Judul: The Odyssey

Sutradara: Christopher Nolan 

Penulis skenario: Christopher Nolan

Produser: Christopher Nolan, Emma Thomas

Durasi: 2 jam 52 menit

Genre: Aksi, Petualangan, Fantasi

Iklan

Tanggal rilis: 6 Juli 2026

Perusahaan produksi: Universal Pictures, Syncopy

Perilisan The Odyssey (2026) menandai ambisi besar Christopher Nolan dalam menerjemahkan epik mitologi klasik Homer ke layar sinema modern. Dengan tangan dinginnya, cerita tentang perjalanan pahlawan Yunani kuno ini dapat berubah menjadi tontonan sinematik yang sangat megah. Bahkan, filmnya sendiri sukses besar menguasai box office di seluruh dunia dan menerima pendapatan sebesar $1.37 miliar.

Alur cerita film The Odyssey sendiri berpusat pada perjuangan hidup-mati Odysseus (Matt Damon), seorang pahlawan Perang Troya yang berusaha keras untuk bisa pulang ke kampung halamannya di Ithaca. Setelah sukses meruntuhkan Kerajaan Troya, Odysseus seharusnya bisa pulang dalam hitungan hari untuk menemui istrinya, Penelope (Anne Hathaway). Namun, perjalanannya mengarungi lautan Mediterania justru berubah menjadi mimpi buruk yang memakan waktu sepuluh tahun. Ia harus mengarungi perairan yang ganas, pulau-pulau berbahaya, dan berbagai rintangan kosmik lainnya demi bisa kembali kepada pelukan istrinya ataupun memulihkan takhtanya.

Di sepanjang perjalanannya, Odysseus tidak ditampilkan layaknya pahlawan naif yang hanya bermodalkan otot dan ketangkasan. Homer menggambarkan Odysseus sebagai sosok cerdik dan sangat kalkulatif, yang lebih memilih akal sehatnya demi memanipulasi keadaan. Setiap kali berhadapan dengan musuhnya—mulai dari monster Cyclops bernama Pholyphemus sampai nyanyian maut para sirens—Odysseus selalu memutar otaknya agar bisa melanjutkan perjalanan pulang.

Baca jugaAbad Kesekawan

Pada akhirnya, Odysseus bisa kembali ke Ithaca. Akan tetapi, bukannya langsung menunjukkan identitasnya sebagai raja sah di kerajaan itu, ia memilih menyamar menjadi pengemis tua untuk memata-matai situasi istananya yang sudah diinvasi oleh pelamar-pelamar istrinya. Dengan dingin dan penuh perhitungan, Odysseus merancang rencana pembalasan dendam kepada mereka. Lewat bantuan putranya, Telemachus (Tom Holland), Odysseus pada akhirnya membantai semua pelamar itu tanpa ampun demi mengembalikan takhta, kehormatan, dan rumahnya.

Odysseus dan Masyarakat Modern

Perjalanan pulang Odysseus tidak bisa dipandang sebagai epik biasa. Filsuf Jerman Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno dalam bukunya berjudul Dialectic of Enlightenment (1947), memandang kisah ini memiliki makna yang lebih dalam. Mereka menyebut perjalanan pulang Odysseus sebagai perumpamaan sempurna dari konsep dialektika pencerahan. Dialektika pencerahan pada dasarnya adalah teori tentang dilema rasionalitas. Teori ini berpandangan bahwa upaya manusia membebaskan diri dari mitos melalui akal budi, justru berujung pada terciptanya mitos baru yang sama-sama mengekang. 

Horkheimer dan Adorno mengambil contoh dalam salah satu episode perjalanan Odysseus untuk menggambarkan apa yang ia maksud. Dalam kisahnya, Sang Pahlawan diperingatkan oleh Circe (Samantha Morton) untuk berhati-hati terhadap nyanyian maut para Sirens karena siapapun yang mendengarnya akan berbelok dan tak pernah kembali. Odysseus yang penuh akal memutuskan untuk memerintahkan anak buahnya mengikatnya di tiang kapal sekencang mungkin, agar ia bisa mendengarkan suara Sirens tanpa mampu bergerak ke arah mereka. Sementara, anak buahnya diperintahkan untuk menutup telinga mereka dengan lilin dan terus mendayung.

Bagi Horkheimer dan Adorno adegan itu setidaknya menggambarkan dua hal. Yang pertama adalah ketakutan manusia rasional terhadap hal-hal yang di luar kendali dirinya. Sepanjang cerita, Odysseus tampak berambisi tanpa henti untuk mengontrol segala situasi di sekelilingnya, termasuk mengendalikan dirinya dari hasutan Sirens. Bagi mereka, sikap ketakutan masyarakat kuno terhadap suatu yang tabu dan mitos macam dewa-dewa sama saja seperti ketakutan masyarakat modern sekarang. 

