(Artikel ini ditulis R.A. Kartini dan diterbitkan di majalah Eigen Haard, 3 Januari 1903. Diterjemahkan oleh Daniel F.M. Tangkilisan. Terima kasih banyak kepada Ibu Dr. Widjajanti Dharmowijono untuk penyempurnaan terjemahannya.)

Jauh dari hiruk-pikuknya pasar, dari kesibukan, kegelisahan dan rasa diburu yang terasa di kota-kota besar, terletaklah Japara kecil yang sendiri dan ditinggalkan, tenang dan damai. Di suatu masa yang telah lama berselang, kawasan ini cukup penting, namun kini telah bertahun-tahun menjadi sudut kecil yang usang dan terlupakan, tidak ada apa pun dan tidak didatangi seorang pun kecuali jika terpaksa. Tiada lagi yang mengingatkan akan kebesaran dan ketenaran masa lalu. Hanya benteng Portugis di atas bukit dekat kota yang terlihat dari jauh jika orang datang dari arah laut, mengisahkan kebesaran dahulu kala. Dan sebuah gamelan tua, sangat tua, yang tiap Senin pagi dan sore dibunyikan–oleh karena itu disebut “Gong Senen”, gamelan Senin–menggugah kenangan masa ksatria, saat suara sukacitanya memanggil para bangsawan menghadiri pertandingan, namun kini menakutkan orang asing dengan suaranya yang aus. Hampir tiap orang yang karena pekerjaan harus tinggal sementara di sini, menganggap dirinya terasing dan meratap putus asa: “Bagaimana aku bisa keluar dari sini? Akankah aku keluar dari sini? Akankah aku lebih dulu mati bosan sebelum saat pelepasanku akhirnya tiba?” Tempat yang miskin dan salah dinilai!

Apakah kau membiarkannya, Japara, engkau yang dahulu menduduki tempat terhormat di antara kota-kota penting? Apakah kau membiarkan orang-orang meremehkan dan mencemoohmu?

Baca jugaMati Suri Organisasi Pergerakan Mahasiswa di UNJ

Berdirilah tegak! Berbicaralah, buatlah namamu diucapkan dengan hormat dan takjub! Karena, oh, engkau tidak buruk, Japara, sama sekali tidak buruk! Engkau manis dan menawan dengan ketenanganmu yang damai. Jalan-jalanmu berpepohonan teduh, yang sangat mengundang orang berjalan menyusurinya. Sudut-sudutmu yang intim dicari untuk tempat pertemuan akrab penuh canda lincah dan tawa riang. Alun-alunmu yang cantik diselimuti permadani beludru hijau bertabur bunga warna-warni memekar dalam tamantaman anggun, dikelilingi pohon-pohon beringin yang menyembunyikan rumah-rumah di belakangnya, yang dengan manisnya memaparkan warna coklat merah atapnya dan warna putih dindingnya pada celah-celah tirai hijau mewah. Samuderamu yang surgawi, yang membuat kita lupa segala kekhawatiran duniawi kita, membuai kita dalam wahana semampai di atas buih gelombangnya, mengelilingi kita dengan nafasnya yang segar, sehat dan menguatkan. Pantaimu yang menawan, di sana hati terangkat oleh paparan alam nan naim, permainan warna dan cahaya nan megah yang menyihir mentari tenggelam pada kubah langit dan pada permukaan air beriak tak bertepi, yang riaknya kadang berkecipak lembut kadang mendesis ganas pecah di pasir putih bersih.

Sayang sekali tidak setiap orang menyadari kecantikanmu! Bagi mereka yang menggantungkan kebahagiaannya pada keberadaan manusia lain, keindahan alammu adalah sesuatu yang mengerikan!

Iklan

Oh! Janganlah biarkan kesalahpahaman itu ada, ingatlah masa lalumu yang terhormat! Bangkitlah, balaslah dendammu! Paksalah khalayak ramai menyebutkan namamu dengan hormat dan takjub!

Jika para dewa berkenan, engkau akan berhasil!

Karena engkau kaya, Japara, lebih kaya daripada kota-kota kecil lainnya yang tidak dipandang; lebih istimewa daripada banyak kota besar, yang menawarkan kesempatan untuk bepergian tiap hari dan bersenang-senang, tempat yang ‘lebih menyenangkan’!

