Matahari telah sangat terik hingga dapat membakar rokokku segera setelah sampai ke mulutku. Bau perjuangan merebak ke dalam paru-paruku di dalam bus penuh sesak dengan keringat para orang-orang tertinggal. Beberapa dari mereka membawa persembahan untuk makhluk surgawi sialan itu yang sama sekali tidak memancarkan aura surga dari ujung rambut hingga kuku jempol kakinya.
Seperti hari lainnya, dunia ini penuh debu dan gersang meski yang memiliki kendaraan bermotor dan pendingin hanya segelintir orang. Masyarakat diupah dengan 0,5% hasil produksinya serta dupa yang akan diakumulasi melalui persembahan bagi Aeanos Gadarhathus atau “sang pemberi surga” bajingan itu setiap caturwulannya. Para penduduk selalu diawasi oleh makhluk itu tanpa adanya ruang untuk dirinya sendiri selama mereka hidup. Mereka bertahan hidup dan bekerja dengan rasa takut sebagai bahan bakarnya.
Aku akhirnya keluar dari bus penuh pengap itu dan mampir sejenak di taman untuk menjernihkan hidungku. Kubakar rokok dan mendengar grusak-grusuk di belakang punggung ku. Dengan rasa penasaran aku melihat, ternyata seorang dengan pakaian lusuh bak pengemis dengan penampilan yang cukup muda.
Baca juga: Monsterisasi Perempuan dalam Sinema Horor
“Hmm,” dengungnya dengan nada melas seakan telah merasakan asam selama satu abad, “boleh saya minta rokoknya?”
“Isep-isep,” ucapku sambil menyodorkan rokok bermerek Gudang Air seharga 27 dupa dan kembalian tiga pisang tanduk yang baru kubeli di warung Bulembang dekat halte bus terakhir.
Aku duduk bersebelahan dengannya, menghisap rokok, nikmati kopi yang kusimpan di botol air favoritku. Tujuh menit sudah terlewati dengan posisi yang sama hingga rokokku habis dan segera kupuntungkan.
“Bang,” panggil pria misterius itu dengan nada agak lebih bersemangat dibanding sebelum terkena kopi dan rokok, “kalau boleh tahu, namanya siapa ya?”
“Saya R-45-A mas,” jawabku.
“Apa abang tidak bosan dengan nama yang gak ada harapannya kayak begitu?” tanya pria itu dengan agak lebih serius.
“Yailah perkara nama aja mesti ada harapannya mas,” aku menjawab dengan rasa jengkel yang meledak. “Hidup udah pusing mas, kalo berharap juga gak bakal dapat.”
Aku berdiri dengan rasa jengkel dan memutuskan untuk pergi jauh dari pria itu. Langkah pertama diambil. Banyak pertanyaan berputar dalam tempo yang singkat. Meski tak peduli, pertanyaan selalu berkelindan hingga terdengar sebuah pertanyaan dengan nada datar namun terdengar nyaring.
“Apa yang telah kau ketahui?” kata pria itu.
Aku berbalik badan. Keringat mengucur dari segala celah di badanku. Selangka, ketiak, bokong, bawah dada, sebutkan semua. Segala pertanyaan, gerutu, cemoohan berubah menjadi satu kata. Mati, mati, mati, mati, mati, mati. Kata itu telah berulang, berulang, berulang, dan berulang kali. Momen sepersekian detik paling menyakitkan yang pernah kurasakan.
“Siapakah dirimu?” Dengan nada takut bercampur resah getaran menyelimuti seluruh bagian badanku. Terselip pernyataan aku ketahuan, aku akan dibunuh, aku akan mati dalam keputusasaan. Riwayatku tamat.
“Apakah kau tidak jadi pergi?” tanya pria itu dengan nada lebih serius bak pembawa wahyu dari surga untuk membelah kali Ciliwung.
Situasi hening sejenak, angin panas bertiup agak kencang, anehnya hangat menggenggam nyaman tubuhku. Keringat berhenti mengucur, napas memanjang, getaran pun melambat dan melambat dan melambat dan akhirnya berhenti. Kuambil lagi sebatang rokok yang kubakar lalu kuhisap lebih dalam.
