Sejumlah mahasiswa baru Fakultas Teknik (maba FT) menolak kegiatan Masa Bimbingan (Mabim) yang diadakan pihak dekanat tahun ini. Sebab, padatnya jadwal kegiatan ini dan berbayar.

Surat pemberitahuan digital bernomor B/2472/5.FT/KM/VII/2026 dari Dekanat FT, memantik kekesalan maba Program Studi Teknologi Rekayasa Otomasi (Prodi TRO) 2026,  Muhammad Fakhruddin. Surat itu berisi tentang kegiatan Mabim yang baru diadakan tahun ini. 

Dalam surat di atas, terlampir sebanyak 15 kegiatan yang harus diikuti oleh seluruh maba FT. Salah satu kegiatan yang berlangsung bulan ini ialah Muslim Adventure (MA). Fahru yang tidak berminat ikut MA, terdesak karena dikejar waktu pembayaran kegiatan tersebut. Merasa tertekan, ia pun membawa aspirasinya ke Forum Ketua Angkatan, tetapi hasilnya nihil. 

Baca jugaParadoks Tata Kelola Parkir UNJ

Contradictory train of thought, di awal kata panitia, Mabim untuk melepas penat pasca PKKMB. Tetapi, mengapa diwajibkan dan berbayar,” ucapnya kepada Didaktika melalui Google Meet pada Senin (07/09). 

Fahru melanjutkan, kegiatan MA mematok biaya yang berbeda-beda kepada maba. Pertama, perseorang dipatok nominal iuran sebesar Rp100 ribu. Lain halnya, jika mengajak tiga, hingga lima teman mahasiswa, nominal iurannya menjadi Rp90-80 ribu. 

Iklan

Meski sudah mematok biaya, kata Fahru, kegiatan MA juga membuka donasi di media sosial dengan target uang yang terkumpul sebanyak Rp70 juta. Hal tersebut yang membuat dirinya semakin curiga dengan tata kelola uang kegiatan MA.

Fahru pun mengkritisi total perputaran uang sebesar Rp183,28 juta yang dihitung dari hasil donasi dan iuran maba dalam kegiatan MA. Menurutnya, besaran uang yang terkumpul dari pembayaran iuran maba sudah banyak, tetapi justru mencari donasi lagi. 

Menurut Fahru, kegiatan Mabim itu tidak dibutuhkan maba, karena tujuan sebenarnya hanya memperkenalkan organisasi yang ada di kampus, tidak membimbing. Hal ini sama saja dengan kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) yang telah lebih dahulu dilaksanakan.

“Mana pakai ayat-ayat Al-Quran, Q.S Al-Hadid: 18. Mengapa itu harus dibawa-bawa,” ungkapnya. 

Senada dengan Fahru, Maba FT lain berinisial TYN merasa keberatan dengan kegiatan Mabim yang diwajibkan. Ia resah dengan padatnya kegiatan Mabim dan mengeluarkan banyak biaya.

TYN yang satu prodi dengan Fahru, turut mempertanyakan urgensi kegiatan MA yang diwajibkan dalam rangkaian Mabim FT. TYN merasa, untuk menambah nilai spiritualitas dirinya, sudah cukup dengan Focus Group Discussion (FGD) Keagamaan yang diadakan selama enam bulan. Sehingga, ia merasa tidak perlu ada lagi kegiatan MA yang berbayar. 

TYN mengaku, dirinya merupakan maba lintas jurusan dari otomotif ke elektronika, sehingga merasa perlu beradaptasi. Oleh sebab itu, ia lebih memerlukan penguasaan keahlian dasar elektronika, daripada mengikuti kegiatan Mabim. 

“Mabim itu kegiatan di luar kelas perkuliahan kan, harusnya bisa dimaksimalkan kegiatannya lebih ke arah jurusan kita masing-masing sih. Soalnya banyak Maba yang linjur, bahkan ada yang gak ada basic sama sekali, seperti dari SMA,” ujarnya. 

Sementara itu, pada Kamis (10/09), Didaktika telah mengirim surat permohonan wawancara digital kepada Ketua Pelaksana (Ketuplak) MA melalui narahubungnya. Akan tetapi, dirinya menolak untuk diwawancarai. 

Iklan

Wakil Dekan FT Bidang Kerja Sama, Inovasi, dan Riset, Himawan menanggapi keluhan maba terkait kegiatan Mabim yang baru diadakan tahun ini. Himawan menyatakan, kegiatan Mabim tersebut tidak bersifat wajib.

Adapun kewajiban maba ikut Mabim yang termaktub dalam surat pemberitahuan digital bernomor B/2472/5.FT/KM/VII/2026, menurut Himawan, hanya sebagai gertakan saja. Lanjutnya, instruksi wajib itu untuk mendorong semua maba ikut kegiatan Mabim. 

“Mabim ini second layer kok. Kalau tidak ikut Mabim, masih menjadi mahasiswa,” ucapnya pada Selasa (15/09). 

Himawan menjelaskan, urgensi diadakan Mabim tahun ini karena banyak image negatif yang seringkali melekat pada mahasiswa FT. Salah satu contohnya, ketika ada penemuan botol minuman keras (miras) di area kampus, acap kali temuan itu dituduhkan kepada mahasiswa FT. 

Himawan beranggapan, image negatif itu bisa dihilangkan dengan memperbanyak pendidikan agama yang diberikan kepada Maba. Makanya, tambah Himawan, Maba ditekankan untuk ikut rangkaian Mabim karena banyak diisi dengan materi keagamaan. 

“Kami mau mahasiswa FT yang berakhlak. Gak ada lagi, kegiatan negatif yang disangkut-pautkan dengan mahasiswa FT,” ujarnya. 

Baca jugaThe Odyssey, Cerminan Dilema Usaha Manusia Rasional

Terkait kegiatan Mabim yang berbayar, Himawan menyangkal, kegiatan Mabim ini diharuskan memungut uang dari Maba. Himawan mengklaim, Dekanat FT telah menggelontorkan anggaran biaya yang cukup untuk rangkaian Mabim. 

Adapun, terkait iuran kepada maba dalam rangkaian Mabim, kata Himawan, justru kembali kepada masing-masing penyelenggara kegiatan. Harusnya mahasiswa lama selaku penyelenggara kegiatan, bisa menyiasati pengeluaran, tanpa mengurangi kualitas akomodasi dan kegiatan. 

“Sebetulnya di FT, itu masing-masing kegiatan sudah ada porsinya. Nah, kalau Maba masih bayar lagi, itu urusan mahasiswa yang mengkoordinir, dan yang mencari tempat kegiatan/penginapan. Ini kan tidak melibatkan pihak dekanat,” ucapnya.

Reporter/penulis: Naufal Nawwaf

Editor: Rasha Putra