Komitmen kampus ramah disabilitas tidak kunjung terwujud. Mahasiswa Difabel UNJ masih mengeluhkan sulitnya mengakses ruang belajar inklusif.

“Hijau Kampusku, Hijau Bumiku,” terus disebut-sebut ketika kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa (PKKMB) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada tahun 2025. Saat itu, PKKMB mengusung tema “Edukasi untuk Bumi Lestari”, menekankan kesadaran ekologis dan mencerminkan komitmen UNJ dalam membangun kampus yang inklusif, ramah, dan memberi ruang  setara bagi seluruh mahasiswa.

Tema tersebut sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 48 Tahun 2023 tentang akomodasi layak untuk peserta didik penyandang disabilitas pada satuan pendidikan anak usia dini formal, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.  Bentuk akomodasinya meliputi penyediaan fasilitas yang aksesibel, penyesuaian kurikulum, metode penyampaian materi, cara belajar, serta alokasi pendanaan untuk memenuhi segala kebutuhan.

Baca jugaSengkarut Kuota Mahasiswa UNJ: Angka Melonjak, Ruangan Kian Sesak 

Dengan begitu, UNJ sebagai satuan pendidikan wajib memfasilitasi  pembelajaran. Sehingga, mampu mengakomodasi segala kebutuhan civitas kampus untuk menciptakan kampus inklusif. Kendati demikian, terdapat sejumlah keluhan mahasiswa difabel menjalani proses belajar di kelas. 

Di sudut Gedung SFD, suara hiruk-pikuk dari segala penjuru tidak mampu meredam suara bicara Mahasiswa Program Studi (Prodi) Tata Boga 2025, Sisil yang merupakan seorang penyandang tuli. Dengan suara serak basah, ia mengeluhkan berbagai hambatannya setelah genap satu tahun menjalani kampus.

Iklan

Sisil mengaku kesulitan untuk berpartisipasi langsung  dalam sesi diskusi setelah presentasi. Pasalnya, melalui arahan dosen, ia terpaksa tidak bisa berperan aktif ketika pembelajaran di kelas berlangsung. Dirinya mengaku, pertanyaan atau tanggapan harus diteruskan terlebih dahulu kepada teman atau penanggung jawab (PJ) kelas.

“Jadi PJ yang sampaikan pertanyaan atau tanggapan aku ke dosennya,” ungkap Sisil pada Jumat (17/4).

Di lain tempat, Mahasiswa Pendidikan Khusus (2024) penyandang netra, Makhsun Intikon juga masih mengalami kesukaran dalam pembelajaran. Makhsun menceritakan kerap menghadapi kesulitan ketika materi perkuliahan disajikan dalam media visual, seperti gambar, diagram, hingga tabel bertingkat. Menurutnya, perangkat belum dilengkapi deskripsi sehingga tidak terbaca oleh aplikasi pembaca layar.

Kondisi tersebut membuat proses belajar yang dijalani Makhsun berbeda dengan mahasiswa pada umumnya. Untuk memahami materi perkuliahan, sehari-hari Makhsun hampir selalu merekam penjelasan dosen. Hasil rekaman kemudian diubah menjadi teks, guna  didengarkan kembali. Di beberapa waktu, sebagian dosen turut membantu menyediakan resume  materi setelah perkuliahan selesai.

“Sebagai disabilitas, sejauh ini untuk perkuliahan aku memang memiliki banyak kendala. Misalnya, ketika ada tugas dengan slide PPT yang belum ada deskripsi audio,” ujarnya pada Jumat (24/4).

Kendala lain muncul saat menyusun makalah. Makhsun perlu menghapus kata demi kata berulang hanya untuk menyusun satu kalimat. Akibatnya, ia  butuh pendampingan orang tua setiap ingin mengerjakan tugas yang memerlukan pengetikan lain. 

“Misalnya sudah sampai baris ke berapa yang perlu diedit, apalagi kalau sudah terisi banyak paragraf. Aku perlu didampingi orang tua dalam mengerjakan penugasan itu,” keluh Makhsun.

Kesulitan datang kembali ketika Makhsun mencari referensi untuk tugas kuliah. Terlebih saat membaca buku atau jurnal ratusan halaman, ia menghabiskan waktu dan tingkat konsentrasi lebih besar karena mendengarkan satu per satu kata yang terbaca pembaca layar.

“Apalagi kalau dari buku yang beratus halaman. Itu perlu aku secara ekstra baca satu-satu,” pungkasnya.

