Judul: Kebesaran & Batas-Batas Pemikiran Freud
Penulis: Erich Fromm
Penerbit: IRCiSoD
Tahun Terbit: 2020
Jumlah Halaman: 242
ISBN: 978-623-7378-28-0
“Orang yang bekerja lama dengan saya tahu bahwa saya termasuk susah kasih nilai. 98 dimiliki Presiden Republik Indonesia. 98.”
Kalimat tersebut diucapkan Presiden Prabowo Subianto di acara peluncuran buku karya Menteri Bahlil Lahadalia pada Jumat, (7/8). Ia memberikan nilai 98 atas kinerja dirinya sendiri selama menjabat sebagai Presiden. Ia tampak begitu percaya diri, seolah-olah kinerjanya nyaris sempurna mendekati angka 100 yang Prabowo sebut hanya milik Tuhan.
Padahal, dua minggu sebelumnya, hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan kepuasan publik terhadap kinerja Prabowo justru merosot drastis. Tercatat kepuasan publik pada November 2025 mencapai 81,2% menjadi 51% pada Juli 2026. Penurunan sebesar 49% ini disebabkan buruknya kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum saat ini.
Baca juga: Mengkritisi MBG dan KDMP melalui Kacamata Marx
Namun, tembok keyakinan diri yang dimiliki Prabowo luar biasa tebal bak tahan banting terhadap segala bentuk kritik. Alih-alih terbuka terhadap kritik yang datang, ia seringkali meresponsnya dengan defensif dan menganggapnya sebagai serangan pribadi.
Misalnya, ketika program unggulannya yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) dikritik sebab dianggap bermasalah dan bahkan dicurigai memiliki celah korupsi. Ketimbang menerima kritik publik sebagai bahan evaluasi, dirinya justru menganggap kritikan itu sebagai serangan personal atas ketidaksukaan seseorang terhadapnya.
Seorang filsuf sekaligus psikoanalis, Erich Fromm, mengidentifikasi perilaku Prabowo sebagai tindakan orang yang narsistik. Ia membagi konsep narsisme menjadi dua bentuk, yaitu narsisme individu dan narsisme kelompok, yang keduanya lekat dengan sikap Prabowo. Konsep narsisisme ini dijelaskan Fromm dalam bukunya berjudul “Kebesaran dan Batas-Batas Pemikiran Freud”.
Kepercayaan Diri Tak Sesuai Realita
“Di dalam hal apa Freud mempersempit konsep-konsepnya? Lagi-lagi, seperti halnya dengan begitu banyak konsep-konsepnya yang lain, dengan memaksa konsep-konsep itu ke dalam kerangka teori libido,” hlm. 79.
Fromm membangun analisisnya melalui teori narsisme yang dicetuskan Sigmund Freud. Narsissisme, menurut Freud, adalah kondisi ketika energi cinta (libido) yang seharusnya diarahkan pada orang lain justru terserap kembali ke dalam diri. Dalam praktiknya, segala kegiatan manusia yang berorientasi pada dirinya sendiri, bahkan seperti makan dan tidur disebut narsisme. Jadi semua orang, bagi Freud secara mutlak memiliki narsismenya masing-masing sebagai bentuk insting bertahan hidup.
Namun Fromm mengkritik teori narsisisme Freud yang menggambarkan manusia hanya digerakkan oleh insting biologis semata. Menurut Fromm, justru narsisisme itu berkaitan dengan cara berpikir manusia, yaitu adanya kegagalan akal untuk melihat realitas secara objektif.
Akal sendiri, menurut Fromm, adalah alat untuk mengenali realitias objektif tanpa campur tangan kepentingan dari diri sendiri. Ketika akal ini mengalami disfungsi, seseorang akan menganggap dunia luar itu dengan istilah abu-abu atau nyaris tidak ada.
Sebaliknya, ia hanya memikirkan soal pikiran, perasaan, ataupun ambisi dirinya sendiri yang benar. Karena itu, orang yang narsistik parah, secara total tidak akan memikirkan kondisi orang lain sama sekali.
Fromm mencontohkan bahwa narsisisme sering ditemukan di kalangan politisi sukses. Sebab, para politisi sering kali terlihat pandai pencitraan melalui pidato dan pawai mengambil hati masyarakat di ruang publik. Padahal, di belakang itu, perilaku tersebut seringkali sarat akan tujuan politis mereka.
Meskipun orang narsistik bisa sukses, seperti politisi, tetap saja narsisisme pada dirinya akan berkonflik dengan akal. Dampaknya, orang tersebut akan cenderung melebih-lebihkan nilai berdasarkan pemikirannya sendiri. Ia terjerembab pada asumsi bahwa keberhasilan telah tercapai oleh karena pemikirannya, bukan dengan kenyataan yang sebenarnya.
“Sama pentingnya ialah kontradiksi di antara narsisisme dengan akal,” hlm. 87.
Sementara itu, menurut Fromm, narsisisme kelompok adalah cara yang dipakai seseorang dengan prestise yang kecil, namun ingin menunjukkan eksistensinya. Mereka akan menyatukan dirinya ke dalam sebuah kolektif, seperti bangsa, agama, atau partai politik. Dengan begitu, mereka merasa tidak perlu lagi berprestasi secara individu karena sudah merasa hebat hanya dengan menjadi bagian dari kelompok besar tersebut
Akan tetapi, Fromm menyebut, jika kritik datang pada kelompok tersebut, orang yang berlindung di baliknya akan merasa diserang secara personal. Hal ini mirip sekali dengan respons Prabowo terhadap program yang ia buat, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG).
Prabowo menegaskan bahwa negara-negara maju dan demokratis pasti memiliki program makan siang di setiap sekolah. Bahkan, ia mengklaim program unggulannya ini sudah berhasil nyaris 100%, karena secara kuantitas, produksi MBG Indonesia berhasil mengalahkan negara-negara pendahulu, seperti Jepang dan negara Eropa.
Baca juga: Untitled Press: Penerbit Independen di Tengah Mahalnya Biaya Publikasi
Padahal, di balik itu semua, program ini masih memiliki banyak kekurangan. Besaran produksi MBG justru berdampak pada banyaknya kasus keracunan. Menurut data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia, hingga Agustus 2026, total korban keracunan sejak tahun 2025 sudah mencapai 40.000 lebih. Ditambah lagi, adanya dugaan korupsi secara masif pada anggaran MBG.
Meski sistem tata kelola MBG masih buruk, namun klaim pemerintah bahwasanya MBG “mengalahkan negara maju” membuat seolah program ini berhasil total. Akibatnya, kritik publik terhadap program MBG justru dianggap serangan personal kepada Prabowo.
Dalam buku ini, Fromm memiliki kemampuan yang bagus untuk membedah fenomena yang awalnya fokus pada individu dan dikaitkan dengan sosial yang kemudian menjadi sebuah teori. Sehingga, mungkin teori dia dapat dijadikan pisau analisis. Namun, penjelasannya dalam buku ini kurang menyediakan solusi atau tawaran yang jelas tentang bagaimana mengubah masyarakat dari akarnya.
Penulis: Audy Gemaria
Editor: Zidnan Nuuro

