Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menghadirkan penerbitan independen bernama Untitled.Press. Langkah kolektif ini diambil sebagai solusi untuk mewadahi penulis potensial yang terkendala biaya publikasi karya.
Menjelang akhir masa studinya, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI), Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Muhammad Ridwan Wibowo, tak hanya disibukkan dengan urusan perkuliahan. Melainkan, sedang meniti sebuah ruang penerbitan independen bernama Untitled Press.
Bersama rekannya, Hanung, Ridwan merintis penerbitan tersebut sejak Mei 2025. Uniknya, inisiatif ini bermula dari alasan yang sederhana, yakni sekadar cara untuk mengisi kekosongan jadwal perkuliahan.
Baca juga: Mematok Harga dan Tidak Dibutuhkan, Maba FT Tolak Mabim
Ridwan menceritakan tujuan awal pendirian penerbitan ini murni untuk mencari kegiatan yang produktif di lingkungan kampus. Namun, seiring berjalannya waktu, inisiatif ini berkembang menjadi penerbitan alternatif guna membuka lebih banyak akses bagi para penulis.
“Untitled dibuat untuk ngisi kekosongan perkuliahan aja. Gunakan waktu luang,” ungkapnya kepada Didaktika, pada Senin (24/8).
Lebih lanjut, Ridwan memiliki semangat agar Untitled.Press menjadi wadah bagi siapapun yang ingin menerbitkan karya. Tak ada patokan genre atau isu pada sebuah karya yang diterima. Ia menyasar para penulis anyar nan potensial, khususnya yang terkendala biaya untuk menerbitkan naskah.
Di tengah maraknya komersialisasi penerbitan buku saat ini, ucap Ridwan, Untitled.Press terus berupaya menjadi wadah alternatif. Bagi mereka yang ingin terus berkarya tanpa harus tercekik mahalnya biaya penerbitan naskah.
“Tujuannya supaya siapa saja bisa buat buku. Terus juga mau bantu beberapa penyair yang mau punya buku, bisa punya buku. Tanpa harus bayar uang penerbitan,” tambahnya.
Keputusan meniadakan biaya penerbitan ini tentu mengundang tanya mengenai cara membiayai operasional sehari-hari. Ridwan menjelaskan bahwa Untitled.Press mengandalkan sistem pre-order (PO). Mencetak buku sesuai dengan jumlah pesanan, sehingga modal awal langsung bisa tertutupi.
Sementara itu, kata Ridwan, untuk kebutuhan operasional seperti biaya akomodasi, rapat redaksi, hingga menemui penulis, Untitled.Press memanfaatkan sistem subsidi silang. Keuntungan yang didapat dari PO dan jasa cetak dialokasikan untuk menghidupi kegiatan operasional penerbitan hingga enam bulan kedepan.
Uniknya, tutur Ridwan, seluruh proses penerbitan Untitled.Press dilakukan secara sukarela dan kolektif. Baik dari penyesuaian tata letak, penyuntingan, desain sampul, hingga biaya cetak buku.
Namun, Ridwan merasa keterbatasan anggota menjadi salah satu hambatan. Sebab, mengharuskan satu orang merangkap berbagai tugas. Akan tetapi, Ridwan tidak memandang hal ini tidak lantas menyurutkan produktivitas anggota.
“Untitled dua bulan sekali nerbitin buku. Jadi ada 6 buku setahun yg diterbitkan. Tapi tahun ini ngerjain 7 buku.” selorohnya.
Kualitas kurasi mereka pun patut diperhitungkan. Hal ini dibuktikan melalui salah satu karya terbitan Untitled.Press berjudul “Bread Roses” karya Levia Eka Putri, yang berhasil tembus ke dalam 5 nominasi kumpulan puisi terbaik Tempo pada 2025.
Setelah setahun lebih berkarya, Ridwan bersama rekannya mulai membuat target yang lebih serius. Rencananya, pembenahan manajemen dan pembagian tugas secara merata akan mulai diberlakukan pada November ini. Selain itu, ia juga tengah mengejar legalitas penerbitan agar karya-karya yang lahir memiliki International Standard Book Number (ISBN).
Baca juga: Paradoks Tata Kelola Parkir UNJ
Ridwan mengungkapkan, ketiadaan status resmi dan ISBN sering kali menjadi hambatan besar bagi Untitled.Press. Mereka kerap terpaksa melepas berbagai proyek yang berpotensi mendatangkan pemasukan finansial yang besar hanya karena terkendala masalah administrasi tersebut.
Apabila target legalitas tersebut tercapai, Ridwan berharap Untitled.Press tidak sekadar bertahan sebagai penerbitan alternatif, melainkan mampu merambah proyek pengadaan buku berskala besar. Dengan begitu, ide yang berawal dari sekadar mengisi waktu luang ini, bisa memberikan penghasilan layak dan pasti bagi seluruh anggotanya.
“Impiannya, karena legal dan semoga dapat proyek pengadaan, Untitled bisa menggaji timnya. Selama ini kan penghasilan Untitled cuma dari proyekan saja, belum ada kejelasan masalah gaji yang pasti,” pungkas Ridwan.
Reporter/penulis: Fariansyah Muhammad
Editor: Lalu Adam Farhan

