Semarak ospek tentunya menjadi euforia bagi para mahasiswa/i baru. Namun, belum saja mulai, panitia dan para mahasiswa/i baru harus dibuat kelimpungan dengan timeline PKKMB yang tidak jelas titik terangnya. Sampai pada akhirnya semua masalah itu dapat diatasi oleh panitia yang berdiskusi dengan pimpinan kampus yang senantiasa berkata “tidak ada ruangannya.” Tentu hal ini menjadi kekhawatiran sendiri bagi para mahasiswa/i baru, beruntung hal ini dapat segera diatasi, sehingga kami dapat merasakan rangkaian PKKMB secara langsung meski ada beberapa rangkaian yang dilaksanakan secara daring dengan alasan yang tidak kami ketahui secara pasti.

Saya mengira bahwa sikap pimpinan kampus yang seperti ini hanya akan terjadi di lingkup kakak tingkat saja. Sayangnya kami sebagai mahasiswa/i baru juga mengalami hal demikian, memang tidak ditunjukan secara langsung, namun dengan cara pimpinan kampus menanggapi permasalahan “gedung mangkrak” yang senantiasa menjadi bahan perbincangan, rasanya itu sudah cukup untuk kami menilai kemungkinan sikap seorang pimpinan kampus yang akan kami hadapi selama empat tahun ke depan.

Baca jugaMarkah Parkir Mobil Dibuat, Siasat Baru UNJ Hasilkan Uang

Dalam rangkaian PKKMB FBS 2026 saya dan mungkin yang lainnya juga menyadari hal berbau militerisme yang ada di lingkungan kampus, mulai dari mahasiswa dari fakultas lain yang harus berjalan jongkok di depan panitia. Saya tidak tahu apa relevansi antara berjalan jongkok dengan kegiatan ospek yang akan mereka laksanakan. Jika alasan yang diberikan adalah berupa pelatihan kedisiplinan, apakah tidak ada hal lain yang lebih bermanfaat dari itu semua?

Beberapa teman saya yang berasal dari fakultas merah pun mengatakan bahwa mereka mengalami beberapa perlakuan yang kurang baik dari pihak panitia di bidang kedisiplinan. “Waktu gue baru keluar dari velodrome dan disuruh lepas atribut kan, gue lepas lah tapi sambil jalan dan buka hp untuk ngabarin orang tua, tapi malah diomelin dibilang ngapain kamu diem saja,” ujar PB (nama disamarkan) salah satu mahasiswa fakultas merah. Tidak berhenti di sana, beliau juga mengatakan bahwa saat pelaksanaan PKKMB fakultas merah ada ratusan mahasiswa/i yang tumbang, sebagian besar tumbang karena rangkaian kedisiplinan yang dilakukan. Sepemahaman saya sebagai mahasiswa/i yang awam, tugas divisi kedisiplinan itu bukan untuk mendominasi apalagi mengintimidasi. Jika ada ratusan mahasiswa/i yang tumbang tentu harus dipertanyakan apa yang panitia lakukan.

Mungkin hal yang saya lihat tersebut merupakan “tradisi” dari fakultas tersebut, tetapi ada beberapa hal yang tidak perlu untuk diwarisi, salah satunya adalah hal-hal yang berbau militerisme. Tidak cukup sampai di situ, ketika PKKMB FBS sedang berlangsung, tepatnya adalah ketika pimpinan BEM FBS menyampaikan pidatonya dan menyerukan tentang pembangunan gedung FBS yang tidak kunjung usai di hadapan beberapa pimpinan kampus. Alih-alih menanggapi kritikan yang disampaikan dengan meminta maaf karena pembangunan yang tidak kunjung selesai, salah satu pimpinan kampus justru melakukan pembelaan diri. Bahkan dalam pidato yang beliau sampaikan tidak ada sepatah kata maaf yang diucapkan.

Iklan

Beliau mengatakan bahwa pembangunan gedung FBS itu bukan karena pihak kampus yang tidak ingin membangunnya, tetapi karena aturan pemerintah yang menghambatnya. Beliau mengatakan bahwa pembangunan gedung FBS akan dilanjutkan tahun ini sebab pemerintah sudah menyetujui untuk pencairan dana yang akan digunakan.

“Memangnya kalian mau kalau UNJ hanya menerima mahasiswa hanya melalui jalur SNBP saja? atau menerima mahasiswa hanya sesuai kapasitas gedung yang ada saja? tentunya tidak kan. Kalian sebagai mahasiswa seharusnya belajar tidak hanya dibatasi oleh ruang dan waktu saja, kalian sebagai mahasiswa harus memiliki kreativitas, dengan atau tidak adanya gedung kalian harus tetap berkarya. Juga jangan gedung mangkrak saja yang kalian ketahui, nanti suatu saat kalian akan memahami bahwa kami pun ingin melanjutkan pembangunannya, tetapi ada aturan-aturan yang harus dipatuhi,” ujarnya dalam pidato yang beliau sampaikan di hadapan ribuan mahasiswa.

Sebagai seseorang yang awam akan regulasi yang beliau sampaikan, seharusnya beliau dapat menyampaikan regulasi yang dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Sebab pernyataan terkait regulasi saja tidak dapat menyelesaikan masalah dan pertanyaan ribuan mahasiswa/i. Saya harap pembangunan gedung FBS dapat segera diselesaikan, dan semoga tidak ada lagi mahasiswa/i yang hanya mendapat pernyataan terkait “peraturan yang harus dipatuhi” dan pemberian zoom premium yang menjadi bahan penyelesaian.

Selain itu, sepertinya pihak kampus harus membuat transparansi UKT yang dibayarkan mahasiswa/i dipergunakan untuk apa saja. Sebab rangkaian kegiatan ospek saja masih harus bayar, dan masuk unit kegiatan mahasiswa yang diinginkan saja harus ada pembayaran registrasi. Itu juga belum tentu diterima, mahasiswa/i baru harus melewati tahap seleksi dan kaderisasi yang tentunya membutuhkan uang juga. Mungkin bagi sebagian orang, uang tersebut adalah jumlah kecil yang tidak perlu dipermasalahkan, tetapi mungkin ada mahasiswa/i yang merasa keberatan namun tidak berani untuk mengatakannya. Memang benar nyatanya bahwa Uang Kuliah Tunggal (UKT) tidak benar-benar tunggal.

Baca jugaMarkah Parkir Mobil Dibuat, Siasat Baru UNJ Hasilkan Uang

Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!
Hidup Perempuan Yang Melawan!
Kalimat-kalimat tersebut sering kali mahasiswa/i serukan ketika sedang parade atau

kegiatan kemahasiswaan dilaksanakan. Tetapi nyatanya mahasiswa/i kini tidak benar-benar hidup dalam kebebasan, langkah mereka sering kali terpaksa berhenti karena iuran dan tindak kekerasan yang tidak berani dilaporkan. Jangan sampai kita menjadi orang yang berisik ke luar tapi diam di dalam.

Ditulis oleh Senja Merah, Mahasiswa Baru Fakultas Bahasa dan Seni 2026 UNJ

Tulisan ini merupakan karya terpilih dalam undangan menulis “Maba Bersuara” yang dibuka LPM Didaktika hingga 30 Agustus 2026.