Rimbun beringin emperan adimarga masih teringat dalam syahdu sore itu. Daun-daun tua tampak berguguran diterpa angin laut. Kemudian terkubur dalam butiran-butiran tanah lembap. Lambat laun mulai lenyap. Terurai oleh serangga dan ulat-ulat. Menjelmanya sari-sari makanan dari daun-daun tua itu. Sebagai intisari makanan yang menyuburkan tanaman di sekelilingnya. Begitu ramah ibu bumi. Satu sama lainnya saling menyayangi, sesuai dengan perannya yang organik.
Aku duduk barang dua puluh langkah dari beringin tua itu. Di antara rumah dan beringin, terhimpit rel kereta teramat panjang. Sepanjang pandangan mata tentunya.
Baca juga: Mantiq: Seni Berpikir Al-Ghazali dalam Ilmu Logika Islam
Tutur orang tua yang pernah aku jumpa di ujung lorong gang rumah, rel kereta tersebut sudah teramat sepuh umurnya. Awal mula di bangun pada 1914. Dengan melibatkan 1.570 tenaga kerja kalangan pribumi yang tak kenal lelah bekerja.
“Monyet-monyet yang kekar otot lengan dan juga pahanya itu, dengan segenap tenaga yang dimiliki, bekerja hari demi hari agar pembangunan rel kereta api dapat selesai. Sebutan “monyet” sengaja diucapkan oleh monster-monster berkulit layaknya pasir di pantai. Seakan-akan ada tembok besar yang membedakan manusia-manusia berkulit sawo matang,” ucap orang tua itu.
Dalam ingatanku lewat kisahnya, “londo-londo”—ucapan awam yang dipakai untuk mandor berkulit putih itu—sengaja menyamakan pribumi dengan monyet. Agar mereka yang berkulit putih menjelma laiknya dewa-dewa penguasa pesisir. Dengan ombaknya, dapat meluluh lantahkkan karang-karang. Yang dapat menghancurkan apa pun yang berani menghalangi. Menyerahlah segala yang dihadapi. Jiwa-jiwa, badan-badan, dan alam pikiran bumiputera. Dibuatnya tunduk, setunduk-tunduknya.
Pribumi-pribumi yang telah dibuatnya rapuh, mulai susun menyusun balok-balok besi dan kayu jati tebal yang tak terkira bilangannya. Dibuatnya dengan sejajar, tak koyak sedikitpun. Otot-otot legam bergiliran dan bergiliran. Tak jua-jua rel teramat panjang itu mencapai ujung yang telah ditetapkan.
Selama sembilan tahun lamanya. Waktu yang teramat panjang! Panjang jua derita-derita yang dialami. Sanak saudara, anak, istri terlantar sejadi-jadinya. Aduhai! Pekerjaan angkara murka apa ini. Tak menghiraukan darah-darah yang mengalir dalam hati pribumi-pribumi pekerja itu.
Syahdan, orang tua itu terdiam sejenak. Diambilnya bangku lusuh dari sudut lorong, di samping selasar rumah reyot nan kumuh, mengistirahatkan pantat yang mulai keram karena berdiri terlalu lama. Aku mendengarkan kata demi kata, kemudian menjadi susunan kalimat yang terucap dengan rapih dari lidah fasihnya. Terheran-heran. Sebab, masih kecil lah umurku ini, kecil juga pengetahuanku. Yang belum seluas pelajar-pelajar sekolah tinggi. Apalagi pelajar-pelajar sekolah dasar.
Dengan segenap upaya, aku mengingat-ingat apa yang diceritakannya. Dengan sejelas-jelasnya, dengan secermat-cermatnya. Sebab, kata guruku, pengetahuan-pengetahuan baru haruslah dicari… terus dicari. Tak kenal siapa yang mengatakan. Tetua-muda, pengemis-pengemis jalanan, supir kontainer, maupun itu seorang budak. Sampailah kita paham dengan pengetahuan. Sampai kita menjadi orang-orang terpelajar. Membangun cakrawala pengetahuan yang luas. Dengan segenap modal itu, jadilah orang bijak dengan pengetahuan. Yang tak menjadikan pengetahuan sebagai belati yang membunuh jiwa-jiwa sejahtera, jiwa-jiwa sebangsanya.
“Setelah rel teramat panjang itu selesai dibangun, tibalah saatnya kereta-kereta api silih berganti datang maupun pergi. Meninggalkan gumpalan-gupalan asap hitam dan getaran yang masih terasa setelah barang besi raksasa itu lewat. Setiap hari rasanya,” ingatku dari orang tua itu.
Kereta api itu mengangkut bahan-bahan serupa dengan biasa yang digunakan ibu sebagai bumbu penyedap makanan. Dan sekali-kali jua, kereta api itu mengangkut londo-londo—laki-laki pirang maupun perempuan-perempuan bergaun rumbai-rumbai indah memesona.
