Aliansi UNJ Melawan menggelar aksi demonstrasi bertajuk “Rapor Merah 2 Tahun Prabowo-Gibran” di kawasan Jalan Pemuda, Jakarta Timur, pada Kamis (22/10). Aksi yang diikuti oleh puluhan mahasiswa ini menyoroti sejumlah kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran yang dinilai bermasalah.

Titik aksi dimulai dari area Teater Terbuka Kampus A Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada pukul 15.50 WIB. Massa aksi kemudian melakukan long march melewati Jalan Pemuda menuju kawasan Utan Kayu sebelum akhirnya kembali ke titik awal pada pukul 18.30 WIB.

Baca juga: Nasionalisme melalui Eko-Etnolinguistik Masyarakat Dayak dalam Mencegah Karhutla

Koordinator lapangan, Zaki, menuturkan, aksi tersebut merupakan respons dari buruknya kerja pemerintahan rezim saat ini. Ia menyebut, aksi ini membawa lima tuntutan utama.

Adapun, tuntutan terdiri dari penetapan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional dan pengusutan tuntas pelaku dibaliknya. Selain itu, massa aksi meminta pengembalian dana pendidikan, penghentian militerisme di ranah sipil, hingga evaluasi efektivitas anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Sebaik-baiknya kabar adalah komunikasi yang transparan ke rakyatnya. Jika tidak transparan terhadap publik, apa gunanya?” ujar Zaki.

Iklan

Zaki menegaskan aksi hari itu hanyalah pembuka dari rangkaian penolakan terhadap kebijakan pemerintah. Menurutnya demonstrasi tersebut akan terus berlanjut jika pemerintah tidak segera menanggapi tuntutan massa aksi.

Zaki menambahkan, demonstrasi akan kembali dilakukan pada tanggal 28 Oktober. Dirinya menyebut akan membawa massa aksi yang lebih banyak untuk aksi demo yang akan dilakukan kedepannya.

“Satu kata untuk pemerintahan Prabowo, berbenahlah,” tegasnya.

Komandan Pasukan Biru Fakultas Teknik (FT), Lisa, menuturkan bahwa massa aksi melakukan pembakaran ban sebagai bagian dari aksi simbolik. Aksi tersebut, lanjut Lisa, diberi nama “Indonesia Lautan Api”.

Lisa menjelaskan, pembakaran ban dalam aksi tersebut merupakan simbol kondisi Indonesia yang tengah dilanda karhutla. Menurutnya, kebakaran yang terjadi di berbagai wilayah belum ditangani secara tuntas oleh pemerintah.

“Ini sebagai simbolik kalau negara kita sedang terbakar oleh orang-orang yang berkepentingan,” ujar Lisa.

Lisa menyebut, kepolisian sempat berupaya memadamkan api secara paksa menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Upaya tersebut memicu kericuhan dan kepanikan di tengah massa aksi hingga sejumlah peserta mengalami sesak napas akibat kepulan asap pembakaran.

Lisa menjelaskan, sebagian besar massa aksi yang hadir pada sore itu merupakan perempuan. Menurutnya, mereka turun ke jalan karena geram terhadap kondisi dan kinerja pemerintah saat ini.

“Jadi banyak perempuan yang kena, karena memang mereka tadi banyak di barisan depan,” terang Lisa.

Salah satu mahasiswi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) angkatan 2026, Belly, turut mengikuti aksi demonstrasi karena merasa resah terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Ia menilai kondisi pemerintahan saat ini menunjukkan kegagalan dalam menjalankan tugasnya.

Iklan

Belly menyoroti respons pemerintah yang dinilai tebang pilih dalam menangani berbagai persoalan. Menurutnya, pemerintah cenderung lambat dalam menanggulangi krisis ekologis, tetapi sigap meredam kritik publik.

“Jika melihat respon pemerintah terhadap masalah hari ini tuh sangat miris,” keluh Belly.

Baca juga: Bagaimana Pemerintah Membakar Hutan Indonesia?

Lebih lanjut, Belly menyampaikan harapannya agar semakin banyak mahasiswa yang tergerak untuk turun aksi. Ia juga berkeinginan kampus-kampus lain berani turun langsung ke jalan untuk menyuarakan aspirasi rakyat yang selama ini tidak terdengar.

Belly menilai, masih banyak mahasiswa UNJ yang belum menyadari kondisi Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja. Ia menegaskan bahwa pergerakan mahasiswa untuk melawan harus terus berlangsung agar Indonesia tidak kehilangan harapan untuk berubah.

“Apa gunanya kita jadi mahasiswa tapi kita gak bersuara,” pungkasnya.

Reporter/penulis: Damar Wisnuaji & Naufal Muchali

Editor: Khalda Syifa