Engkau kaya, engkau istimewa karena engkau memiliki sebuah harta karun yang akan membuat banyak, banyak sekali orang iri jika saja mereka tahu, dan yang akan membuat Insulinde bangga.

Di tanahmu lahir, hidup dan bekerjalah sebuah keluarga seniman yang istimewa!

Terlalu lama harta berharga ini tersembunyi, terkubur di bawah debu kelesuan. Harta itu harus dan akan muncul!

Sepertinya dalam waktu tidak lama lagi perhatian masyarakat negeri ini, dan mungkin juga dari seberang lautan, akan terpaku pada harta tak ternilai itu, seni rakyat mulia di Japara yang dilupakan dan dihina.

Ada harapan, banyak harapan akan hal itu!

Ada sebuah pergerakan di Negeri Belanda beberapa tahun belakangan ini yang pasti akan menggembirakan hati setiap pecinta Jawa karena tujuannya adalah membangkitkan perhatian, cinta dan penghargaan terhadap tanah koloni di Negeri Belanda dengan menyebarkan pengetahuan populer tentang negeri dan bangsa di sisi lain khatulistiwa itu.

Terutama pengetahuan akan karya jari-jari berkulit coklat yang tangkas. Pada jari-jari itulah anak-anak alam di negeri mentari ini menaruh jiwanya. Pengetahuan itu akan membangkitkan perhatian dan penghargaan dalam hati setiap pecinta seni di Barat terhadap para saudara berkulit coklat. Hal ini akan membuahkan manfaat.

Iklan

Diberkatilah para pemikir mulia yang menjadikan pergerakan terpuji ini kenyataan dalam bentuk Perkumpulan Oost en West yang, walau baru saja berdiri, telah banyak melakukan pekerjaan-pekerjaan baik.

Di berbagai tempat di Negeri Belanda perkumpulan ini telah memiliki cabang dan tentu begitu juga di Hindia-Belanda. Cabang Pohon Induk di Belanda yang ditanam di ibukota Insulinde tumbuh subur berkat perawatan tak kenal lelah dan istimewa tangan-tangan unggul yang dipercaya mengurusnya. Dalam banyak hati tumbuhan muda ini telah membangkitkan harapan teguh akan buah-buah kaya yang akan dihasilkan bagi anak-anak negeri tempatnya tumbuh dan berkembang.

Beberapa bulan lalu pohon muda ini berbunga untuk pertama kali, dan bagi para perawatnya yang tak kenal lelah dan penuh kasih ini adalah kepuasan yang manis, hanya ada satu suara: ”Sangat indah.”

Pameran Seni Kriya Pribumi pada bulan Juni 1902 di Batavia yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Oost en West sangat berhasil.

“Sebuah pencerahan!”

Orang-orang terheran-heran akan kemampuan penduduk pribumi yang sederhana itu. Tak pernah terpikirkan, tak pernah disangka-sangka bahwa di Hindia begitu banyak keindahan ada dan bisa ada!

Getar keharuan merambat di hati, kejutan, kegembiraan dan kekaguman berlombalomba muncul ketika pada pagi hari 5 Juni 1902 pengunjung yang hampir tak habis-habisnya memasuki pintu kuil tempat para pecinta seni dan sahabat Jawa mengumpulkan harta karun berupa karya-karya seni dari negeri sendiri, ekspresi artistik pribumi.

Keberhasilan ini belum pernah terjadi sebelumnya!

Tujuan telah tercapai! Doa telah terkabulkan!

Dalam lingkungan berpengaruh di Hindia-Belanda telah bangkit perhatian terhadap karya seni pribumi dan telah berkurang pandangan melecehkan orang Eropa terhadap warga pribumi!

Masih ada keuntungan lain yang dihasilkan pekerjaan baik “Oost en West” bagi orang Jawa: finansial. Walau karya-karya seni lainnya juga dipamerkan, dalam Pameran ini terutama telah terjual karya tembaga–yang merupakan fokus utama pameran ini–senilai beberapa ribu gulden dan selanjutnya dipesan untuk nilai yang lebih tinggi lagi.

Dikatakan jumlahnya sebesar f 15.000,-. Pekerja tembaga di Surabaya telah mendapat pekerjaan untuk satu tahun. Dan Oost en West boleh berbangga keanggotaannya telah bertambah beberapa ratus orang.

