Mahasiswa yang terhimpun ke dalam Aliansi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Melawan menggelar konsolidasi lanjutan. Bertujuan untuk membahas pelbagai permasalahan dan sebagai langkah menyemai semangat pergerakan mahasiswa yang sempat padam.

Derap puluhan langkah kaki bergerak ke area Plaza Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Rombongan yang tergabung dalam Aliansi UNJ Melawan itu lantas duduk membentuk lingkaran besar di atas rumput kering. Guna menjalani konsolidasi teknis pada Rabu (10/6).

Kegiatan rembuk ini merupakan agenda lanjutan dari konsolidasi yang telah dilakukan pada Kamis (4/6). Tujuannya, untuk membahas lebih rinci bagaimana rencana aksi dapat terlaksana dengan baik.

Baca jugaRegulasi UKT Mandek, Ongkos Praktikum Mahasiswa UNJ Meledak

“Oke teman-teman. Sebelum mulai kita absen terlebih dahulu, ya,” ucap Pemimpin Konsolidasi Teknis, Dimas Galih memecah keheningan.

Silih berganti mahasiswa pun memperkenalkan diri. Diantara mereka, berasal dari organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH), Fakultas Teknik (FT), Pandawa, Dialektika Project, Red Soldier, Solidaritas Pemoeda Rawamangun (Spora), dan lain-lain. Sayangnya, perwakilan dari BEM UNJ absen dalam konsolidasi ini.

Iklan

Kemudian, Dimas membahas terkait permasalahan-permasalahan yang sedang terjadi. Misalnya terkait pengesahan Undang-Undang (UU) Kepolisian Republik Indonesia (Polri), bancakan korupsi program makan bergizi gratis (MBG), maupun naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax.

Tak hanya itu, Dimas juga menyoroti terkait permasalahan-permasalahan yang terjadi di UNJ. Misalnya, terkait dengan mahalnya biaya kuliah, fasilitas minim, hingga meningkatnya jumlah mahasiswa di Kampus Hijau Rawamangun ini.

Berlandaskan itu, bagi Dimas, konsolidasi ini juga bertujuan untuk memantik semangat pergerakan mahasiswa UNJ. Dengan menyebarkan poster seruan aksi yang terdistribusi lewat media sosial maupun tempelan di sudut-sudut UNJ. Supaya, harap Dimas, seluruh mahasiswa dapat membersamai demonstrasi yang akan digelar nantinya.

Setelahnya, ia mengajak mahasiswa-mahasiswa yang hadir untuk memaparkan hasil riset dan buah pikiran kepada forum. Tujuannya, agar tercapai kesepakatan bersama atas poin-poin tuntutan yang akan dibawa ke dalam aksi demonstrasi. Dimas juga membahas terkait teknis demonstrasi yang akan dilakoni pada Jumat (12/6).

“Mungkin, untuk perwakilan-perwakilan mahasiswa dapat mengungkapkan pandangannya. Terkait dengan isu nasional maupun kampus,” pinta Dimas.

Gayung bersambut, Mahasiswi Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Aurel merasa geram dengan kondisi perekonomian Indonesia yang kian lesu. Salah satunya, terkait dengan terbatasnya lapangan kerja sehingga berdampak pada meningkatnya jumlah pengangguran.

Walhasil, ucap Aurel, kondisi perekonomian saat ini membuat kehidupan masyarakat semakin tertindas. Dirinya mencontohkan para petani di pedesaan yang sulit membeli pupuk karena harganya kian mahal.

“Ketika kondisi ekonomi terus merosot akan membuat kebutuhan masyarakat semakin mahal. Pada akhirnya, akan membunuh kita secara perlahan,” ucapnya.

Di tengah kondisi sosial-ekonomi Indonesia yang memburuk, Aurel menilai mahasiswa UNJ saat ini bersifat apatis. Sebab, jamak mahasiswa disibukkan dengan tuntutan ekonomi, kehidupan keluarganya, hingga permasalahan biaya kuliah ketika kampus telah berstatus Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PTN-BH).

