Duduk di bangku kuliah sekarang ini rasanya tak seperti digambarkan khalayak umum. Ruang kelas yang seharusnya tempat berbagai pemikiran kritis bertemu untuk belajar dan merumuskan masalah, kini telah diambil alih oleh pikiran palsu buatan. Ketika di dalam kelas kegiatan perkuliahan telah didominasi oleh mesin pintar bernama akal imitasi/artificial intelligence (AI).
Saya melihat sendiri pemanfaatan AI yang terjadi di sesi presentasi kelompok. Masing-masing mahasiswa sibuk mengajukan perintah kepada AI di layar gawainya. Dari hasil instruksi AI itu, ia pun membaca pertanyaannya kepada kelompok presentator yang mungkin tanpa diubah sedikit atau dibaca ulang.
Hal tersebut tak berhenti di situ. Bahkan, kelompok presentator juga langsung bertanya kepada AI agar mendapat jawaban dengan instan. Menyaksikan seluruh perbuatan ini seperti melihat robot-robot berkuliah, sedangkan manusia hanya sebagai pajangan yang membayar biaya kuliahnya.
Baca juga: Entrok: Benang Merah Sejarah Ketertindasan Perempuan
Berdasarkan hasil survei yang diadakan oleh Tim Didaktika di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dari 70 responden mahasiswa mengaku AI telah membantunya dalam aktivitas perkuliahan. Sebesar 20,3% menggunakan AI sebanyak tiga sampai empat kali dalam seminggu, bahkan tak sedikit juga yang memakainya setiap hari. Penggunaan AI itu kebanyakan untuk mencari ringkasan jurnal dan menyusun kerangka esai secara cepat.
Dari hasil amatan pribadi saya di dalam kelas serta hasil survei di atas, terdapat kesimpulan yang mencemaskan, bahwa mahasiswa memanfaatkan AI hanya untuk tujuan yang instan. AI memang telah membantu mahasiswa dalam mencerna informasi dan menemukan banyak referensi. Akan tetapi, kecepatan kerja yang diberikan AI telah membuat mahasiswa terjebak dalam ketergantungan teknologi, hingga membentuk perilaku malas berpikir.
Fenomena ketergantungan ini sebetulnya adalah dampak langsung dari korelasi antara pesatnya perkembangan teknologi dan juga gagapnya sistem pendidikan menanggapi hal itu. Masih segar dalam ingatan kita, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meminta agar kurikulum mulai mengadopsi pembelajaran AI dan coding sejak sekolah supaya dapat mengikuti arus perkembangan zaman. Mengambil contoh kasus tersebut, pemerintah dan sekolah sering kali kaget dan hanya melihat betapa menakjubkannya teknologi masa kini tanpa memikirkan dampak yang akan ditimbulkannya. Hubungan antara pendidikan dan teknologi selama ini seolah-olah hanya difokuskan pada penggunaannya saja daripada mencoba kritis terhadap perkembangan yang terjadi.
Cara berpikir ini dikritik oleh sosiolog pendidikan Neil Seilwyn. Ia menjelaskan, selama ini orang sering terjebak dalam pemahaman determinisme teknologi (technological determinism), yaitu sebuah anggapan bahwa teknologi pasti akan maju sendiri dan kita sebagai manusia hanya bisa pasrah menanggapi nasib perkembangan. Pemikiran semacam ini yang akhirnya membuat kita mengira bahwa mesin seperti AI punya sifat bawaaan gaib yang pasti selalu memberi manfaat otomatis pada gaya belajar, sementara mengabaikan masalah sosial yang sebenarnya ditimbulkan olehnya.