O! Dan di antara karya-karya yang dipamerkan, yang telah sangat menggembirakan publik pecinta seni di Batavia dan sekitarnya, terdapat karya-karya yang berasal dari Japara!

Ukir kayu Japara!

Bagaimana kata itu dilafalkan? Jangan takut, kau yang berhati lemah, seni anakanakmu dihargai dan akan semakin dihargai lagi dalam lingkup yang semakin besar!

Konon Oost en West berniat tak lama lagi menyelenggarakan pameran khusus karyaukir kayu Japara.

Benarkah kabar itu? Kami tidak tahu, tapi pada pameran etalase Sinterklas Oost en West di Batavia yang akan diadakan bulan depan, sudah dipastikan di antara berbagai karya pribumi akan ada beberapa karya ukir kayu Japara.

Anda sekalian yang telah mengagumi seni rakyat Japara, atau yang akan berkenalan dengannya, kekaguman Anda akan bertambah jika tahu bagaimana keindahan luar biasa ini dihasilkan.

Ikutlah ke sudut kami yang terlupakan, ke desa seniman di belakang benteng Portugis di atas bukit, yang karena letaknya bernama Blakang-Goenoeg. Intiplah bengkel kerja para pengukir kayu yang cakap itu, lihatlah mereka bekerja, saksikanlah ciptaan-ciptaan nan indah dan di sampingnya peralatan nan primitif yang mereka gunakan. Dan selain kekaguman dan rasa hormat akan karya seni mereka, Anda akan merasakan keyakinan tulus muncul dalam diri Anda, bahwa orang-orang berkulit coklat ini yang duduk dengan tenang di tanah, yang merendahkan dirinya guna menghormati Anda, adalah seniman sejak lahir!

Siapa yang membentuk mereka? Siapa yang membimbing mereka? Siapa yang mengajar membuat karya-karya memesona itu, menggambar secara mulia kepada anak-anak kampung sederhana, yang di sini dijuluki orang “adoh lonceng, parak celeng” itu? Siapa? Siapa?

Lihatlah gambar mereka, betapa murni dan sempurna garisnya serta harmonis komposisinya! Tidak ada yang mengganggu corak warnanya, tak ada yang merusak tarikan garisnya yang anggun dan tenang! Apakah itu ranting ataukah daun, bunga, burung, naga, wayang, garisnya tetap sama anggunnya, sama tenangnya, bersama membentuk kesatuan yang harmonis.

Siapa yang mengajar para murid yang patut dihormati ini sehingga mereka dapat menggambar dan berkarya begitu artistik dan menawan?

Inilah seni rakyat, telah dikerjakan sejak entah kapan dan diwariskan dari ayah kepada anak. Seluruh penduduk Blakang Goenoeng tidak lain adalah pengukir kayu dan pembuat perabot. Tua muda, semua putra Blakang Goenoeng memahami dan mengerjakan seni ukir kayu, baik yang sempurna, biasa maupun yang tidak bagus.

Dan uniknya, hanya di desa itulah seni yang indah itu dikerjakan, walau terdapat banyak desa perajin perabot lainnya di Japara.

Berkali-kali ditanyakan, mengapa orang-orang dari desa lain tidak mengerjakan seni ukir kayu dan juga tidak memelajarinya. Selalu dijawab: “Mereka tidak bisa. Hanya putraputra Blakang Goenoeng yang bisa.”

Tapi kenapa tidak, tanya orang. Rakyat memercayai bahwa hanya Blakang Goenoenglah yang beruntung memiliki Danyang pemahat kayu yang memberikan bakatnya hanya kepada keturunannya.

Marilah kita berkunjung ke desa di balik bukit itu, tempat tinggal keluarga seniman besar itu, dan melihat-lihat tempat kerjanya.

Naiklah dulu ke sampan penyeberangan dan seberangilah kali Japara, yang mengalir di kaki bukit menuju laut. Ikutilah jalan setapak di desa nelayan yang membawamu ke sebuah tempat terbuka di pantai.

Tidak nyaman jalannya, ya, di tempat terbuka tanpa pepohonan sementara matahari bersinar terik membakar tengkukmu.