Kesulitan yang dialami Makhsun bukan hal yang baru bagi Dosen Prodi Pendidikan Khusus, Neddyana. Menurutnya, materi belajar berbentuk tabel, gambar, atau tata letak yang kompleks lainnya memang sulit dibaca oleh Screen Reader. Berangkat dari kondisi itu, ia berpendapat penyusunan materi dengan format paragraf runtut dan poin lebih mudah terbaca.

Iklan

“Walaupun itu adalah Power Point, juga agak tricky bacanya. Misalkan dia banyak gambar, tulisan kepisah tiga, jadi susah kebaca. Makanya yang paling aman bentuk paragraf dan poin,”  terangnya pada Selasa (26/5).

Neddyana menceritakan persoalan serupa juga ditemui pada mahasiswa Pendidikan Musik, sesama penyandang netra yang kesulitan membaca notasi balok. Untuk mengkonversinya ke dalam huruf Braille membutuhkan mekanisme yang panjang. Bahkan perlu melibatkan pihak eksternal seperti mitra netra.

Sepanjang yang ia tahu, UNJ telah memiliki mesin cetak braille. Namun, karena sudah lama tidak digunakan, mesin itu tidak bisa dimanfaatkan secara optimal. Sedangkan untuk membeli, harga yang dikeluarkan bisa setara mobil bekas.

“Kita akhirnya kalau mencetak materi keseluruhan ke dalam huruf braille, kerjasamanya ke eksternal, nggak bisa di internal,” lanjutnya.

Di samping penyediaan alat penunjang, Badan Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (BP3) UNJ menyelenggarakan pelatihan layanan disabilitas setiap akhir tahun. Salah satunya pada bulan Oktober tahun lalu.

Melansir situs resmi UNJ, sebanyak 25 dosen program studi yang memiliki mahasiswa disabilitas mengikuti pelatihan tersebut. Materi yang diberikan mencakup identifikasi kebutuhan belajar, modifikasi pembelajaran, hingga penilaian akademik, sebagai upaya memberikan layanan kepada mahasiswa disabilitas.

Meski demikian, Neddyana menyayangkan pelatihan tersebut belum mampu menjangkau keseluruhan dosen. Lantaran terhalang oleh padatnya kegiatan akademik masing-masing pendidik.

Padahal menurutnya, ruang inklusif tergantung kepada dukungan tenaga pengajar memahami kebutuhan mahasiswa difabel. Karena itu, ia berharap kesadaran mengenai kebutuhan mahasiswa difabel menyebar ke seluruh fakultas lain.

“Dengan jumlah dosen di UNJ yang mencapai hampir 1.300 orang, mungkin belum semuanya dijangkau. Jadi, awareness di beberapa fakultas masih perlu ditingkatkan,” tutupnya.

Menanggapi pendapat Neddyana, Koordinator Pusat Pengembangan dan Layanan bagi Disabilitas (PPVSBDL), Lalan Erlani berdalih pelatihan layanan disabilitas untuk dosen masih belum menyeluruh. Sebab, hanya diprioritaskan kepada dosen yang memiliki mahasiswa difabel di Prodi saja. Sebagai jalan tengah, ia menganjurkan untuk belajar satu sama lain.

“Jadi jalan tengahnya dosen yang diberikan pelatihan nanti mengajarkan di masing-masing prodi,” terang Lalan pada Rabu (3/6).

Mengenai penyediaan media cetak braille, Lalan berkilah dengan perkembangan teknologi sekarang telah menggeser penggunaan media cetak braille. Sehingga, tunanetra lebih sering memanfaatkan aplikasi pembaca layar di telepon genggam mereka.

“Sekarang kan teknologi murah, dari handphone saja sudah bisa menerjemahkan atau bahkan merubah dari  teks menjadi suara, “ ucapnya.

Baca jugaAkademisi Ragu atas Komitmen UNJ Tidak Buka Dapur MBG

Lalan mengungkapkan layanan disabilitas UNJ diusahakan mengalami perkembangan meski tidak semerta-merta mengubah secara signifikan. Misalnya, Lalan mencontohkan perkembangan guiding block di FIP tahun ini sudah diperbaiki dibanding kondisi tahun lalu. 

“Jadi ada perubahan lah sedikit-sedikit. Sebab, UNJ juga menyadari bahwa kita tidak bisa sekaligus (merubah). Namun sedikit-sedikit,” tutup Lalan.

Reporter/ penulis: Anggun Permatasari

Editor: Anna Abellina Matulessy