Sebelum lu ngebunuh anak itu, langkahin dulu mayat babehnye!” ujar Sapei kepada Sabeni dalam pementasan “Burung Bukan Sembarang Burung” sebagai perayaan Ulang Tahun ke-28 Teater Zat.


Teater Zat UNJ melakukan pementasan dengan tema “Burung Bukan Sembarang Burung.” Pertunjukan yang bertujuan untuk menyambut ulang tahun Teater Zat diadakan di Aula Latief Hendraningrat, Kampus A, UNJ. Lebih dari 100 penonton mulai memasuki Aula pada pukul 18.30, Jumat (07/10/22).
Mengambil latar belakang 90-an disertai budaya Betawi Marunda, teater ini bekerja sama dengan Ikatamur, Rawamangun Concept, Seni Pukul Seliwa Betawi, BEM FBS, BEM PBSI, dan BEM Sastra Indonesia.


Pertunjukan teater ini mengadaptasi naskah “Malam Jahanam” karya Motinggo Boesje yang dipadukan dengan budaya Betawi. Selain itu, Fachri Aditya selaku sutradara membubuhi unsur komedi yang sesuai dengan naskah pertunjukan Betawi. Melalui lakon Sabeni, Romlah, Sapei, Ojak, dan Tukang Urut, pertunjukan teater ini sukses mengundang gelak tawa penonton.


Bagi Fachri, teater bernuansa komedi ini menekankan suatu hal kepada para penonton. “Pementasan ini akhirnya membicarakan soal perselingkuhan, keluarga, dan lain sebagainya. Bagi saya, tidak ada yang namanya satu tambah satu sama dengan dua. Hasilnya tetap dua, karena kalian sebagai manusia tetap memiliki ego sampai mati,” jelasnya saat diwawancarai usai pentas.

Teater Zat mengadakan pementasan  “Burung Bukan Sembarang Burung” sebagai perayaan Ulang Tahun ke-28 Teater Zat.


Pementasan teater ini lekat dengan pertunjukan ego dari tiap lakon, bahkan Ojak pun memiliki ego yang tinggi. Ojak diceritakan sebagai anak inklusif yang selalu ceria dan enggan menuruti kemauan orang lain. Dia hanya mau menuruti perintah orang lain bila diberi sebatang rokok, rokok adalah pusat perhatian Ojak dalam pementasan.

Baca juga: Cinta Zaman Pra-Kemerdekaan

Iklan


Umam yang berperan sebagai Ojak menuturkan bahwa ego manusia tidak seharusnya menimbulkan perselisihan berdarah. “Turunin ego masing-masing, karena dalam naskah, aktor menunjukkan ego yang tinggi. Sabeni dan Sapei misalnya, padahal mereka sahabat lama tapi saling membunuh karena Sapei ketahuan selingkuh dengan Romlah. Ojak juga egois, dia ikut dan tau semua kejadian antara Sabeni dan Sapei tapi justru diam dan enggan melerai.


Malam Berdarah Sabeni dan Sapei

Pementasan diawali dengan prosesi lamaran Sabeni, adu pantun dan silat yang menunjukkan ciri khas pernikahan Betawi turut meramaikannya. Tawa penonton memenuhi seisi aula saat prolog cerita dimulai, melalui prolog penuh kebahagiaan tersebut, penonton dituntun kepada ironi Sabeni dan Romlah.

Diperankan oleh Fauzan Nur, Sabeni diceritakan sebagai seorang jawara di pinggiran kampung Betawi. Setelah menikahi Romlah yang diperankan oleh Aira, Sabeni justru mengabaikan istrinya dan berpaling mencintai burung yang dibelinya di pasar Jatinegara. Tak Pelak, Burung Beo milik Sabeni justru menjadi malapetaka bagi kehidupan rumah tangganya.

Sapei, tetangga sekaligus sahabat karib Sabeni dikisahkan mencintai istri sahabatnya. Sapei dan Romlah diam-diam memendam rahasia yang akhirnya terkuak karena amarah Sabeni, amarahnya dipicu saat kehilangan Jali, Burung Beonya. Baginya, burung tersebut sama berharganya dengan kehidupannya sendiri. Namun, kematiannya justru mengungkap rahasia yang selama ini dipendam oleh Sapei dan Romlah.

Adu silat antara Sabeni dan Sapei pun tak terelakan lagi, mereka berdua bertanding mengatasnamakan egonya sendiri-sendiri. Ojak menjadi saksi atas konflik berdarah kedua sahabat itu. Sayangnya, Ojak pun memilih untuk tidak peduli dan enggan memisahkan perkelahian atau menenangkan Romlah.

Sapei memenangkan pertandingan dan membunuh sahabatnya, Sabeni. Tak lama, adegan selanjutnya menampilkan Sapei yang telah menikahi Romlah. Walaupun pernikahan tersebut didasari dengan perkelahian berdarah, Sapei dan Romlah tetap menjunjung tinggi egonya dalam kehidupan rumah tangga. Enggan memikirkan satu sama lain dan memperhatikan pasangannya.

Penulis: Ragil Firdaus

Editor: Namira Pratiwi

Iklan