Ayolah, nona muda, janganlah bersedih, sedikit sinar matahari tidak akan membuat kulitmu seperti kulit pribumi. Dan untuk apa payung genit itu yang kau pegang di tanganmu? Jangan berhenti, perjalanan ini akan segera berakhir dan yang menunggu kita di sana akan membuatmu lupa akan rona merah di pipimu yang dikecup sang mentari nakal.

Di sinilah sungai yang membatasi desa itu. Sebuah perahu menunggumu. Naiklah, para pengunjung. Di seberang sana telah menunggu keajaiban, ketenaran Japara, tempat yang usang!

Garda kehormatan yang terdiri dari bocah-bocah setengah telanjang dan telanjang bulat berdiri di seberang siap menyambut anda. Brr, jorok sekali mereka; apakah mereka baru mandi lumpur?

Bocah-bocah jorok itu, para pengunjung, adalah seniman-seniman masa depan! Lihatlah, tanah menunjukkan bukti bakat mereka. Apa pendapatmu tentang burung dan naga yang digambar di tanah dengan bantuan dahan atau batu tajam? Atau tentang kisah wayang yang digambar dengan arang di tembok kayu gardu jaga?

Inilah karya jari-jari dekil monyet-monyet kecil itu, yang memandangmu, orang asing, dengan mulut melongo dan mata terbelalak. Dentingan ganden yang ringan dan dering logam terdengar riang. Inilah sambutan selamat datang dari para pengukir kayu di desa mereka!

Masuklah ke rumah bambu asal sambutan unik yang memanggilmu itu! Hati-hati, menunduklah, pintunya rendah.

Engkau menatapku seakan berkata : “Kau memermainkanku! Apakah gubuk ini atelir? Apakah ini tempat benda-benda cantik itu dibuat yang kau puji sebegitu tinggi dan hendak kau perlihatkan padaku? Apakah itu para seniman, yang kau kagumi, orang-orang setengah telanjang yang duduk di tanah itu? Ck! Ck! Jangan terlalu cepat menghakimi! Lihatlah sekelilingmu dan lihatlah baik-baik. Benar, susah menyesuaikan mata dari sinar terang-benderang di luar ke suasana remang-remang di dalam. Biasakanlah penglihatanmu, lihatlah sekeliling, perhatikan dan barulah menilai!

Sudah kami duga, engkau akan berseru terkejut : “Bagaimana mungkin!” Ya, bagaimana mungkin?–Kami juga bertanya-tanya–Bagaimana mungkin di sudut kecil ini, yang seakan-akan terpencil dan terasingkan dari dunia luas, di lingkungan tanpa bunyi jam, yang pada malam hari suara babi hutan sering membangunkan orang dari tidurnya, di pojok kecil dengan penerangan sekadarnya ini, benda-benda mulia seperti itu dapat dipikirkan dan diciptakan oleh orang-orang yang sangat sederhana, yang hampir tak berbusana, dan tidak pernah, paling tidak sebagian besar, meninggalkan tanah kelahirannya!

Di sini kita berdiri di hadapan sebuah misteri Ilahi yang sangat mulia! Marilah kita melihat dengan seksama sekeliling kita terlebih dahulu, sebelum kita mulai mengagumi dan menikmati! Kenikmatan kita akan semakin besar, jika kita melihat kontras yang mengejutkan antara lingkungan ini, para seniman dan ciptaan-ciptaan mereka.

Kita berada di ruangan dengan penerangan buruk seluas maksimal 16 m² dengan 3 pintu. Di kedua sisinya berdiri papan kayu sempit, panjang dan rendah yang dipakai sebagai meja kerja oleh para pengukir kayu. Sebagian besar masih remaja, pemuda, beberapa sudah dewasa dan matang dan beberapa sudah lanjut usia. Mereka duduk berpasangan di meja kerja di atas tanah tanpa alas, kaki mereka yang berlunjur di bawah meja bercelana hanya selutut yang mungkin dulu pernah berwarna putih. Itu sebelum kita masuk. Sekarang mereka semua duduk bersila, tanda hormat terhadap para pengunjung. Itulah cara duduk sopan orang Jawa.