Namun, yang teringat dalam kepala, tentang kisah ihwal kereta api pengangkut bergunung-gunung rempah-rempah, kopi, teh, dan segala rupanya. Dikumpulkan dari petani-petani pedalaman Jawa yang nun jauh di sana.
Akan tetapi, nasibnya tak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh pekerja-pekerja pribumi pembangun rel kokoh ini. Penuh penderitaan dan kemiskinan. Dibawanya oleh kereta api yang berhenti di sebuah bangunan berkelir putih gading. Bangunan megah dan besar. Tak ubahnya seperti penggambaran istana-istana dalam cerita-cerita di negeri atas angin sana.
Aku pernah mengunjungi bangunan itu sesekali untuk bertamasya ke Kebun Raya Buitenzorg maupun ke sudut-sudut Batavia. Namun, acap kali melihat bangunan itu dari seberang jalan terminal, di samping angkot-angkot berkarat karena kerasnya jalanan.
Bangunan itu dilengkapi dengan jendela-jendelanya indah dengan ukiran khas. Ditopang oleh besi raksasa yang dibuatnya melengkung. Bangunan bergaya klasik art deco, ala-ala londo. Kata orang tua itu, bangunan ini dibuat khusus oleh C.W. Koch, seorang insinyur masyhur Eropa saat bangku kekuasaan Hindia-Belanda berada di pangkuan Gubernur Jenderal A.F.W. Idenburg. Tentunya dengan modal-modal yang besar, terhimpun oleh perusahaan Eropa yang besar pula, Staatsspoorwegen.
Sembari menciduk nasi dingin ke dalam piring, berlauk telur dadar bawang daun berselimut tepung, sebagai pelipur lara saat perut mulai keroncongan. Dalam genggaman nasi dan kunyahan, masih teringat jelas lanjutan cerita orang tua itu.
Kira-kira begini, ketika kereta api dengan gumpalan uap hitam berhenti, sang masinis tersentak karena kuatnya hentakan. Decit roda-roda berbahan besi menciptakan suara melengking, sehingga sangat mengganggu telinga-telinga manusia.
Setelah sepenuhnya berhenti, segerombolan pribumi segera mengerumuninya. Laki-laki berusia tua maupun muda. Himpit terhimpit di antara daki-daki dan keringat-keringat berbau tengik. Bertelanjang dada, dan hanya memakai celana usang untuk menutupi kemaluan hingga ke belakang pantat. Jua tak beralaskan sandal yang melindungi telapak kaki dari tajamnya kerikil. Teramat pedih ketika melihat tangan-tangan berkulit kasar dan pecah-pecah.
Tak berselang lama, segerombolan laki-laki pribumi mulai bergotong royong mengambil sebakul demi sebakul dari gunungan rempah-rempah di dalam gerbong-gerbong kereta. Kemudian, tangan-tangan berurat yang tampak menonjol silih berganti menghimpun dan memikul bakul yang telah penuh itu untuk diletakan ke dalam gerobak-gerobak yang telah berjejer.
Kiranya panas matari yang terserap dari atap-atap stasiun mulai membakar kerongkongan. Perlahan demi perlahan, mengeringkan dahaga. Bila tak tertahankan, dijilatnya peluh-peluh yang mengalir deras dari setiap pori-pori kulit.
Barangkali, pikir mereka, dapatlah membasuh kerongkongan yang mulai mengecil. Sebab, tidak tersedianya air bening untuk sekadar minum selayaknya. Dan tiada ucapan keluh terucap dari kedua bibir mereka. Yang tampak hanyalah wajah-wajah penuh kelelahan yang tersirat dari raut wajah. Barangkali di dalam hati kecil, mereka menangis sejadi-jadinya.
Menit demi menit terlewati. Jarum jam berdetak, menunjukan pukul tiga sore. Pekerjaan belum jua tuntas. Akan tetapi, haruslah selesai sebelum sorak sorai azan Maghrib, dan ayam-ayam mulai pulang ke dalam sangkarnya. Tak ada waktu istirahat, yang ada hanyalah kekejaman yang senantiasa menerjang tak kenal waktu.
Baca juga: Mungkin
Seru azan Maghrib pun mulai terdengar. Dan tumpukan bantalan gendut rempah-rempah dan semacamnya telah ludes. Lenyap ke dalam pelabuhan. Pada esok paginya, ketika halimun tipis masih menghias tubuh-tubuh pohon dan cakrawala alam, dibawanya ke kapal yang siap lepas landas ke negeri atas angin. Negeri asing nan miskin. Namun, menjadi kaya lantaran menghisap sari-sari kehidupan bumi putera. Yang kini hanya meninggalkan jejak-jejak kelam dan anyir. Dan guratan hitam yang bergumul di kepala.
Pada saat pendar jingga bertengger di ufuk barat, aku berucap kepada bapak ihwal kisah itu. Katanya, apa yang diriku dengar adalah benar adanya. Kisah ini memang sudah turun temurun, dan tidak tenggelam laksana arus rob mengikis daratan berpasir.
Penulis: Lalu Adam Farhan Alwi