Pria itu membuka mulutnya dan batuk sedikit. “Saya Gallahan, saya teman dari makhluk yang paling kau benci. Saya yakin anda sudah tahu tujuan kami untuk membebaskan bumi dari belenggu kemelaratan dan kemalangan. Karena itulah anda dapat melihat dan berbincang dengan saya. Saya diutus bersama teman saya sejak 2 abad lalu hingga akhirnya dia memutuskan untuk memimpin dunia ini sendirian. Ketika akhirnya ia memimpin dunia 34% populasi dunia menghilang entah kemana. Itulah informasi yang anda ketahui. Bukankah begitu?”
Aneh sekali, dia itu aneh sekali, diriku pun sama anehnya. Seharusnya diriku merasa ketakutan setengah mati hingga kandung kemihku tidak dapat menahan cairan tubuhku yang telah menghabiskan lima liter air dingin dalam sekali tegukan sebelum berangkat kemari. Sebaliknya, justru aku merasa tenang seperti ketika menonton film “Dead Poets Society” untuk pertama kalinya di pukul tiga pagi.
“Ya,” jawabku dengan pandangan lurus ke depan, “begitulah kira-kira hal yang kutemukan. Sekarang aku menginginkan informasi yang kuat untuk membuktikan bahwa makhluk sialan yang kau sebut teman itu salah dalam mengatur dunia!”
Gallahan tersenyum seperti melihat seorang yang akan mencipta firdaus di muka bumi. Namun, ini bukan pertama kali Gallahan tersenyum. Setiap Gallahan tersenyum seorang yang dianggap pencipta firdaus pun lenyap dilahap sang pemberi surga. Gallahan akan tetap tersenyum sepanjang dirinya berkelindan di muka bumi hingga firdaus akhirnya dapat benar-benar tercipta.
“Yah,” balas Gallahan dengan rasa bangga. “Apa yang akan kau lakukan? Seorang manusia melawan agungnya utusan surga yang tercemar segala dosa dunia, bukankah hal tersebut kedengaran mustahil? Bagaimana kau akan melakukannya?”
Aku bingung, aku memang datang dengan alasan yang jelas, aku ingin membuktikan bahwa makhluk itu salah atau bahkan membunuh makhluk itu dari muka dunia. Namun, yang kubawa hanyalah tekad dan ketakutan akan meninggalkan dunia ini. Aku harus menuntaskannya hari ini, dia pasti akan membunuhku dalam waktu dekat. Aku yakin itu, aku percaya diri dengan itu.
“Kau,” Gallahan melanjutkan “sangat percaya diri sekali dengan apa yang ada di kepalamu itu. Apakah itu adalah yang cukup untuk melancarkan aksimu itu. Kenapa kau begitu terburu-buru hingga kau tidak memikirkan hal itu. Hal paling fatal dalam dirimu adalah kenapa kau sendirian?”
“Kau sudah tahu semua kan?” jawabku dengan rokok yang telah mencapai filternya dan segera ku banting ke tanah dan menginjaknya. “Semua orang di dunia ini bodoh, tidak tahu apa-apa. Jika aku menyebarkan informasi maka dengan segera akan diburu. Aku hanya ingin kalian berdua bersama-sama mencipta firdaus di atas muka bumi ini. Dunia ini telah sama buruknya seperti neraka. Orang-orang hanya bekerja karena takut kepada pemberi surga. Yang mereka lakukan hanyalah patuh dan seolah tidak ada apa-apa. Bahkan ketika mengajak orang yang bahkan sangat dekat denganku, dirinya melemparkan cemoohan kepadaku. Apa yang dapat kulakukan?”
Baca juga: Karawang Selatan Menggugat: Menuntut Pemerintah Membenahi Jalan Badami-Loji
Ku pergi meninggalkan Gallahan yang masih tersenyum. Namun, senyuman itu hanyalah tersisa getir. Sebuah senyuman yang dipaksakan supaya dirinya masih mengemban harapan. Harapan tentang jalan kembali pada tujuan awal adanya pengutusan. Tentang sebuah firdaus dengan segala kemakmurannya.
“Sepertinya obrolan kalian sangat menyenangkan,” sahut sang pemberi surga
“Mati!”
“Andai dirimu tahu mengapa 34% orang hanya dikatakan menghilang,” ucap Gallahan dengan suara penuh kasihan. “Andai dirimu tahu bahwa kau tidak kesepian dan sendirian. Andai dirimu tahu mereka mencari-cari dirimu demi menyelamatkan kemanusiaan. Andai dirimu tahu bahwa aku ada disini melindungimu dan kalian. Selamat tinggal ‘Erubos’”
Penulis: Rasha Putra