Di atas meja di samping setiap pengukir terletak setumpukan alat tatah dengan berbagai ukuran, dari yang berukuran biasa sampai yang lebih kecil daripada poros pena, batang-batang panjang yang datar dan yang bundar, ujungnya dipertajam menjadi datar atau setengah bundar. Dalam setiap tumpukan ada 40 alat. Di hadapan sang seniman-pekerja terdapat sebuah papan tipis setebal 1 cm. Di atasnya ia menyulap dengan alat tatah dan gandennya sosok-sosok dan gambar-gambar tercantik.

O! Lihatlah terampil dan cekatan ia menggunakan peralatannya, betapa cepatnya ia berganti alat tatah. Tiap pukulan ganden diiringi denting riang alat tatah di atas meja. Ia meletakkan alat tatah dan ganden, tangannya meraih ke bawah meja dan mengeluarkan sebuah kuas yang ia pakai untuk membersihkan serpihan kayu dari karyanya.

Ia sedang mengerjakan sebuah karya yang rumit. Sepotong kayu coklat muda dengan pola bergelombang harus menjadi tutup sebuah kotak kerja. Kayu itu adalah kayu ambalo dari salah satu Pulau Luar, sangat keras dan susah dibentuk, biasanya dipakai untuk warangka, namun seniman kami tahu cara membentuknya sesuai keinginannya. Potongan kayu itu harus diukir pada kedua sisinya dan dibingkai kayu sonokeling. Perpaduan yang membahagiakan! Efek perpaduannya mengejutkan, kayu ambalo yang terang dengan kayu sono yang gelap di tepinya untuk tutup kotak.

Jenis kayu apa itu, yang gelap, yang sedang dikerjakan? Itulah kayu sono, tumbuh di tanah ini.

Cantik ya, kayu gelap dengan gelombang cerah di dalamnya? Belum diukir pun sudah indah, bagaimana jika seniman pintar itu menghiasnya dengan seninya? Namun jangan tanya apakah pekerjaan ini menyenangkan. Alat-alat tatah yang telah aus itu, yang tiap kali harus berkenalan dengan batu asah, menunjukkan betapa kerasnya bahan yang dikerjakan sang pengukir.

Mengapa ada kertas ditempelkan ke kayu itu?

Penanyaku yang manis, lihatkah kau gambar dari arang di atasnya? Inilah pola ukirannya. Lihatkah kau bahwa sang seniman telah merancang pola baru di atas kertas, menempelkannya pada kayu dan memahat bagian-bagian yang tidak termasuk dalam gambarnya dengan sangat sangat dalam, sehingga figur-figurnya muncul dengan jelas. Setelah itu, setiap garis ditatah terpisah, bunga-bunga dan daun-daun diukir membengkok dan membundar, dahan-dahannya dipertegas, yang harus berakhir dengan posisi miring pada dasarnya. Sebelum ini terjadi, mereka meletakkan sepotong keras tipis, yang biasa dipakai untuk membuat layang-layang, di atas papan itu dan mengolesinya dengan campuran jelaga dan minyak. Dalam sekejap gambar itu telah berpindah ke kayu. Sangat sederhana, tapi cerdik sekali, bukan? Begitulah polanya dipindahkan, seakan-akan hanya dengan satu tarikan kuas.

Hati-hati dengan rokmu, nona, rumah Singo tidak punya lantai marmer, kau berlutut di atas bumi! Engkau tidak mendengarkanku: apakah engkau begitu dalam memerhatikan karya pria berkulit coklat itu? Beberapa saat yang lalu kau mengangkat hidungmu yang cantik itu terhadapnya.

Engkau benar. Apa yang terjadi di depan matamu patut diberi perhatian penuh: penciptaan sebuah figur wayang yang indah oleh alat tatah dan ganden yang dikendalikan oleh tangan yang luwes,cekatan dan percaya diri dari seorang seniman negeri ini.

O, o! Apa yang kau lakukan? Apa yang terjadi, para sahabat? Apa yang membuatmu mencondongkan tubuhmu? Ah! Harta karunnya telah ditemukan! Kau tak tahu harus melihat ke mana. Banyak sekali!

Boleh kami bantu memilih beberapa harta mulia itu dan membawanya keluar untuk dilihat di bawah sinar mentari?

Tidak apa-apa. Kami berharap melakukan pilihan yang tepat dengan mengangkat pelindung perapian yang indah ini dari tempat kelahirannya yang tersembunyi dan rendah kepada cahaya, agar tidak salah ditempatkan di ruang rias yang paling artistik!

