Aliansi UNJ Melawan menggelar kegiatan mimbar bebas dalam rangka memperingati September Hitam pada Kamis (24/9) di Teater Terbuka Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Mengusung tema “Melawan Luka Menolak Lupa”, kegiatan tersebut diisi dengan orasi, pembacaan puisi, serta aksi simbolik tabur bunga.
Ketua Green Force UNJ, Dafa Rizki Akbar menyampaikan kegiatan ini dilakukan untuk mengingat kekerasan negara atas orang-orang yang berani bersuara di masa lalu. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bentuk refleksi atas tragedi pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang telah terjadi di negara ini.
Baca juga: Semak dalam Ingatan
“Untuk agenda September Hitam, kita kembali mengingat tragedi-tragedi pelanggaran HAM yang terjadi selama bulan September. Kita melawan lupa dan menolak bungkam,” ungkap Dafa kepada Tim Didaktika pada Kamis (24/9).
Lebih lanjut, Dafa mengatakan, orasi tersebut membawa sejumlah tuntutan terkait pelanggaran HAM, perlindungan korban, kebebasan demokrasi, dan pembebasan tahanan politik. Selain itu, dengan bertepatan dengan Hari Tani, kegiatan ini juga membawa tuntutan agraria.
Dafa menyebut, kegiatan ini merupakan hasil dari rangkain konsolidasi yang dilakukan sejak Kamis pekan sebelumnya. Konsolidasi tersebut kemudian dilanjutkan pada Senin (21/9) sebagai persiapan sebelum pelaksanaan kegiatan.
Dafa menjelaskan, kegiatan di halaman Teater Terbuka tersebut awalnya direncanakan berlangsung di Plaza UNJ. Namun, lokasi kemudian dipindahkan karena adanya benturan dengan kegiatan lain. Pemilihan waktu pukul 16.00 WIB sendiri ditentukan untuk menyesuaikan dengan waktu luang mahasiswa setelah kegiatan perkuliahan.
Konsolidasi sendiri, lanjut Dafa, melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas yang tergabung dalam Aliansi UNJ Melawan. Ia mengatakan, keterlibatan mahasiswa tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan September Hitam.
Selain dari tuntutan-tuntutan yang disampaikan, Dafa berharap kepada negara untuk lebih peduli terhadap kasus pelanggaran-pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Ia berharap gerakan-gerakan seperti ini dapat terus tumbuh dan berkembang di kalangan mahasiswa.
“Harapannya untuk negara, kita mendorong agar lebih peduli terhadap pelanggaran HAM dan tidak mengulangi kejadian yang sudah terjadi. Untuk UNJ sendiri, semoga gerakan seperti ini terus tumbuh dan berkembang di kalangan mahasiswa agar kita bisa terus bersuara,” harapnya.
Sementara itu, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Aurel turut menyampaikan pandangannya mengenai kegiatan tersebut. Ia mengungkapkan, keikutsertaannya dalam kegiatan ini merupakan bentuk keresahan pribadi atas kekerasan negara terhadap para aktivis.
Aurel turut membacakan puisi karya mahasiswa baru (maba) dari program studinya yang berhalangan hadir. Ia yakin, pembacaan puisi ini menjadi bentuk keterwakilan atas keresahan bersama.
Bagi Aurel, kegiatan tersebut memberinya ruang untuk mengenal dan memahami berbagai persoalan yang sebelumnya belum ia ketahui. Ia menilai, keberanian untuk menyuarakan persoalan menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran mahasiswa terhadap isu-isu yang terjadi di lingkungan sekitar.
Aurel memandang, mimbar bebas menjadi salah satu wadah bersama untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap berbagai isu HAM di Indonesia. Ia juga percaya kegiatan serupa bisa mendorong keberanian mahasiswa untuk bersuara.
Baca juga: Mantiq: Seni Berpikir Al-Ghazali dalam Ilmu Logika Islam
Aurel berharap kegiatan seperti September Hitam dapat terus berkembang dan dilaksanakan secara lebih merata di lingkungan kampus. Menurutnya, kekompakan mahasiswa diperlukan agar gerakan dan kesadaran terhadap berbagai isu dapat terus tumbuh.
“Harapannya bisa menjadi lebih kompak dan merata, karena kejadian-kejadian seperti ini tidak bisa kita lupakan,” pungkasnya.
Reporter/penulis: Rafly Alfakhri Denathaniel Putra Elneellra dan Idrus Cahyo Makkasau
Editor: Ramadhan Alderisyah

