“Kemarin, Asa ditembak mati akibat mengadakan diskusi.”

 

Bagi mereka buku adalah sarang penyakit yang harus dibenci,

lembar demi lembar dianggap sebagai toksin yang bisa menggerogoti negeri.

Sedangkan diskusi adalah wabah yang menjalar tanpa henti,

dari bibir ke bibir yang mulai berani menyanyi,

Iklan

hingga dari telinga ke telinga yang menikmati alunan dalam sunyi.

 

Begitu sudah terinfeksi,

nyawa kami berada di ujung moncong senapan api.

Sebab di mata para babi berdasi yang gemar berpesta di atas mayat kami,

kota yang dikuasai pikiran adalah kiamat bagi tahta yang mereka agungi.

 

Maka biarlah kami semua terinfeksi,

biarlah kitab-kitab terus berpindah dari tangan yang gentar ke tangan yang berani,

biarlah keberanian menular ke yang terluka tapi tak mau mati,

Iklan

sampai intimidasi mereka tak lagi berarti.

 

Penulis: Diajeng Gihan