Iklan

Kita adalah orang-orang yang mudah cemas dan terobsesi untuk mengatur segala aspek kehidupan melalui teknologi, jam kerja yang ketat, atau aturan-aturan kaku. Alih-alih terbebas, manusia modern akhirnya menciptakan mitosnya sendiri. Kita mendewakan sesuatu yang lebih abstrak: perputaran modal dan proses produksi. Keduanya menjelma menjadi “dewa” baru yang menuntut ketundukan mutlak. Kita merasa terpaksa mengorbankan seluruh hidup demi menjaga mesin ekonomi tetap berputar, persis seperti ritus menyembah dewa.

Yang kedua, yang lebih tragis, dalam menempuh perjalanan pulang penuh rintangan, Odysseus kerap kali mengorbankan para anak buahnya. Tak ayal, terlihat di adegan Sirens ketika mereka disuruh patuh menutup telinga tanpa mempertanyakan apapun sampai akhirnya tak ada satupun dari anak buah Odysseus yang selamat dari perjalanan penuh bahaya itu. Nasib anak buah kapal Odysseus dikorbankan demi keselamatan sang pemimpin.

Horkheimer dan Adorno menerangkan kru kapal Odysseus sebagai cerminan para pekerja industri di dunia modern. Pekerja hanyalah “pion” yang bisa kapan saja dikorbankan atau digantikan demi keuntungan sang raja. Sementara itu, sosok Odysseus adalah cerminan para teknokrat dan eksekutif korporasi di era modern. Berbekal jas rapi dan gelar akademis, mereka selalu mengklaim bertindak rasional serta penuh perhitungan demi menaklukkan realitas.

Ironisnya, obsesi pada logika ini telah membunuh empati mereka. Sesama manusia tidak lagi dilihat sebagai jiwa, melainkan sekadar angka dan sumber daya. Akal sehat akhirnya sekadar disalahgunakan sebagai senjata manipulatif untuk mengamankan kepentingan pribadi tanpa memedulikan nasib orang lain. 

Pada akhirnya, perjalanan pulang Odysseus yang penuh siasat untuk meloloskan diri dari kutukan para dewa adalah cerminan perjalanan kita sendiri. Manusia modern kerap merasa paling cerdas dan rasional karena berhasil membebaskan diri dari belenggu mistis masa lalu. Nahasnya, ambisi rasionalitas tersebut justru melahirkan mitos baru. Demi bisa bertahan di tengah kerasnya mesin industri dan kapitalisme abad ini, kita rela mengorbankan kebebasan dan menyusutkan eksistensi agar menjadi sekadar sekrup kecil dalam rantai produksi. 

Baca jugaMonsterisasi Perempuan dalam Sinema Horor

Pada akhirnya upaya manusia untuk mengejar rasionalitas adalah apa yang dideskripsikan Odysseus ketika mendengar nyanyian Sirens: 

“(Itu adalah) segala hal yang kau inginkan untuk terjadi. Lalu, segala hal yang kau sesali pernah kau harapkan. Rasanya seperti rasa gatal yang nikmat—kau ingin menggaruknya, namun ternyata letaknya di balik kulit. Kau tak bisa menjangkaunya. Maka, rasa gatal yang nikmat itu pun berubah menjadi siksaan yang tak tertahankan. Ia mengatakan bahwa hal yang paling kau inginkan justru adalah hal yang paling tak bisa kau miliki. Dan hal yang paling tak bisa kau miliki itu adalah sesuatu yang pernah kau miliki, namun kemudian hilang. Itu adalah lagu tentang segala janji yang gagal kutepati…”

Sebagai jalan keluar, Horkheimer menawarkan Teori Kritis sebagai jalan emansipatoris. Ia menegaskan bahwa rasionalitas tidak pernah benar-benar netral. Melalui teori ini, manusia didorong untuk membongkar kesadaran palsu dan menembus sistem buatan seperti modal dan target produksi. Lebih lanjut, tujuan utama teori ini adalah mengembalikan ilmu pengetahuan dan tindakan sosial demi kebebasan serta kebahagiaan manusia sebagai subjek, bukan alat untuk melanggengkan kekuasaan sistem yang menindas.  

Terakhir, film The Odyssey terasa megah dan sangat baik untuk menggambarkan sebuah epik yang telah berusia ribuan tahun. Meski begitu, banyak adegan filosofis dalam buku The Odyssey yang mampu menciptakan berbagai interpretasi baik di kalangan akademisi maupun orang awam tak ditampilkan oleh Nolan. Oleh karenanya, film ini masih dirasa sebagai karya adaptasi yang terlalu bebas, tidak setia terhadap karya aslinya.

Penulis: Ramadhan Alderisyah

Editor: Andreas Handy