Pergolakan emosi dari sedih, bahagia, khayalan, perjuangan hingga akibat sebuah perang. Terdapat dalam pementasan monolog soal percintaan Hanafi, seorang veteran perang.

Kamis (16/6/2022) Tim Produksi Creather menampilkan teater monolog yang berjudul “Hulu Tak Berhilir” di Cafe Atelir Ceremai. Dalam pertunjukan yang ada, sang tokoh utama menggambarkan cerita tentang perjuangan cinta di zaman pra-kemerdekaan Indonesia.

Cerita dimulai saat proyektor layar tancap berlatar hitam menampilkan video ledakan yang mencerminkan kondisi zaman peperangan. Hanafi yang dilakoni oleh Eros merupakan seorang Pribumi pejuang kemerdekaan. Ia membuka cerita dengan sedih, karena usaha pencaharian makam kekasihnya masih belum menemui titik terang.

Kesedihan yang dirundung Hanafi, dibalik menjadi kebahagiaan. Hanafi akhirnya menemukan kuburan kekasihnya yaitu Kori, seorang wanita Belanda. Saat menjumpainya, Hanafi panjang lebar menceritakan bagaimana dirinya bergulat dengan dunia. Seakan-akan baginya Hanafi masih hidup dan sedang menghabiskan waktu bersama di malam itu.

Permainan emosi sang tokoh utama menjadi kunci jalannya cerita. Mengingat zaman pra-kemerdekaan, Indonesia tengah berjuang dalam peperangan. Hanafi dikonfirmasi oleh sang pembuat naskah yakni Irsyad Ridho memiliki gangguan mental berupa bipolar (perpindahan emosi cepat) dan delusi (keyakinan akan suatu realitas tanpa berdasarkan kuatnya bukti). Penyakit yang Hanafi dapat karena perang berkepanjangan selama hidupnya.

Mengingat drama ini merupakan adaptasi novel pada tahun 1928. Aroma roman klasik bisa tercium dengan jelas. Kesepakatan mengenai kesetaraan dalam cinta yang mereka berdua yakini, harus pupus oleh perbedaan antara Pribumi dan Belanda.

Iklan

Penghujung cerita mulai saat Hanafi mulai banyak berkontemplasi dan marah-marah. Matahari mulai terbit menandakan pagi telah muncul. Akhirnya, Hanafi pergi dari kuburan Kori dengan janji akan mengunjunginya lagi.

Baca Juga

Otak Kiri Perut Kanan, Pementasan Menohok tentang Idealisme Pemuda

Cerita pun ditutup dengan pemutaran adegan ikonik berupa pembacaan paragraf pertama surat kepercayaan gelanggang. Dalam pengertiannya, surat ini merupakan pernyataan sikap sastrawan angkatan 45.

Isi dari surat tersebut adalah “Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur-baur dari mana dunia baru yang sehat dapat dilahirkan.”

Saat berlakunya sesi tanya jawab. Eros selaku pemeran juga memaparkan adanya kesulitan saat memainkan peran sebagai Hanafi. Gangguan mental seperti bipolar mengharuskan Eros merubah emosinya dengan sangat cepat didalam satu adegan. “Saya menemukan kesulitan berupa perpindahan ekspresi” ujarnya.

Irsyad juga memaparkan bahwa monolog ini mengalami perombakan yang cukup banyak dari novel asli. Salah satu perubahan untuk diadaptasi agar berkenaan pada zaman sekarang adalah kekuatan cinta. Baginya, adaptasi merupakan bentuk dari semangat zaman yang mengacu pada realitas. “Semangat yang dibawa adalah untuk dekat dengan realitas sekarang,” ujarnya.

Namun, yang menjadi hal penting berbicara pagelaran monolog ini bagi Irsyad adalah penyampaian pesan yang terkandung didalamnya. Irsyad mengatakan, cinta tidak dapat dihakimi dalam bentuk apapun.

Hanafi dan Kori merupakan fenomena saat percintaan tidak memiliki batas dalam pelaksanan. Malahan, bentuk cinta mereka tidak dapat dijelaskan. ”Kepercayaan pada cinta itu tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang agung. Lebih tepatnya cinta dideskripsikan sebagai hal yang tidak jelas,” tutup Irsyad.

 

Iklan

Penulis: Arrneto Bayliss

Editor: Ihsan