Dengan teori Social Shaping of Technology (SST) dan Social Construct of Technology (SCOT), Seilwyn mengajarkan bahwa wujud dan makna sebuah teknologi itu sebenarnya dibentuk oleh interaksi masyarakat sosial, bukan muncul dari ruang hampa. AI sebenarnya tidak memiliki sifat mutlak yang otomatis dapat membuat penggunanya menjadi pintar atau malas. Mulai dari perusahaan pengembangnya, pemerintah, guru, sampai para penggunanya lah yang memberikan makna dan membentuk ingin seperti apa teknologi itu digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena sekolah dan pemerintah masih gagap dan belum bisa membentuk cara penggunaan teknologi yang tepat, akibatnya AI menjadi tidak terkendali. Di satu sisi, perusahaan-perusahaan teknologi besar sengaja mendesak agar AI terus digunakan secara luas demi keuntungan politik dan ekonomi mereka. Di sisi lain, karena tidak ada peraturan yang jelas dari pemerintah untuk menguasai dan memaknai teknologi AI secara kritis, para pelajar justru membentuk AI hanya sekadar sebagai mesin joki tugas instan dan gratis. Ini adalah akibat dari gagalnya pemerintah mengatur teknologi sesuai kebutuhan belajar yang sebenarnya.
Akibat terburuk dari semua itu adalah hilangnya daya pikir kritis kita sebagai pelajar. Ketika lingkungan belajar membiarkan kebiasaan mencari jalan pintas, AI akan patuh berubah menjadi alat pembodohan yang memanjakan daya pikir kita. Bukannya kita yang mengatur teknologi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, namun justru pikiran kita yang dikendalikan oleh kebiasaan serba instan. Jika hal ini terus dibiarkan terjadi, tidak hanya tugas kuliah saja yang dikerjakan oleh mesin, tapi identitas dan kemampuan kita sebagai manusia yang berpikir pun akan ikut digantikan olehnya. AI memang menawarkan jawaban yang cepat, namun semakin cepat pula kita akan menuju kebodohan jika kita bergantung kepadanya.
Maka dari itu, kita perlu membuang jauh-jauh pikiran bahwa teknologi memiliki jalan nasibnya sendiri yang tak bisa dilawan. Kita harus mulai berani mempertanyakan siapa yang membentuk teknologi dan juga untuk kepentingan siapa teknologi itu diciptakan. Kita mesti paham bahwa teknologi bukanlah entitas yang netral. Ia memiliki kepentingan dibalik kecanggihan yang ditawarkannya. Dengan mengetahui hal tersebut, barulah kita bisa turut mengatur penggunaannya secara adil, bukan sebaliknya, kita yang diatur oleh mesin.
Baca juga: Karena Komdis Sang Maha Tahu
Untuk mewujudkan hal itu, pemerintah memiliki tanggung jawab yang sangat penting. Selama ini, para pembuat kebijakan sering kali hanya melihat teknologi dari kacamata yang katro dan cenderung mengabaikan sisi sosialnya. Pemerintah tak boleh lagi sekadar menyarankan menggunakan AI tanpa melihat kenyataan yang ditimbulkan. Para pembuat kebijakan semestinya lebih peduli dan cakap pada bagaimana teknologi memengaruhi tingkah laku sosial sehari-hari, bukan hanya terpaku pada pengejaran target pengadaan atau sekadar ikut-ikutan tren masyarakat informasi dunia.
Sementara itu, kita sebagai mahasiswa yang juga bagian dari masyarakat lebih luas tidak boleh lagi menjadi pengguna pasif yang malas berpikir. Kita mesti sadar bahwa kitalah yang turut membentuk makna dari teknologi tersebut di lingkungan pendidikan. Diperlukan pembiasaan diri untuk tidak bergantung pada jawaban yang dihasilkan oleh AI. Dengan keinginan untuk tetap membaca, berdiskusi dengan sesama kawan, dan mencoba memecahkan tugas sendiri, kita sebenarnya sedang melakukan perlawanan kecil agar pikiran kita tidak disetir oleh alat yang diciptakan oleh korporasi teknologi besar.
Penulis: Ramadhan Alderisyah
Editor: Naufal Nawwaf

