisa jual dengan harga murah dan kami terbantai,” keluh Atang.

Akibat tidak menaikan harga, pedagang es itu menyebutkan keuntungan penjualan menurun selama tiga bulan belakangan. Kondisi tersebut membuat perputaran ekonomi yang dialaminya menjadi terganggu.

“Penurunannya signifikan sekali saat ini. Kalau menggunakan persentase sekitar 30% sampai 40%,” pungkasnya.

Di sisi lain, Pedagang Burger di Lantai Dua Kantin Blok M, Arief Syafrini terpaksa menaikan harga jual dagangannya sebesar Rp1.000. Arief melakukan peningkatan harga karena biaya sewa dan produksi yang lebih besar dibanding Atang.

Lebih lanjut, Arief menjelaskan kenaikan bahan pokok paling terasa pada harga sayur-sayuran seperti selada, timun, tomat dan daging sapi. Ia menuturkan harga sayuran naik dari Rp7.000-Rp8.000 menjadi Rp18.000 per kilogram. Belum lagi harga daging yang sebelumnya bernilai Rp138.000 naik menjadi Rp150.000 per kilo.

“Saya sewa di Kantin Blok M aja Rp22.000.000 per tahunnya, lebih mahal satu juta dibanding pedagang lain yang berkisar Rp21.000.000 per tahunnya,” keluh Arief saat diwawancarai pada Jum’at (3/7).

Walaupun sudah menaikan harga jual, Arief mengatakan keuntungan usahanya tetap menurun 20% hingga 25%. Ia menyebutkan, pendapatan kotor saat ini yang didapatkan hanya berkisar Rp2.000.000 per harinya. 

“Padahal, pendapatan kotor yang bisa saya dapatkan sebelum banyak bahan naik tuh bisa lebih dari itu,” tegasnya.

Iklan

Di tengah keadaan pelik yang Arief rasakan untuk menaikan harga barang dagangannya ia merasa takut akan kehilangan pembeli. Namun, ia lega bahwa para pembeli tetap datang untuk membeli dagangannya. 

Baca jugaPerampasan Ruang Hidup dalam Revitalisasi Rawa Pening

Walaupun, pembeli kerap kali menanyakan kepada Arief alasan dari kenaikan harga barang dagangannya. Namun, setelah dirinya menjelaskan alasannya, para pembeli segera mengerti dan tetap kembali membeli.

“Antara saya dan pelanggan ada kepercayaan tersendiri. Makanya ketika harga dinaikin mereka akan tetap beli di sini,” pungkasnya.

Penulis/reporter: Muhammad Rasha Putra
Editor: Anna Abellina Matulessy