Walaupun demikian, Aurel memiliki secercah harapan agar mahasiswa memiliki kesadaran terkait permasalahan yang terjadi, baik skala nasional maupun kampus. Oleh karenanya, ia semangat mengajak mahasiswa lain turut serta pada demonstrasi nanti.

Iklan

“Dengan adanya kesadaran pada diri mereka saja sudah cukup. Sisanya biarkan mereka yang memilih caranya, entah melalui ikut aksi ataupun meluapkan di sosial media,” tegasnya.

Saat sinar bulan tampak samar-samar tertutup awan sirus, tampak Ketua Pandawa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Muhammad Dzaki membicarakan ihwal permasalahan-permasalahan yang sedang terjadi. Sebagai contoh, terkait kenaikan harga bahan pangan yang akan menyulitkan masyarakat untuk membeli kebutuhan pokok.

Dzaki juga mengatakan permasalahan penting selanjutnya berkaitan dengan melemahnya rupiah. Dimana pada saat ini, nilai tukarnya sudah mencapai Rp 18 ribu terhadap satu dolar Amerika Serikat.

“Melemahnya nilai tukar rupiah selaras dengan kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat. Tentunya hal ini berdampak negatif terhadap kehidupan,” sebut Dzaki.

Saat senandung azan Isya berhenti berkumandang, Dzaki melanjutkan bicaranya seputar pelbagai permasalahan yang terjadi di kampus. Setelah UNJ menjadi PTN-BH, acap terjadi permasalahan penggolongan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Permasalahan ini dialami oleh sohib satu fakultas Dzaki yang mendapatkan UKT tidak sesuai dengan kondisi ekonomi dan berstatus yatim-piatu.

Dzaki lantas menyoroti terkait transparansi sistem penggolongan UKT yang dilakukan kampus. Sebab menurutnya, ketika jamak mahasiswa telah mengisi berkas sesuai dengan kondisi ekonominya, namun tetap mendapatkan golongan UKT yang tinggi.

Lebih lanjut, Dzaki juga menyoroti banyaknya tindak kekerasan seksual (KS) yang terjadi di UNJ. Teranyar, kasus KS yang dilakukan oleh mantan Ketua Greenforce UNJ pada tahun ini. Namun, tidak ada penyelesaian berarti yang dilakukan oleh Satuan Tugas Penanganan dan Pencegahan Kekerasan (Satgas PPK) UNJ.

“Kita harus menuntut kampus supaya transparan menyelesaikan problematika yang terjadi. Khususnya terkait UKT maupun KS,” pungkasnya sembari memegang rokok beraroma apel.

Di tengah himpitan permasalahan tersebut, Dzaki memiliki imajinasi bahwa konsolidasi ini dapat membangkitkan pergerakan mahasiswa yang mengalami mati suri. Selain itu, menjadi pemantik kalangan mahasiswa UNJ yang masih apatis dengan pelbagai permasalahan yang ada.

Oleh karena itu, Dzaki juga berharap seluruh mahasiswa UNJ dapat terpantik kesadaran kritisnya. Agar dapat membersamai dan bergerak bersama untuk memerjuangkan hak-haknya.

Baca jugaAncaman Kecanduan AI dalam Kegiatan Akademik Mahasiswa UNJ

Selain itu, Dzaki mengajak agar kegiatan konsolidasi tidak berhenti ketika demonstrasi telah dilakukan. Berharap, agar pergerakan Aliansi UNJ melawan dapat terus konsisten dan tetap semangat dalam mengawal berbagai permasalahan yang ada

“Saya berharap, agar mahasiswa UNJ peduli dengan permasalahan yang ada. Kemudian dengan senang hati bergerak bersama,” tutupnya.

Reporter/penulis: Lalu Adam & Rasha Putra

Editor: Muhammad Zidnan Nuuro