Kita mulai dengan menghaturkan salam hormat kepada anda, wahai seniman rendah hati yang menciptakan karya seni ajaib ini! Engkau seniman besar karena kau sendiri, tanpa bimbingan ataupun bantuan, telah membawa karya seni mulia ini ke tingkat yang luar biasa, engkau yang dengan peralatan yang sangat sedikit mampu memunculkan keindahan ajaib itu!

Tempatmu bukan di sana, di debu di bawah kaki kami. Tempatmu tinggi di atas sana, jauh lebih tinggi daripada kami, yang engkau sebut „bendoro‟, namun sesungguhnya dalam segala kesederhanaanmu engkau lebih superior dengan seni surgawimu!

Suatu kepuasan bagi mata, kenikmatan bagi hati yang engkau perlihatkan kepada kami, wahai engkau seniman sederhana namun luar biasa. Mimpi indah jiwa halusmu digambarkan dalam garis-garis indah, kelokan-kelokan menawan dan lekukan-lekukan lembut! Artistik murni gambarnya dan tanpa cela pengerjaannya!

O, ikutilah garis-garis yang mengalir indah itu, kelokan-kelokan yang anggun, lekukan-lekukan halus dedaunan. Garis-garis mimpi itu mengalir tenang tanpa hambatan berarti, di sini berujung menjadi ikal yang elok, di sana menjadi lambaian anggun bagaikan gerakan tangan lembut seorang wanita yang menawan!

Keseluruhannya menekankan keanggunan yang lembut, yang dapat ditemukan pada bunga, junjungan setengah dewa penduduk pribumi : aristokrasinya! Tidakkah kau rasakan apa yang pastinya merasuki sang seniman ketika ia memberikan bentuk kepada mimpi indah jiwanya yang halus itu, yang sekarang terpahat di kayu, selagi matamu dan jiwamu keduanya menyerap keindahan ciptaannya?

Karya seni mulia! Kayu jati berwarna cerah dipahat secara à jour, di atasnya berdiri setengah relief dua wayang1, di bawah kakinya menggeliat ular-ular, dalam suasana alam yang kaya akan bunga dan dahan berdedaunan tempat burung-burung kecil berpesta. Semua ini dibingkai kayu sonokeling. Ukirannya mengalir ke bingkainya membentuk dua ular memanjat dengan moncong menganga dan lidah bercabang terjulur, seakan-akan siap mencaplok tiap tangan yang hendak menyentuh karya indah yang memahkotai pelindung perapian yang berdiri di atas dua kaki berukiran rapi dari kayu sono.

Ada semacam lapisan yang memantulkan sinar meliputi karya ukir itu, seakan-akan dipoles. Dan oh! Alangkah sederhana caranya. Lapisan itu dihasilkan hanya dengan menyapukan kuas kaku dari inju yang berasal dari pohon aren.

Oh, ya ampun! Dari mana engkau dapatkan keindahan ajaib ini? Tanya seorang pengagum yang terpesona dengan antusias.

Sang lelaki sederhana, sambil duduk rendah hati di tanah, dengan penuh hormat mengangkat sedikit matanya yang menunduk penuh kerendahan dan berkata: ”Dari hati saya, bendoro!”

Tidak, tidak, permata itu tidak dijual. Sudah ada yang punya. Bapak J.H. Abendanon, Direktur Pendidikan, Agama dan Kriya di Batavia adalah pemilik pelindung perapian yang elok ini.

Kalau begitu, barang lainnya saja dari tumpukan besar ini : bingkai lukisan elok, standar foto, kotak foto, kotak asesoris pria, kotak cerutu, kotak perhiasan, kotak kerja dan kotak sarung tangan. Elok, bukan, ibu-ibu, kotak-kotak kecil dari dua jenis kayu, dasarnya dari sonokeling dengan tutup dari ambalo terang bertepi kayu sono. Indahnya ukiran yang menghiasinya! Bagian atas tutup kotak kerja diukir dua wayang dikelilingi dedaunan dan bunga-bungaan, sementara bagian dalamnya dua burung dikelilingi dedaunan dan dahandahan. Di sisi depan terdapat hiasan dahan-dahan berdedaunan dan bunga-bunga dengan dua ular yang saling melilit. Di kedua sisi samping diukir motif yang sama tetapi dengan ayam hutan, bukan ular. Di sisi belakang motif yang sama dengan kijang.

