Laras sukan, piawai berdasi.
Beban kerjanya–cuma seuprit.
Waktu buka seiprit, waktu kenyang selangit.
Ku bertanya,
Mengapa upahku dapat segini?
Padahal sudah jalan dari buta pagi.
Yang lain sama, ikut menjerit.
Sungguh, kurang sungguh apa?
Inginnya kau,
Kuteguk aspal di jalanan setiap hari?
Mengisi tinta… lalu lukiskan peluh di jalan.
Tuhanku aplikasi, akhiratku bayaran?
Rawan duka, rawan pajak.
Kau telah duduk pondasi, kami yang terus diintimidasi.
Penulis: Atikah