Rapi juga kotak-kotak kecil sewarna dari kayu jati yang terang itu, seperti kotak foto berbentuk buku. Tutupnya dihiasi dahan-dahan berdaun dan dua wayang, pada punggungnya dahan-dahan berdaun.

Manis kotak segi delapan berwarna dua yang berdiri pada kaki-kaki mungil. Cocok ditaruh di meja rias untuk menyimpan bedak dan kuas. Tidakkah kau merasa kotak-kotak lonjong itu manis sekali? Tutupnya memiliki bukaan. Kotak-kotak itu untuk ditaruh di meja teh, guna menyimpan sendok-sendokmu.

Tidakkah enak dilihat nampan dari kayu jati terang itu, dengan ukiran figur-figur dan tepian dari sonokeling? Dan apa pendapatmu akan hiasan meja tulis itu, buku tulis, kotak perangko dan pisau pembuka surat? Engkau hendak langsung mengambilnya.

Maaf sekali, ibu-ibu, harus mengecewakan anda. Tidak satupun dari barang-barang yang dipajang di sini boleh dijual karena … semua sudah t e r j u a l!

Oh, kami mohon maaf yang sedalam-dalamnya karena para seniman yang anda kagumi itu tidak dapat menawarkan cinderamata untuk anda beli saat kunjungan anda yang baik ke atelir mereka.

Penyebabnya sangat menyedihkan: mereka tidak punya modal. Oleh karena itu mereka tidak dapat menyimpan karya yang tidak dipesan. Dalam rentang waktu antara pengerjaan dan menunggu pembeli mereka juga harus bertahan hidup, bukan? Mereka manusia biasa seperti kita, mereka belum belajar hidup hanya dari udara.

Kondisi mengenaskan itu akan segera berakhir! Hari-baik baik telah datang bagi para seniman kita, mereka akan menghadapi masa depan cerah!

Oost en West telah mengurus mereka. Sebagai langkah awal, telah memberi mereka pekerjaan selama beberapa bulan. Semua barang elok itu dikerjakan untuk dan dibiayai oleh perkumpulan itu untuk pameran Sinterklaas-nya yang akan datang di Batavia.

Ini hanyalah awal!

Kami haturkan hormat dan terima kasih kami, Perkumpulan Oost en West, untuk ikhtiarmu yang mulia, ketekunanmu, pengabdianmu dan semangatmu! Semoga sebagai imbalan usahamu yang indah dan tak kenal lelah, segera tiba waktunya, demi kemaslahatan negeri ini, seluruh dunia beradab memberikan perhatian kepada ciptaan-ciptaan seni Insulinde, negeri yang kaya!

Japara, Japara yang kecil, seorang pesimis telah bernubuat bahwa seperempat abad lagi engkau tidak akan lebih daripada sebuah kandang babi! Takutkah engkau nubuatan suram itu akan terjadi? Kami sangat amat yakin engkau akan membuktikannya salah dengan telak!

Baca jugaAnggaran Masih Tersendat, Proyek Pembangunan Gedung SFD Terus Terhambat

Ketenaran indahnya seni anak-anakmu bahkan telah mencapai istana Raja Bawahan. Di sana sebuah pelindung perapian nan elok dari kayu sono menghias ruang rias istri Gubernur Jenderal. Di tempat kerja para pengukir kayu sebuah pelindung perapian lagi sedang dikerjakan untuk Yang Mulia.

Sudut kecil yang penuh kebahagiaan dan masih murni di muka bumi ini, engkau yang menghasilkan karya seni nan surgawi, seperti dinding di Pendopo Kabupaten Japara, yang kami tidak berani gambarkan karena kami sangat sadar akan ketidakmampuan pena kami menggambarkan keindahannya, sehingga kami hanya mampu melampirkan fotonya saja. Engkau tidak ditakdirkan untuk jatuh, namun seperti di masa lalu, engkau dimaksudkan untuk menjadi penyandang nama tenar dan terhormat!

  1 Kedua wayang itu adalah : di kanan Gatot Koco, di kiri Ontoseno, dua saudara putra Bimo, salah satu Pendowo (yang nomor dua), dari lakon “Sembodro Larung”.